
Sesuai jadwal yang telah di sepakati, hari ini Syifa mengajak Bagas ke Rumah sakit. Mereka menemui Dokter Taufik, ahli ortopedi. Mereka mulai bekonsultasi mengenai perkembangan yang dialami Bagas.
"Tangannya, coba di gerakkan?" pinta Dokter Taufik.
Bagas menurutinya, Ia mulai menggerakkan jari-jari tangan keatas dan kebawah.
"Bagus, coba buat jari telunjuk menyentuh jempol." himbau dokter lagi. Dan Bagas kembali menurutinya lagi, dan berhasil.
"Fa, ajak Bagasnya ke brankar. Kita akan uji kekuatan ototnya." himbau Dokter Taufik.
Syifa mengangguk. Bagas Ia pindahkan ke brankar, dan mendudukkannya disana.
Beberapa perawat mulai memasang beberapa alat. Alat berupa tali yang elastis, dan diikatkan ke ujung brankar. Lalu, ujung yang lain yang memiliki pegangan, dipasangkan di pergelangan tangan Bagas. Beberapa kali gagal, hingga Bagas lelah.
"Ayo, coba." ucap Dokter Taufik.
Syifa ingin mengambilkan talinya, tapi Dokter melarang. Ia ingin Bagas mandiri, dan berjuang demi kesembuhannya sendiri. Syifa pun diminta menunggu di kursinya, memperhatikan Bagas dengan terus memberi kabar Mama Ayu yang jauh disana.
"Bagas diapain?" tanya Mama Ayu.
"Latih otot tangan, Ma. Doakan lancar, Syifa ngga boleh bantuin." jawab Syifa, bahkan mengirim sedikit rekaman untuknya
Mama Ayu terenyuh, melihat perjuangan anaknya untuk sembuh. Berat, tapi Ia tetap berusaha meski terengah-engah.
Kaki Bagas dibuat lurus, Ia berusaha menarik tali karet sekuat tenaga. Perlahan tapi pasti, setidaknya Ia dapat menariknya. Pinggangnya pun terasa nyeri, bahkan air matanya keluar dengan rasa yang Ia derita.
__ADS_1
"Aaakkhhh....!" pekiknya begitu berat.
"Bagus..." puji Dokter padanya.
Bagas nenarik nafas panjang, dengan peluh membasahi dahi dan pipinya. Syifa segera menghampiri, dan mengusapnya dengan lembut.
"Sakit?"
"Dikit. Mungkin karena kelamaan duduk sama tidur." bisik Bagas.
Untungnya Syifa membawa baju cadangan, dan langsung menggantikan pakaian yang basah itu.
Bagas lalu ditidurkan, Dokter mulai mengecek keadaan kakinya. Dengan refleks hammer, Ia menggelitik kaki Bagas. Tapi, belum ada respon sama sekali.
"Sabar... Anggap saja prosesnya seperti bayi. Belajar bicara, duduk, dan merangkak, hingga akhirnya bisa berjalan." ucap dokter, berusaha menenangkan.
Lagi dan lagi, hanya bisa menghela nafas panjang karena itulah kenyataannya. Tak ada keajaiban yang terlalu instan, pasti semua akan berproses, seperti yang diucapkan Syifa padanya.
"Fa... Demi menghindari Osteoporosis dini pada Bagas, sebaiknya belikan vitamin atau bahkan susu untuk kesehatan tulang. Kamu mengerti 'kan?"
"Ya, mengerti." balas Syifa, dengan berusaha menurunkan Bagas dari brankarnya.
Posisi Brankar sedikit tinggi, tak seperti tempat tidur di rumah. Sedikit sulit untuk Bagas turun, dan Syifa menerimanya.
"Eh, Eh...." pekik Syifa, yang nyaris jatuh karena oleng, tapi dapat teratasi.
__ADS_1
"Ah, untung ngga jadi jatuh." ucap Syifa, dengan nafas lega
"Ma-kasih..." ucap Bagas tersengal. Ia pun berhasil duduk lagi dikursi nya, lalu dorong untuk menjumpai Dokter.
"Ini, resep vitamin. Beberapa obat dari Dokter saraf diteruskan saja. Jangan sampai telat."
"Iya, terimakasih, Dok." jawab Syifa.
Mereka pun keluar, berjalan menyusuri lorong Rumah sakit berdua.
"Ngapel Apotek lagi kita." canda Syifa.
"Obatnya, kenapa makin banyak, Fa?"
"Lah, iya. Kan dari dokter saraf diterusin, dari dokter ortopedy ditanbahin."
"Kalau ngga minum obat, apa ada sesuatu? Aku bosan."
"Jujur, Syifa juga bosen ngerawat Mas. Apalagi, kalau lagi cerewet. Bikin pusing."
Bagas memasang wajah datar. Tangannya bergerak menggerayapi tangan Syifa, lalu mencubitnya kecil.
"Aaakkh... Lagi deh. Bibit-bibit KDRT." ucap Syifa kesal.
Bagas hanya tersenyum. Ia begitu gemas ketika mendengar semua omelan Syifa. Lebih dari sebuah suara musik yang Ia dengar di sepanjang jalan raya yang ramai.
__ADS_1