
Syifa memandangi kamar yang luas itu. Yang jelas hampir beda jauh dengan kamar yang Ia tempati saat ini. Tapi, bukan karena tak diizinkan, melainkan untuk menghindari kelelahan ketika Ia harus naik turun tangga nantinya.
Buuuuggg!! Reza menurunkan Bagas di tempat tidur nya yang mewah dan empuk. Ia pun langsung memijat lengan dan pundaknya yang terasa bergitu lelah menggendong sepupunya itu.
"Berat juga. Gue fikir, setelah sakit jadi makin enteng. Rupanya makin berat." ledeknya pada Bagas.
"Ifa suka kamarnya?" tanya Bagas.
"Suka, Mas. Besar, nyaman, dan begitu bagus setiap tatanannya." puji Syifa.
"Iya lah, Luna yang menata." sahut Reza.
"Za!!!"
"Ya, meski ngga kesel sama orangnya, basicly karyanya bagus. Ngga papa sih, mau di rubah juga sayang." jawaban cerdas dari Syifa.
"Pinternya istriku." puji Bagas, memancing lirikan geli dari Reza.
"Eeh, udah. Ayo beres-beres. Dikirain ngga ngantuk apa, kerja dari siang sampe pagi." lerai nya pada sepasang suami istri itu.
Syifa pun mulai membuka lemari. Dikeluarkannya pakaian wanita yang ada di sana. Kabarnya, Luna sering menginap jika Mama dan Papa tak ada di rumah. Apalagi, jika Bagas pun pergi, maka Ia akan menginap beberapa lama disana. Bertingkah layaknya seorang Nyonya besar, bahkan tak jarang membawa para kelompok sosialitanya untuk berkumpul. Itu yang di ceritakan Bik Darmi.
"Mas Reza..." panggil Syifa.
__ADS_1
"Baju Luna, modis-modis ya? Ngga ada yang jelek satupun. Eh, sederhana maksudnya." bisik Syifa.
"Ya gitu, deh. Dia memang selalu ingin tampak glamour dan menjadi pusat perhatian orang lain. Apalagi......"
"Apa?" tanya Syifa.
"Dulu, sebelum kenal kamu, Bagas itu seperti es batu. Beku, dan dingin. Kadang heran aja, ketika Dia begitu berbeda sama kamu. Apakah, kepalanya terbentur? Atau, mengalami sedikit amnesia?"
"Engga... Di catatan ngga ada benturan kepala. Mana mungkin amnesia."
"Berarti, memang kamu yang membuatnya seperti ini."tawa Reza.
" Tak sadarkah kalian, ketika yang kalian bicarakan ada di belakang?" tegur Bagas dengan lirikannya yang mematikan.
" Sssssttt.. Dia denger." goda Reza.
"Mau atur jadwal pemotretan?"
"Buat apa?" tanya Syifa.
"Kita buat foto yang besar, lalu kita pajang di sana." tunjuk Bagas, ke arah yang tepat di depannya, pada sebuah dinding kosong.
Syifa menghampiri Bagas. Ia lupa jika Reza masih membereskan sisa-sisa barang yang ada disana. Ia duduk di sebelah Bagas, berbantal tangan mengikuti arah yang Bagas tunjukkan padanya..
__ADS_1
"Kita buat foto besar, kita pajang dan dibuat seindah mungkin. Kamu nanti pakai gaun yang cantik."
"Iya lah, pakai gaun cantik. Foto pernikahan kalian kan ngga ada." batin Reza mencibir.
"Iya, tapi nanti. Kalau Mas udah agak sehat. Apalagi kalau....."
"Kalau apa?" tatap Bagas manis pada sang istri.
Bagas mendekatkan wajahnya pada Syifa. Gadis itu pun memejamkan sedikit matanya, pertanda Ia siap menerima apa yang Bagas lakukan padanya. Makin lama makin dekat, hingga mereka tak berjarak.
"TANTE.....! Bagas nih, jahat sama Reza!" pekik Reza, mengagetkan pasangan bucin itu.
"Lah, loe masih disitu, Za? Kiraih udah pergi." tanya Bagas, tanpa rasa bersalah sama sekali.
"Jahat emang. Jahat kalian berdua!"
Syifa pun terkekeh melihatnya. Lalu Ia turun dari ranjang, dan kembali membantu Reza untuk membereskan semuanya.
Syifa terus menggoda Reza, yang sedari tadi mengerucutkan bibirnya.
Lucu dan menggemaskan, apalagi Reza memang manis ketika tersenyum.
"Ternyata lebih imut kalau cemberut." goda Syifa.
__ADS_1
Kekesalan berubah menjadi tawa kembali diantara mereka. Bagas bahagia, meski hanya melihat dari kejauhan semua itu.
"Maaf, Za. Maaf jika sampai sekarang belum bisa mempercayaimu setutuhnya. Hati kecil ini masih ragu, dan begitu berat rasanya." sesal Bagas dalam hati.