Suamiku Pria Lumpuh

Suamiku Pria Lumpuh
Punya anak banyak yuk, Mas?


__ADS_3

Syifa tertidur bersama Brey di sebelahnya. Sedikit meringkuk dengan lengan melengkung di sekeliling Brey yang juga begitu nyenyak tidurnya.


Bagas datang, baru saja pulang dari kantonya akibat pekerjaan yang begitu menumpuk. Ia pun berusaha dengan sangat keras, agar bisa pulang tepat waktu untuk Syifa dan anak mereka. Semua lelah pun hilang, melihat keduanya terlelap dengan begitu menggemaskan.


"Bagas, sayang... Kamu sudah pulang?" panggil Mama Ayu.


"Sssttt, Ma... Ifa sama Brey lagi tidur. Lihat, nyenyak banget." tegur Bagas pada sang Mama.


Mama Ayu menengok keduanya. Ya, memang begitu pulas dan nyenyak. Apalagi Brey, yang tampak begitu tenang dalam pelukan Maminya.


"Kirain kemana, taunya diambil. Yaudah, Bagas sama Mama aja. Ayo mandi, biar Mama siapin pakaiannya." pinta sang Mama, dengan suara lirih. Dan Bagas pun mnurutinya.


Namun, Ia tak dapat menahan gemasnya pada sang istri. Ia mendekat, dan duduk tepat di sebelahnya tidur. Menyelimuti dan beberapa kali mengecup pipinya dengan begitu gemas. Wajar saja, karena Ia tengah berpuasa selama Dua minggu. Dan masih Dua minggu lebih lagi waktunya untuk berbuka.

__ADS_1


Syifa menggeliat geli, nyaris saja tubuhnya menyenggol Brey. Tapi, Bagas segera mencegah dengan tangannya yang menahan tubuh Syifa. Syifa merasakan hal itu, langsung terkejut dan bangun menatap suaminya. Mengulas senyum yang begitu manis, dan mengusap lembut wajah yang mulai kasar itu.


"Tidur lah lagi, Ifa lelah. Maaf, sudah mengganggu." lirih Bagas. "Aku, hanya rindu."


"Iya, tahu. Sabar, ya... Sebentar lagi." kecup Syifa di bibir suaminya, mengundang rengekan Brey yang seolah cemburu dengan pemandangan itu.


"Dasar... Belum apa-apa, sudah berani merebut perhatian Mami," ledek Bagas pada Baby mungilnya. Ia pun tersenyum, meraba sedikit wajah mungil itu dengan jarinya, membuat Brey sedikit tenang dan kembali tidur.


"Cemburu, sama anak sendiri?"


"Cukur juga, itu udah mulai tumbuh jenggotnya. Kasihan, Brey."


"Hhhh," bagas mendengus kesal, "Iya," jawabnya singkat, lalu berdiri kembali untuk pergi ke kamar mandi.

__ADS_1


Syifa kembali merebahkan dirinya. Tubuhnya serasa sakit semua dan lelah karena Brey rewel ketika malam. Itu mungkin karena tali pusarnya yang belum lepas, hingga membuatnya nyeri di pusarnya.


Bagas di kamar mandi, tengah mengguyur tubuhnya dengan shower yang dingin. Dalam keadaan ini, rasa rindu begitu membelenggu. Tapi harus Ia tahan karena keadaan. Apalagi, Ia menyaksikan Syifa kala itu, dan seakan tak sama sekali tega untuk menyakiti nya lagi.


"Dia yang lahiran, kenapa aku yang trauma? Apa mau, anak satu saja? Kalau aku terbiasa, menjadi semata wayang." gumamnya.


Tak lupa Ia menuruti permintaan sang istri. Membersihkan wajahnya yang mulai kasar dengan bulu-bulu yang akan semakin panjang jika dibiarkan. Apalagi, Ia yang selalu gemas dengan Brey, akan membuatnya iritasi di kulit yang sensitif itu.


*


Senja datang. Mama Ayu membangun kan Syifa dan Breyhan. Menggendongnya sembari mendengarkan adzan maghrib yang berkumandang. Sedangkan Syifa, tengah bermanja dengan pijatan kaki dari suaminya.


"Aaah, enaknya seperti ini. Selalu dimanja, dan diperhatikan. Punya anak banyak-banyak yuk, Mas. Biar Mas selalu memanjakan diriku," kedip manja Syifa pada suaminya.

__ADS_1


Plaaak! Bagas spontan menepuk kaki Syifa yang tengah dalam pangkuannya.


"Baru satu aja, aku yang kebayang-bayang, Fa. Apalagi banyak," tukas Bagas, melotot dengan segala cemas nya.


__ADS_2