Suamiku Pria Lumpuh

Suamiku Pria Lumpuh
Ekstra part 6


__ADS_3

"Mas, kenapa di matiin? Aku lagi ngobrol sama temen."


"Cowok?"


"Mas, temen kuliahku bukan cuma cewek, Mas. Kok jadi gini?" keluh Olin.


"Gini apanya? Kenapa sama temen cowok seakrab itu?" Reza tampak begitu cemburu saat ini.


Olin tampak bingung saat ini. Reza tampak begitu berubah, padahal tak pernah sekalipun Ia seperti itu.


"Oke, Mas, gini. Itu namanya Doni, dan Doni itu adalah ketua dalam kelas kami. Aku lagi izin, karena akan datang telat, nanti. Please, Mas."


Reza bergeming. Ia memberikan Hp Olin dan diam selama beberapa menit, lalu melangkahkan kakinya keluar.


"Ayo kita meeting. Semua sudah menunggu di ruangan." ucapnya.


Olin hanya menggelengkan kepalanya, lalu Ia membereskan semua dokumen yang memang diperlukan dalam meeting itu. Ia kemudian setengah berlari, mengikuti Reza yang berjalan dengan langkah begitu cepat darinya.


Rapat dimulai. Reza pun masih dengan mode seriusnya dalam semua pekerjaan. Hanya saja, masih seperti menahan sesuatu pada Olin. Seperti beribu pertanyaan yang sebentar lagi akan meledak dari bibirnya.


"Mas, kenapa?" tanya Olin, ketika membereskan ruangan rapat itu.


"Aku cemburu." Reza begitu jujur dengan perasaannya.

__ADS_1


Olin menghela nafas panjang, duduk disamping Reza, kemudian menumpangkan dagu di bahu kekasihnya itu.


"Kenapa cemburu?"


"Karena kamu kekasihku. Bisa kah, tak ada pria lain?" pinta Reza.


"Untuk sekarang belum, Mas. Aku masih kuliah, dan aku butuh mereka semua untuk kelompokku."


Reza menoleh, dan menatap tepat di depan mata Olin.


"Aku, sudah begitu ingin menikahimu. Tapi kau terus saja menolak."


"Bukan menolak, hanya mengundurnya sebentar. Aku ingin menyelesaikan kuliahku dulu. Aku ingin sejajar denganmu. Terutama dalam pendidikan. Hanya tak ingin, semua membandingkan kita. Tak enak rasanya."


"Aku hanya ingin mengikatmu, dan berkata pada dunia jika kau milikku."


"Ya, aku faham. Bukankah, kita akan berbagi kemalangan kita? Harusnya saling mengerti."


Reza mengusap rambut Olin dengan mesra. Suasana yang sepi, membuat nya begitu ingin mengecup bibirnya sedikit saja. Ia pun mendekat, semakin mendekatkan bibirnya pada Olin. Nyaris menempel, hingga sebuah suara gigitan renyah mengganggu fokus mereka.


" Olin lapar?"


"Engga..." gelengnya.

__ADS_1


"Ini suaraku, menggigit mangga muda dengan begitu nikmat. Kalian sedang apa?" tanya Bagas, yang kini berada ditengah mereka.


Reza tersentak kaget, apalagi Olin yang nyaris jatuh dari tempat duduknya. Berusaha mengatur nafas yang tersengal agar tak pingsan karena semua rasa kagetnya.


" Bisa ngga sih, masuk ketuk pintu dulu?" Reza mencebik bibirnya.


"Tidak... Ini ruangan umum, tepat ada di kantorku. Justru kalian, kenapa berdua disini?"


Bagas mengunyah mangga mudanya dengan begitu nikmat. Seolah tak ada rasa asam sama sekali di lidahnya. Bagai tengah menggigit buah apel yang begitu segar. Bahkan Reza pun bergidik melihatnya.


"Kenapa menatapku? Aku tanya padamu dan belum kau jawab? Sedang apa berdua? Ada rapat tambahan?" tanya Bagas, dengan wajah datarnya.


"Curi-curi kesempatan." jawab Reza dengan jujur.


Bagas melotot, semakin tajam kearah Reza. Sedangkan Reza dan Olin, hanya meneguk salivanya masing-masing, takut jika Bagas akan menghukum mereka berdua nantinya.


"Pulang ke ruangan masing-masing."


"Apa?" Reza memicingkan mata, tak percaya dengan apa yang Ia dengar.


"Ya, pulanglah ke ruangan kalian masing-masing. Aku, sedang tak ingin berdebat sekarang. Aku lapar, dan hanya ini yang dapat ku makan. Haish, rasanya menyiksa sekali." gerutu Bagas.


Olin kemudian berdiri, lalu berlari meninggalkan Reza disana.

__ADS_1


"Hey, dasar penghianat."pekik Reza pada kekasihnya itu.


__ADS_2