Suamiku Pria Lumpuh

Suamiku Pria Lumpuh
Pujian untuk Syifa


__ADS_3

"Maaf, dingin soalnya." jawab Syifa.


Bagas hanya menghendus nafas kesal. Ingin menjitak Syifa, tapi tak tega karena melihatnya sudah menggigil kedinginan.


"Yasudah, bawa aku ke kamar. Apa, kamu mau mandi sekarang juga ngga papa." ucap Bagas


Syifa hanya mengangguk, lalu memakaikan handuk kimono pada tubuh Bagas. Ia pun menyingkirkan Bagas sedikit jauh, agar tak kembali basah dengan kucuran air yang dipakainya untuk mandi.


Setelah selesai, Syifa menghampiri Bagas yang telah menunggunya untuk keluar bersama.


"Aku ganti baju duluan, nanti baru bisa ngerjain, Mas. Tunggu, ya?" ucap Syifa.


Bagas meng'iyakan. Meski sudah kedinginan, tapi Ia tetap menuggu Syifa. Andai Ia bisa, pasti akan berusaha lebih mandiri dan tak terlalu merepotkan istrinya itu saat ini.


Syifa yang telah rapi, lalu memakaikan pakaian untuk Bagas. Sebuah kaos oblong, dengan sweater panjang dan celana Hoodie pendek Ia pakaikan pada suaminya itu. Tak lupa, memasangkan selimut di kakinya.


"Abis ini, mau apa?" tanya Syifa.


"Pengen jalan-jalan keliling kompleks. Mau 'kan?"


"Oke... Aku pakai blezer dulu, dingin soalnya." ucap Syifa.

__ADS_1


Sore hari memang begitu cerah saat ini. Mereka keluar rumah tak lain karena ingin menghangatkan badan setelah menggigil karena main air barusan.


"Tumben ramai diluar?" tanya Bagas pada Syifa.


"Mungkin, karena ini week end. Sabtu 'kan?"


"Oh, iya. Sampai lupa hari karena ngga pernah keluar." balas Gibran.


Beberapa yang melihat mereka berjalan, menegur dengan ramah. Tapi, ada juga yang cuek seolah tak melihat mereka sama sekali.


"Eh, Mas Bagas. Bagaimana keadaannya? Makin segar tampaknya?" tanya seorang tetangga yang ramah.


"Mba ini, Istrinya? Wah, cantiknya. Udah cantik, tulus begini, jangan sampai disia-siakan, Mas." pujinya pada Syifa.


Bagas hanya tersenyum dan mengangguk, begitu juga Syifa. Ia tersipu atas pujian demi pujian yang di lontarkan padanya itu.


"Iya, Pak terimakasih atas pujiannya." ucap Syifa. Lalu, Ia kembali berjalan mengikuti jalanan yang ada di depannya itu. Hingga bosan, lalu kembali pulang ke rumah.


"Mujinya udah tadi, masih ngembang aja ikan fugunya?" tanya Bagas.


"Ngembang apaan? Biasa aja juga."

__ADS_1


"Itu..." tunjuk Bagas.


"Jangan mudah terkesima hanya dengan sebuah pujian, Fa. Kadang itu bisa menjatuhkan kita tanpa sadar."


"Iya, Ifa tahu. Tapi kadang sesekali memang butuh pujian, meski kita tahu itu bohong. Setidaknya, kita merasa diri kita sedikit hebat. Dan nanti akan jadi lebih semangat. Kita cari, sisi positifnya aja."


"Selalu bisa membalikkan kata-kata suaminya."


"Ya iyalah. Bukan kah Mas tahu, kalau wanita itu tak akan pernah salah."


"Iya, Iya.... Untung sayang." lirih Bagas.


"Hah, apa?"


"Engga... Siapin aja makannan, aku laper." balas Bagas, dan Syifa pun menurutinya.


Ia lalu menyuapi Bagas, sembari memasangkan alat terapi jari padanya. Alat terapi getar di kaki pun sudah Ia belikan, dan Ia pasangkan dengan rapi. Tak ada waktu yang terbuang sia-sia oleh Syifa, karena I tahu itu begitu berharga. Sedetik saja waktu dipergunakan dengan baik, baginya bisa membuat rangsangan positif bagi tubuh Bagas. Bagas pun selalu menuruti apa yang di katakan Istrinya itu, meski kadang merasa lelah dengan keadaan.


Bagas telah selesai menyantap makanannya, dan Ia duduk sejenak menemani Syifa yang bergantian dengan nya saat ini. Benar kata tetangga, jika Ia beruntung sekali memiliki Syifa. Dan Ia, harus juga bisa menjaga Istrinya itu dengan sebaik mungkin.


"Jika aku tak mampu mendapat wanita yang baik dimasa lalu. Maka aku akan menjadi lelaki terbaik untuk masa depan. Terutama bersamamu." ucap Bagas dalam hati. Yang tersenyum menatap istrinya menghabiskan makanan tanpa tersisa sebutir nasi pun di piringnya.

__ADS_1


__ADS_2