Suamiku Pria Lumpuh

Suamiku Pria Lumpuh
Pergulatan Reza dan Bagas.


__ADS_3

Syifa terbangun lebih dulu. Waktu menunjukkan pukul Dua malam. Ia terkejut, ketika posisinya berubah total ketika bangun. Ia kini berada dalam pelukan Bagas, dan tepat menghadap wajah suaminya yang tampan dan rupawan itu. Dan yang membuatnya lebih terkejut adalah, ketika tangan kanannya ada di dalsm baju Bagas, dan tepat menyentuh dadanya yang berotot. Area tubuh Bagas yang selama ini menjadi Pavoritnya.


"Hah, kok? Kenapa bisa disini? Dasar, tangan nakal." lirihnya.


"Iya, nakal. Masa tengah malem menggeranyangi begitu. Mau apa coba?" ucap Bagas, tanpa membuka matanya.


"Astaga, kenapa bisa begini. Malu lah." batin Syifa, yang wajahnya merah merekah seperti tomat yang siap panen.


Syifa menundukkan wajahnya, tak berani menatap wajah Bagas. Perlahan Ia singkirkan tangannya dari tempat yang begitu nyaman itu.


"Mau kemana?" tanya Bagas, yang menahan tangan itu.


"Mau.... Mau ambil tangan nakalnya." jawab Syifa terbata.


"Kenapa? Bukannya nyaman?"


Syifa mengangguk, "Tapi....."


Bagas meraih dagu Syifa dan mendongakkan kepalanya ke atas.


"Apa?"


"Ngga jadi, lanjut tidur aja." Syifa kembali menyandarkan kepala di dada itu lagi.


"Aneh...."


"Biar aneh gini, tapi 'kan cinta." jawab Syifa. Lalu melanjutkan tidurnya dengan begitu nyenyak.


***

__ADS_1


"Aaaah, kenapa ngga bisa tidur." keluh Reza yang saat ini merasa begitu gelisah.


"Iiiish, rambut Mie. Kenapa selalu menghantui? Nyesel ngga ngejar sampai dapat."


Reza hanya bisa berguling-guling gelisah. Dalam isi kepalanya terngiang-ngiang senyum manis si wanita berambut Mie itu.


Hingga pagi menjelang, Ia pun tetap terjaga. Matanya lelah, tatapannya sayu dan kelopaknya menghitam seperti mata panda.


" Mas Reza, kenapa?"


"Kenapa, Fa?"


"Kok balik nanya? Itu loh, kok matanya begitu. Ngga tidur semalaman?"


"Hhh, iya. Ngga bisa tidur semalam, mikirin kamu. Eeeeh... Maksudnya kerjaan."


"Aaaaaarrrrrghhhh! Sakeeeet!!" pekik Reza, dan ternyata Bagas menjubit pahanya dengan begitu kuat.


"Udah ngga heran, Ma. Mereka kalau ketemu emang gitu." sahut Syifa, yang duduk manis menyuapi suaminya.


"Makan sendiri! Tangan udah bisa gerak, masih aja manja." cibir Reza.


"Gue manja sama istri gue. Daripada Loe, kagak bisa bermanja dengan siapapun." balas Bagas.


"Astaghfirullah. Teganya menyakiti perasaan anak Piatu ini. Padahal, anak piatu harus di sayang, karena doanya akan dijabah hingga langit ke Tujuh."


"Iya, tapi ngga berlaku buat, loe." balas Bagas, yang menoleh dan memberikan senyuman jahatnya.


"Massss... Udah, ih." kesal Syifa.

__ADS_1


Reza pun melanjutkan sarapannya, meski suasana hatinya kesal saat ini.


"Hari ini, kalian ditunggu pengacara keluarga." ucap Reza.


"Buat apa, Mas?"


"Pengesahan kuasa, Fa. Ngga disangka, akan se ribet ini."


"Baiklah, kami akan kesana nanti. Atur janji pada beliau, agar kami langsung bertemu dengannya pagi ini." titah Bagas.


"Iya, selesai sarapan. Jangan minta sekarang dong. Kan......."


"Reza Edwardo...!"


"Iya, diem." jawabnya.


Mereka fokus kembali pada sarapan. Hingga selesai, lalu pergi sesuai dengan agendanya.


"Fa, aku harus rapat dulu pagi ini. Kamu sama Bayi gede kamu itu, duluan aja. Ada supir baru 'kan?"


"Iya, Mas Reza. Nanti kami kesana duluan. Syifa cuma tinggal siapin Mas Bagas aja."


"Oke... Dadah, Cantik..." pamit Bagas, dengan mencolek dagu Syifa dihadapan suaminya.


"Bedebaaaaaaaah!" batin Bagas menahan emosi. Lalu Reza pergi berlari sekuat tenaga.


Syifa membawa Bagas ke kamar, untuk mempersiapkan diri mereka menghampiri sang pengacara. Biasanya, pengacara yang akan datang. Tapi, hari ini beliau begitu sibuk, dan meminta client untuk datang. Tak apa, setidaknya mereka bisa keluar rumah hari ini.


"Mas Farhan, hari ini antar ke kantor ini." Syifa menunjukkan sebuah alamat pada supirnya.

__ADS_1


"Oke, saya tahu alamatnya. Mari..." ucap Farhan, yang mengambil alih Bagas dari syifa.


__ADS_2