
Syifa membawa Bagas turun ketika telah sampai di kantor pengacaranya. Ia pun berjalan mengikuti arahan sang suami, hingga tiba di tempat yang mereka cari.
"Permisi, saya dari Nugraha's Company." sapa Syifa pada sang receptionist.
"Oh, Ibu? Mari saya antar ke ruangan Bapak. Tapi, maaf karena harus menunggu sebentar. Bapak masih ada tamu." jawabnya.
Syifa hanya mengangguk, lalu mengikuti kemana Receptionist itu membawanya.
"Silahkan duduk, sebentar lagi Bapak akan keluar menemui anda."
"Iya, terimakasih." jawab syifa.
Ia duduk di sofa yang telah di sediakan. Begitu juga Bagas, yang Ia pindahkan untuk duduk disampingnya.
Mereka menunggu, dan terus menunggu. Sembari tangan Syifa yang selalu aktif seperti biasanya, meski Bagas sudah tak terlalu memerlukan itu lagi. Seperti, menjadi sebuah kebiasaan, ketika Ia harus menggenggam tangan Bagas kapanpun, dan dalam kondisi apapun.
"Lama, Mas." bisik Syifa.
"Namanya juga sibuk, kenapa?"
"Mau Pipis. Kamar mandi dimana?"
"Owh, di ujung lorong sana." tunjuk Bagas.
Syifa kemudian berdiri, dan pergi meninggalkan Bagas menunggu di tempatnya.
__ADS_1
Bagas diam, menyandarkan tubunya di bahu sofa. Ia sesekali meregangkan ototnya, apalagi dengan keberadaan alat yang selalu menempel di punggungnya itu. Karena itulah, tubuh Bagas masih bisa tegap hingga saat ini.
Pintu terbuka, seorang wanita muda nan cantik memasuki ruang tunggu. Ia membawa sebuah file, wajahnya pun tampak tak asing bagi Bagas.
"Luna?" batinnya, yang harus kembali diam tanpa mengeluarkan suara.
"B-bagas? Kenapa kamu disini? Dengan siapa?" tanya Luna, berusaha ramah. Tapi, Bagas tak menjawabnya.
"Apa, kamu masih belum bisa bicara? Kasihan sekali, kamu. Kenapa belum ada perkembangan hingga sekarang? Apakah, perawatmu itu bekerja dengan benar? Atau, hanya ingin memanfaatkanmu saja, dengan status sebagai istrimu?"
"Teruslah meracau, Luna. Aku tak akan mau menjawab apapun darimu." batin Bagas.
Langkah Kaki terdengar menghampiri. Bagas faham itu siapa, dan Ia segera menyambutnya dengan senyum.
"Mas, maaf lama." ucap Syifa, yang duduk dan langsung menggenggam tangan Bagas.
"Kau, bahkan tak pernah menatapku seperti itu." lirih Luna.
"Iya, Mba? Kenapa? Loh, ini 'kan?"
"Iya, saya Luna. Mantan Bagas." jawab Luna.
"Oh iya, kita pernah ketemu beberapa kali. Maaf, lupa. Soalnya jarang keluar rumah." ucap Syifa. Sebenarnya Ia ingat, bahkan Ia pun ingat jika pernah bertengkar dengannya. Tapi, Ia memilih untuk pura-pura lupa demi kestabilan emosinya.
Mereka diam, Luna pun begitu sembari terus menatap layar Hpnya dengan perasaan yang galau.
__ADS_1
Syifa tak pernah diam. Ia terus mengajak Bagas berbicara, meski hanya dibalas senyuman dan anggukan ramahnya. Itu karena Luna ada di sampingnya.
Bagas dan Luna di panggil untuk memasuki ruangan, dan meninggalkan Luna sendirian disana. Luna terus menatap bagaimana Syifa memperlakukan Bagas, caranya memindah tempat duduk Bagas, dan semua sikap Bagas yang selalu mengangguk pada apa yang diucapkan istrinya.
"Selamat siang Pak." sapa Syifa.
Pak Bonar namanya. Beliau adalah pengacara keluarga Nugraha, yang bahkan telah di percaya sejak Kakek Bagas masih ada. Dan entah ada urusan apa, hingga Luna datang padanya.
"Pak Bagas, bagaimana keadaan anda saat ini?" tanya Pak Bonar dengan ramah.
"Saya baik, tapi maaf jika hanya bicara seperlunya.".
"Saya faham. Reza sudah memberitahu semua itu, dan memperingatkan saya akan semuanya." jawab Pak Bonar.
"Ada apa?" tanya Bagas.
Pak Bonar memberikan beberapa berkas. Ia meminta Bagas dan syifa menandatanganinya segera.
"Untuk keterangan pernikahan kalian. Saya sendiri akan mengurusnya di KUA."
"Fa, baca." pinta Bagas.
Syifa langsung menurutinya, dan Bagas mendengarkan yang di bacakaj Syifa. Tak ada yang mencurigakan, atau pun yang perlu di pertimbangkan. Pak Bonar tahu betul bagaimana Bagas, sehingga tak ingin terlalu banyak melakukan perundingan padanya.
Bagas dan Syifa menandatangani semuanya, lalu memberikan berkas itu pada Pak Bonar.
__ADS_1
"Syifa, bisa keluar sebentar? Ada yang mau aku bicarakan dengan Pak Bonar." pinta Bagas.
"Diluar ada Luna." ucap Syifa manja. Tampak begitu malas untuk bertemu dengan mantan kekasih suaminya itu...