
Sore hari yang cerah, secerah hati Reza yang di penuhi taman bunga.
Olin tak jadi mengundurkan diri dari pekerjaannya, dan mereka resmi menyandang status berpacaran. Meski sebenarnya ragu, tapi Reza terus menyakinkan dan berjanji akan bersikap profesional. Hanya tinggal menunggu, hingga Olin benar-benar siap untuk di pinang.
Bagas menggandeng Syifa untuk pulang lebih dulu. Mereka tengah mempersiapkan pesta pernikahan megah. Dan beberapa hari ini akan di sibukkan dengan fitting baju pengantin dan yang lainnya. Termasuk hotel, karena mereka mendapat promo dari sebuah hotel bintang Lima.
Reza yang juga telah bersiap, kini menelpon Olin untuk mengajaknya pulang bersama.
"Kita ketemuan di belakang, ya? Aku tunggu." ucap Reza. Olin hanya membalas nya dengan Emoticon love, tapi sudah membuat hati Reza begitu bahagia.
Reza dengan semangat yang membara, keluar dari ruangan dan berjalan menuju parkiran belakang. Ia dengan setia menunggu Olin menyelesaikan pekerjaannya. Andai boleh, pasti Ia akan membantu kala itu. Tapi Olin pasti tak mengizinkan.
"Pak, udah selesai." sapa Olin, masih malu-malu.
"Kok, Pak? Kan udah diluar."
"Lalu, saya panggil apa?" tanya Olin.
__ADS_1
"Mas Reza aja, supaya lebih akrab." lirik Reza genit.
Baru kali ini, wajah Olin tampak tersipu. Padahal biasanya, sekuat apapun Reza mencoba, hanya tatapan datarlah yang keluar darinya.
Mereka menaiki motor, lalu Reza mengantar Olin. Kali pertama pula, Olin memeluk Reza. Untung saja, Reza masih mampu menahan semua rasanya. Jika tidak, mungkin Ia akan langsung lemas dan tak berdaya seperti biasa.
"Apakah ini, The power of Cinta?" batin Reza.
"Olin ngga papa, kalau di bawa naik motor?"
"Ngga papa, Mas. Malah enak naik motor. Saya ngga enak, kalau di jemput naik mobil." jawab Olin. "Sederhana seperti ini, Aku suka."
Mereka tiba di sebuah kos-kosan. Tak terlalu besar, berlantai Dua, tampak begitu rapi dan bersih. Mungkin Olin menuesuaikan dengan dana yang Ia punya. Reza pun mengantarnya sampai ke atas, hingga Olin masuk ke ruangannya.
"Maaf, Mas. Sampai sini aja, ya? Ngga enak, sama temen-temen yang lain."
"Ah, iya ngga papa. Dikasih tahu aja, udah seneng. Kalau gitu, aku pamit dulu, ya? Nati Bagas cari." pamit Reza.
__ADS_1
Olin hanya mengangguk, lalu menutup pintu. Entah kenapa, Reza seolah tak ingin pergi dari tempat itu. Ia mengharap sesuatu tampaknya. Olin pun kembali keluar, mengecupkan bibir ditelapak tangan. Lalu, Ia menempelkan ke pipi Reza. Membuat mata Reza terbelalak, begitu dahsyat guncangan hati yang Ia rasakan.
"Udah ya, Olin masuk lagi." pamitnya.
Reza mengangguk. Ia berusaha melangkahkan kaki setelah Olin benar-benar menutup pintunya. Langkah terasa lunglai, Ia bahkan sempat nyaris jatuh karena tak memiliki keseimbangan.
"Hanya seperti ini, kenapa? Aaaaah, rasanya...." batin Reza, dengan satu tangan memegangi pipi, dan tangan lain memegangi dadanya
Lepas jauh dari kamar Olin, Reza pun tersadar dari semua kelunglaiannya.
"Oh, astaga. Aku harus lebih terbiasa dari ini. Jika Bagas tahu, aku akan malu sampai ke ubun-ubun." ucapnya.
Ia pun merapikan jas, lalu kembali berjalan tegap. Turun, dan menaiki motornya untuk pulang ke rumah. Ia memacu motornya dengan cepat, tak sabar ingin menceritakan semua yang baru saja Ia alami. Sebuah perkembangan yang baik, dalam hubungan cintanya.
Tapi, langkah kaki justru membawanya ke kedai sang Ayah tercinta. Sembari menyantap semangkuk bakso kesukaan, Ia pun bercerita panjang kali lebar mengenai perasaannya.
Reza begitu bahagia, dan tampak sangat ceria.
__ADS_1
"Selamat, kami bahagia buat kamu. Semoga, bisa sampai ke jenjang yang lebih indah. Jaga diri, ya?" ucap Bu Mariam padanya.