Suamiku Pria Lumpuh

Suamiku Pria Lumpuh
Jika sakit, katakan sakit.


__ADS_3

"Fa, bangun, Fa..." panggil Bagas. Membangunkan Syifa yang tidur diatas pangkuannya.


"Iya, kenapa? Capek?" tanya Syifa sembari mengucek matanya yang masih lengket.


Bagas tampak menggeliat, menahan nyeri atau sesuatu yang Ia rasa aneh baginya. Syifa menatapnya, mengamati apa yang Bagas rasakan.


"Mas kenapa kakinya? Sakit?"


Bagas menggeleng, " Engga... Kayak Kesemutan. Tapi, pinggangnya sakit."


"Loh, kenapa? Coba Ifa lihat?"


Syifa lalu membuka baju Bagas dengan kasar. Ia memiringkan tubuh Bagas, dan melihat tubuh bagian belakangnya. Dan alangkah terkejut, ketika Syifa melihat beberapa memar yang membiru di bagian pinggang dan pinggul Bagas.


"Katanya ngga papa? Kenapa begini?"  tanya Syifa dengan omelannya.


"Ya, kemarin ngga papa. Baru hari ini, begini."jawab Bagas.


" Mas... Ifa itu perawat, jadi Ifa tahu kalau memar ini dari semalem. Kenapa ngga bilang? Kalau parah dan buat tulang belakang makin luka gimana? "


" Fa.... Berhenti dulu ngomelnya. Ini sakit, mana kaki kesemutan."


" Biarin... Itu hukuman buat tukang bohong kayak Mas. Kesel Ifa jadinya."

__ADS_1


Syifa lalu meninggalkan Bagas yang masih merintih kesakitan. Ia menuju ke kamar, tanpa menoleh lagi ke arah suaminya itu.


"Astaga, Fa. Ini beneran sakit. Lagipula, aku ngga ngomong karena kamu sakit semalam, dan ngga mau repotin kamu." lirih Bagas, dengan terus memegangi pinggangnya.


Ia bahkan berbaring, dan meringkuk menahan sakit yang teramat sangat itu. Berharap Syifa segera datang membantunya. Tapi, begitu lama Syifa tak kunjung keluar.


" Fa... Begitu marah kah kamu, ketika aku berbohong, Fa? Jangan seperti ini. Aku janji, aku tak akan berbohong lagi padamu. Tapi, kali ini benar-benar sakit, Fa."


Bagas seolah tak kuasa menahan sakit itu. Ia memejamkan mata untuk mengalihkan rasa sakitnya. Hingga tiba-tiba, Syifa keluar.


"Fa.... Udah ngambeknya?" lirih Bagas.


Syifa duduk di sebelah Bagas, kemudian menyiapkan beberapa suntikan untuknya. Meski Bagas takut, tapi Ia tak dapat mengutarakan rasa takutnya itu. Apalagi, wajah Syifa sedang dalam mode serius sekarang.


Dengan perlahan Bagas menuruti, Ia pun memejamkan mata ketika melihat Syifa mulai menyuntikkan obat padanya.


"Udah...." ucap Syifa.


"Ifa marah? Maaf."


"Lain kali, kalau sakit bilang sakit. Jangan pernah di tahan apapun itu. Mas tahu, kalau ada apa-apa sama Mas Bagas, maka Syifa akan merasa gagal sebagai perawat, sekaligus sebagai istri. Itu beban, bagi Ifa."


Bagas hanya diam, Ia mulai merasakan obat mulai ber reaksi dalam tubuhnya. Rasa sakit perlahan hilang, meski Syifa masih belum bisa menampakkan lagi senyum seperti biasanya

__ADS_1


" Fa...." panggilnya lembut, tapi Syifa tak menjawab.


" Asyifa Humairah?" panggil Bagas lagi, dengan meraih dagu Syifa dan mengarah ke pandangannya.


Syifa berusaha menepis, tapi Bagas menangkisnya dengan tangan yang Satunya. Syifa hanya mencebik kesal, seolah enggan menatap Bagas kali ini.


"Maaf... Maaf kalau harus bohong sama kamu mengenai hal ini. Aku hanya tak ingin merepotkan kamu, sekali saja. Meski, pada kenyataannya aku tak akan bisa melakukan apapun tanpa kamu."


"Gombal..."


"Fa.... Aku ngga pernah bisa gombal. Kamu sendiri yang bilang, kalau aku garing."


"Mas tahu? Kadang, Ifa pengen sesekali istirahat sendiri. Menikmati waktu Satu jam aja tanpa adanya Mas di samping Ifa."


"Lalu?"


"Tapi nyatanya ngga bisa. Beberapa menit aja di Rumah sakit, bahkan Ifa ngga bisa pejamin mata buat istirahat."


"Kepikiran aku? Rindu?"


"Kepikiran, tapi bukan rindu. Kepikiran, kalau Mas mau ke kamar mandi. Udah mules, tapi ngga ada yang berani pegang. Itu beban, Mas... Beban buat Ifa."


"Astaga, ini anak. Pikirannya ngga ada yang bener." tawa Bagas dalam hati. Menggelengkan kepala, dan semakin gemas dengan kekonyolan istrinya itu.

__ADS_1


"Hanya kamu, Fa... Hanya kamu yang bisa memperlakukan aku seperti ini. Hanya kamu, yang selalu ada disaat yang lain pergi. Dari kamu belum menjadi siapapun, dan sekarang menjadi segalanya buatku." peluk Bagas.


__ADS_2