Suamiku Pria Lumpuh

Suamiku Pria Lumpuh
Tak pernah melihat orang, hanya dari statusnya


__ADS_3

Reza menyusul Olin hingga di tempatnya berhenti. Gelap, dan sepi. Tapi Olin berhenti demi menghormati Reza yang mengejarnya.


"Kenapa lari?" tanya Reza.


"Kenapa Bapak kejar saya?" balas Olin.


"Kenapa balik nanya, Olin. Bukannya kamu tahu, kalau saya emang kejar kamu?"


"Ngga usah kejar saya, Pak. Ngga pantes."


"Saya ngga pernah lihat orang dari statusnya. Mau dia OB, mau sekretaris, mau apapun itu."


"Bapak ngga lihat, tapi orang lain memperhatikan. Pak, tolong... Hidup saya udah berat, jangan di tambah beban lagi."


"Lin, bukan begitu maksud saya. Saya ngga pernah mempersulit hidup kamu." bujuk Reza, berusaha memegang tangan Olin. Tapi di tepisnya.


"Pak, udah malam. Maaf, saya harus pulang. Takut banyak yang lihat, dikira ada apa."


"Oh, baiklah. Maaf jika mengganggu." jawab Reza.


Olin pun pergi, dengan mengenggam erat tali tas yang Ia pakai.

__ADS_1


"Oke... Sekali lagi aku berusaha mengerti, jika ini telah larut malam. Tapi, aku akan berusaha menemuimu lain waktu. Jika kau menghindar lagi, entahlah. Aku akan meminta bantuan siapa." gumam Reza. Ia pun kembali ke motornya, dan kembali pulang ke rumah.


"Sepiiiiii... Tak cuma hati ini. Rumah ini, bahkan dunia ini. Kenapa? Kenapaaaaa seperti ini? Hidupku hampa, tanpa kamu.... Olin." seru nya, sendirian. Sedangkan yang lain telah tidur di kamarnya masing-masing.


Reza merebahkan dirinya di sofabed. Ia enggan beranjak kemanapun lagi. Dan tanpa mengganti pakaiannya, Ia memejamkan matanya disana. Hingga pagi, dan tak ada yang membangunkannya sama sekali.


***


Pagi berselang. Bagas sudah terbangun dari tidurnya, dan sudah rapi dengan jas yang Ia di bawakan Syifa sebagai baju gantinya.


"Sayang, bangun lah. Sudah pagi." kecup Bagas di keningnya.


"Kok panas? Ifa demam?" tanya Bagas, dengan memegangi dahinya.


"Boleh izin telepon Luna?" tanya Bagas.


"Buat apa? Kenapa dia?"


"Minta tolong, carikan obat. Disini, yang Aku kenal hanya dia. Bagaimana?"


Syifa sekejap berdiri. Ia mandi dan segera mengganti pakaiannya. Tampak seperti, langsung sembuh seketika. Tapi, Ia masih begitu lemah.

__ADS_1


"Ayo, pulang." ajak Syifa, dengan menyandang tas nya.


Bagas hanya menggelengkan kepalanya. Kejadian Luna menolongnya semalam, rupanya belum dapat menghilangkan rasa cemburu yang mendarah daging.


"Semakin menggemaskan." fikirnya, pada sang Istri yang tampak pelit senyum.


Mereka berjalan menyusuri setiap ruangan. Tangan Bagas tak lepas dari pinggang sang istri, menopang karena takut jika terjatuh karena lemas. Tas yang Syifa pakai pun, telah beralih di bahunya. Tak perduli, jika orang lain akan melihatnya nanti.


"Bagas, Ifa kenapa?" tanya Luna. Yang kebetulan keluar dari kamar.


"Demam katanya. Pusing, dan mual." jawab Bagas, singkat.


"Hmm, di bawah ada apotek. Kalau mau, biar aku belikan obat dan kalian kembali ke kamar." tawar Luna dengan ramah.


"Ngga usah, Mba. Ifa ngga papa. Sebentar lagi juga sembuh." potong Syifa, ketika Bagas akan menjawab Luna.


Sang mantan hanya mengangguk, menatap Syifa dengan kasihan. Meski Ia tahu, jika Syifa masih menyimpan rasa cemburu padanya.


"Mas, kenapa liftnya lama?" keluh Syifa.


"Kenapa, capek?" tanya Bagas, dan Syifa hanya mengangguk.

__ADS_1


Bagas lalu bersimpuh, dan menaikkan satu kakinya. Ia membuatnya sebagai kursi, dan meminta Sang istri agar duduk disana.


Syifa menurut, lalu duduk di pangkuan sang suami dengan begitu nyaman. Bahkan, Syifa menyandarkan kepalanya yang berat di bahu sang suami.


__ADS_2