Suamiku Pria Lumpuh

Suamiku Pria Lumpuh
Semakin suka curiga.


__ADS_3

"Hallo, Za? Bagaimana?"


"Udah gue ambil. Malam ini gue nginep disini, nemenin Papa."


"Ya, hati-hati. Ada kabar apapun, kabarin gue."


"Ya, aman kalau itu." jawab Reza.


Ia kemudian menutup telponnya, dan mengganti pakaiannya untuk tidur. Tapi, matanya terjaga sepanjang malam. Ia mendengar sesuatu yang aneh, sebuah suara berisik di tengah malam yang sunyi. Begitu jelas terdengar.


"Seperti... Aku mengenal suara itu?" lirih Reza.


Tapi Ia memilih untuk tetap di kamar, tak ingin keluat dan mengacaukan keadaan. Hanya, Ia terus mengontrol CCTV yang telah terhubung dari layar hpnya.


***


Syifa terbangun. Ia mendongakkan kepalanya menatap Bagas yang sibuk dengan Hpnya.


" Nelpon siapa?"


"Rahasia..." ucap Bagas.


Syifa lalu meraih Hp Bagas dan ingin melihatnya, tapi ditahan.


"Eh, kenapa sih? Curiga amat? Nelpon Reza, sayang." ucap Bagas, lalu Syifa menurun kan tangannya kembali.


Syifa hanya diam. Ia menenggelamkan wajahnya di tubuh Bagas.

__ADS_1


"Masih sakit perut?"


"He'em..." ucap Syifa, yang memang tengah kedatangan tamu bulanannya.


Bagas meletakkan Hpnya di nakas. Ia lalu menurunkan tubunya agar sejajar dengan Syifa. Ia pun meminta Syifa membelakanginya, dan tidur diatas lengannya yang mulai kokoh itu. Sedangkan tangan yang Satunya, mengusap perut Syifa dengan lembut.


"Begini sudah enak?"


"Lumayan." balas Syifa.


Bagas pun mengusap rambut Syifa, dan mengecupi dahinya bekali-kali. Hingga tertidur bersama dengan perasaan yang begitu damai.


Malam berganti pagi. Syifa bangun dan menjalani hari dengan semangat yang bertubi-tubi. Rasa sakit yang semalam mendera, seakan hilang tak berbekas karena sentuhan ajaib sang suami padanya. Ia pun membangun kan Bagas, dan mempersiapkan peralatan mandinya.


"Sedikit formal, Fa." pinta Bagas dengan pakaiannya.


"Katanya mau cari cincin?"


"Ya, ngga harus hari ini, Mas. Besok kan bisa." ucap Syifa.


"Ya, sekalian mau ajak kamu ke rumah Ayah. Rindu 'kan?"


Syifa semakin tampak riang. Senyumnya terpancar dengan ginsulnya yang manis. Ia pun membawa Bagas untuk mandi, dan mendandaninya dengan rapi.


Bagas mengenakan kemeja putih, dengan rompi coklat di bagian luar, dan celana dasar hitam. Seperti biasa, Syifa begitu senang mendandani Bagas dengan rambut yang di naik sibakkan dari dahinya. Lalu mengecupnya sebelum membawanya keluar.


"Ifa mandi dulu, ya?" pamit Syifa, meninggalkan Bagas di ruang makan menunggu yang lain untuk sarapan.

__ADS_1


"Bagas mau kemana? Kok rapi banget?" tanya Mama Ayu yang menghampirinya.


"Mau keluar, Ma. Mau ajak Syifa cari cincin pernikahan. Bagas... Belum pernah memberikan dia apapun." jawab Bagas.


"Owh, berdua aja?" iya, sama Farhan juga.


"Ikuuuuut....!" pekik Reza, yang mendadak datang dari luar.


"Nyaut aja, loe." sergah Bagas.


"Mumpung Om dan Tante lagi ke kantor deh, gue mau libur sehari aja."


"Reza......"


"Engga libur, engga. Izin aja. Mengawal kalian. Soalnya, butuh hiburan." rengek Reza.


"Mandi dan bersiap." balas Bagas, lalu Reza pun tersenyum riang dan menuruti semua perkataannya.


Syifa pun keluar. Dengan memakai kemeja casual berwarna ungu, rambut diikat cepol sebagian dan celana jeans abu-abu. Tampak begitu manis dan mempesona, apalagi senyumnya yang selalu terpancar.


"Semangat bener, yang mau ketemu Ibunya." ledek Mama Ayu.


"Semangat lah, Ma. Apalagi, kalau ketemu Ibu nya bareng Mama. Sesekali kek, diajak shoping bareng, gitu." sindir Syifa, dengan menyendokkan nasi ke piring Bagas.


"Nah, Mama..." lirik Papa Erland.


"Apa sih, Pa? Kita kan lagi sibuk. Mama aja ngawal Papa kemana-mana." balas Mama.

__ADS_1


Syifa hanya tertawa renyah, sembari menyuapi Bagas. Kadang Ia lupa, jika Bagas sudah bisa makan sendiri. Dan juga, itulah kebiasaannya selama menjadi istri Bagas, sehingga terasa asing jika tak melakukannya meski sehari.


__ADS_2