Suamiku Pria Lumpuh

Suamiku Pria Lumpuh
Syifa tukang ngambek


__ADS_3

Syifa kembali mengantar Bagas ke ruang terapi, usai berbincang dengan dokter mereka. Kembali antusias, kembali penuh semangat untuk melaju dalam kesembuhan.


"Makin semangat 'kan?" goda Syifa.


"Mestinya. Apalagi karena kamu. Udah pengen ajak bulan madu." balas Bagas, malu-malu.


"Ke korea, ya? Ifa pengen ke Sungai Han, pulau Nami, Pulau Jeju. It's My Dream."


"Jauh banget? Ngga mau keliling indonesia?"


"Pengennya kesana......" harap Syifa.


Bagas hanya menggenggam tangannya dari belakang dan kembali mengangguk.


Masuk kembali di ruang terapi. Para terapis menyambut, dan memberikan pemanasan untuk Bagas. Dan tak lama kemudian membawanya ke alat robotic kembali. Kedua kalinya, Bagas merasakan berdiri tegak, meski dengan bantuan alat.


Syifa kembali duduk, meluruskan kakinya dan terus memberi semangat pada suaminya. Bagas masih di latih seperti biasa, alatnya di dorong dan kakinya akan bergerak seperti berjalan. Kali ini tak sesakit pada awal, karena Syifa pun tak henti melatihnya di rumah.


Terapi kaki selesai. Bagas istirahat sebentar, lalu melakukan terapi untuk tangannya. Hanya sebentar, untuk menguatkan persendian.


Tubuhnya dibanjiri keringat, seperti orang yang baru saja berolahraga dengan begitu keras. Tapi tak apa, pasti ada hasil dari setiap usaha yang mereka lakukan.


"Capek?" tanya Syifa, dengan memberikan air putih untuk Bagas. Tak lupa, Ia mengelap semua peluh yang ada di kening, hingga ke lehernya.


Farhan pun sudah mulai cekatan, Ia segera berlari dan mengambilkan pakaian ganti untuk Bagas, dan menunggu pakaian kotor untuk membawanya kembali  ke dalam tas.


"Makasih...." ucap Bagas pada supir pribadinya itu.

__ADS_1


Sang terapis kembali datang. Ia mulai lagi dengan segala kegiatan yang diperlukan. Ia terus memeriksa kondisi kaki Bagas, dari ujung jari hingga pangkal paha.


"Sudah, ada rasanya?" tanya terapis itu.


"Masih kebas..."


"Kalau kebas, setidaknya terasa." jawabnya.


Terapis kemudian meninggalkan Bagas, dan mengurusi yang lainnya. Bagas harus istirahat sejenak, untuk merilekskan ototnya kembali.


"Kasih kabar ke Mama belum?" tanya Bagas.


"Eh iya, lupa. Bentar, Ifa Video call Mama dulu."


Syifa beberapa kali berusaha, namun Mama Ayu tak kunjung mengangkat panggilannya.


"Iya, Mas."


Terapi demi terapi telah di lakukan. Hari ini semua telah selesai sesuai jadwal yang telah di rencanakan. Syifa membereskan barang, dan bersiap untuk pulang ke rumah.


"Mampir rumah Ayah, Mas?" tanya Syifa.


"Aaaang... Ngga usah dulu deh, Fa. Capek banget rasanya. Besok-besok aja, Ya?"


"Ehmmmm, yaudah ngga papa." jawab syifa, dengan sedikit semburat kecewa di matanya.


Mereka telah masuk ke dalam mobil, dan Farhan mulai melaju untuk pulang.

__ADS_1


Ditengah jalan, Hp Bagas berbunyi. Syifa dengan sigap mengangkat, dan memberikannya pada sang suami.


"Dari siapa?"


"Ngga tahu." jawab Syifa.


Bagas menatap layar Hp dan membaca kiriman pesan itu dengan tersenyum sendirian.


"Kok ketawa?"


"Bukan ketawa, tapi senyum."


"Iya, kenapa?" tanya Syifa, tampak curiga.


"Hallo, Za? Dimana?"


"Iya, gue lagi di kantor. Kenapa?"


"Baca kiriman gue. Nomor yang Loe minta udah ketemu, plus alamatnya. Itu pun, kalau loe berani datengin dia." ledek Bagas.


"Apa?" Reza langsung menutup teleponnya secara sepihak.


"Dasar, lebay." cibir Bagas.


Syifa hanya terus menatap, bersedekap, dan  mengerucutkan bibirnya karena pertanyaan yang tak di jawab oleh sang suami. Tapi Bagas hanya membalasnya dengan senyuman, sembari mengedipkan mata genitnya pada Syifa.


"Ditanya malah ngedipin mata." omel Syifa.

__ADS_1


"Ngga ada, sayang. Ngga ada yang di rahasiakan dari kamu." raih Bagas padanya, lalu mengecupi kening Syifa dengan gemas.


__ADS_2