Suamiku Pria Lumpuh

Suamiku Pria Lumpuh
Sifat Asli Bagas.


__ADS_3

"Welcome Home....!" Seru Reza, yang baru saja tiba di rumah.


Reza berlari kecil menuju kamarnya. Ia begitu rindu dengan kasurnya yang empuk itu.


"Mas, jangan lari-lari. Lukanya belum kering." tegur Syifa.


Reza bergeming. Ia seolah tak mendengar ucapan yang di lontarkan Syifa untuknya.


"Ayah mau pijitin dia dulu. Kalian, kalau ada apa-apa, panggil Ayah aja." ucap Pak Abu.


Syifa mengangguk, lalu mengajak Ibu nya istirahat di kamar. Mereka ingin membereskan kamar bawah, dan segera pindah ke kamar atas. Dalam kondisi seperti ini, latihan naik turun tangga memang di sarankan. Tapi, tak boleh terlalu banyak dan membuat tubuh Bagas kelelahan. Sesekali masih nyeri, dan Syifa harus menempelkan koyo atau cream di pinggangnya.


Syifa membaringkan tubuh, sembari bercerita akan rencana mereka mengenai pesta pernikahan. Bagas akan menuruti, semua yang Syifa minta. Itu janji Bagas padanya.


Ibu dan Syifa, akhirnya terlelap di kamar itu. Bahkan Ia lupa, akan mengantar makanan pada Bagas di kantornya. Padahal, Bagas sudah menunggunya sejak tadi.


"Bapak, tidak makan?" tanya Ali yang menghampirinya.


"Li... Kenapa, Ibu tak kunjung datang? Padahal, aku sangat lapar." ucap Bagas, yang tampak gelisah.


"Bapak tahu, apa agenda Ibu hari ini?"


"Menjemput Reza, membereskan dan memindah kamar. Itu saja." jawab Bagas.

__ADS_1


"Mungkin Ibu kelelahan, Pak. Saya akan carikan makan siang dulu." ucap Ali, beranjak pergi. Tapi, Bagas mencegahnya.


"Tak usah... Nanti saja. Jangan saja ketika aku makan, dia juga datang membawa makan. Hhh, aku sudah membayangkan bagaimana wajahnya." ucap Bagas dengan tatapan kosong ke depan.


Ali hanya menggelengkan kepala, ketika seorang Bagas berprilaku seperti itu. Bukan karena takut Istri, tapi Ia menghormati apa yang di berikan Syifa padanya.


***


" Astaghfirullah!" kejut Syifa, mendadak terbangun dari tidurnya.


"Kenapa, Fa?" tanya Bu Mariam, tak kalah kagetnya.


Syifa tak mejawab, hanya melirik jam di Hpnya. Ia menepuk dahi seketika ketika ternyata sudah lewat jam makan siang.


"Bibik kenapa ngga bangunin Ifa?"


"Bibik lihat, Non tadi nyenyak banget tidurnya. Ngga enak mau bangunin." jawab Bik Minah..


"Tolong, wadah bekal, dong." pinta Syifa.


Bik Minah pun berlari, mengambil wadah bekal. Lalu Ia memberikan pada Syifa, dan membantunya menyiapkan makanan.


"Non makan dulu, baru pergi."

__ADS_1


"Engga, udah telat. Mas pasti udah kelaperan." jawab Syifa.


Ia kemudian berlari, menghampiri Farhan dan memintanya untuk mengantar.


***


"Jadi, kamu salah satu pengikut mereka? Katakan! Dimana dia sekarang!" bentak Bagas, pada seorang yang di sinyalir adalah anak buah Aldo dan Viona.


"Sa-saya ngga tahu. Saya hanya pegawai kecil, yang masuk melalui tangan mereka." jawabnya gugup.


Braaaakkkk!!


Meski dalam keadaan lapar, Bagas masih sanggup menggebrak meja dengan begitu kuat..


Bagas menghampirinya, mencengkram lehernya dengan kuat hingga jatuh tersungkur di lantai. Tatapannya tajam penuh amarah dan kebencian. Seakan ingin menerkam dalam sekali *******.


"Maaf, Tuan... Saya benar-benar tidak tahu. Tolong, bebaskan saya." tangis orang itu, tapi Bagas tak perduli.


Ia tetap mencengkram lehernya, dan memaksanya bicara meski dia sudah menangis. Seolah tak ada ampun, bagi seorang pengkhianat seperti mereka.


"Mas... Lagi ngapain?" tanya Syifa, yang tiba-tiba datang.


Bagas langsung mendongakkan kepalanya. Tatapan seketika berubah begitu manis, di tambah senyuman ramah untuk sang istri.

__ADS_1


"Eh, sayang? Kok lama?" tanya nya, tanpa melepas cengkraman.


__ADS_2