
Mobil Reza tiba dirumah Bagas. Tujuan pertamanya adalah Syifa, dan kebetulan, langsung Ia lihat di sofabednya.
"Ifa?" panggil Reza.
Syifa langsung menoleh, lalu merapikan dirinya menghampiri Reza.
"Ada kabar? Bagaimana dia?" tanya nya penuh antusias.
Tapi, Reza hanya menggelengkan kepalanya. Membuat Syifa kembali duduk dan lemas. Reza pun berlutut di depan Syifa, dan menggenggam tangannya erat.
"Maaf, harus membuka luka lama mu. Tapi, aku harus bertanya akan hal ini." ucap Reza.
"Apa?" tanya Syifa, dengan mata berkaca-kaca.
"Saat kau di culik, apakah kau, mengingat sesuatu? Dimana, arahnya, atau tempatnya." tanya Reza.
Sejenak Syifa berfikir lagi, dan sedikit fokus kali ini.
"Kalau tempat, aku tak tahu. Wanita itu, menutup mata ku selama perjalanan. Tapi...."
"Ya, ceritakan. Aku, akan mencerna bayanganmu dengan baik." pinta Reza.
"Aku di sekap di rumah tua. Tua, tapi masih terawat, apalagi bau cat yang masih baru, dan beberapa dinding yang baru saja di perbaiki." jelas Syifa.
"Lagi... Jika bisa lebih mendetail."
__ADS_1
Syifa memejamkan matanya sejenak. Ia hanya melihat sekilas, karena mereka membuka mata, hanya ketika tanda tangan itu. Dan, Syifa berusaha mencari petunjuk, dalam ingatannya yang minim itu.
"Mas Reza...?"
"Iya?"
"Bagaimana, foto nenekmu?" tanya Syifa.
Reza pun membuka dompetnya, dan menunjukkan foto neneknya dengan kebaya jadul dengan selendang menutupi kepalanya.
"Ini?" ucapnya.
"Ini...! Foto ini, ada disana. Terpajang rapi, dengan beberapa foto lainnya. Ifa ngga tahu siapa itu, hanya sekilas. Itupun, karena foto itu yang paling besar." jelasnya lagi.
" Syifa.... Mandilah. Berdandanlah dengan anggun, dan sambut dia pulang. Dan ini, jagalah hingga polisi memgambilnya kemari."ucap Reza mengaman kan flashdisknya.
"Mas Reza mau kemana?"
"Menjemput Bagas." jawab Reza, yang berlari tanpa menoleh.
Tatapan Syifa penuh harap. Ia pun berlari ke kamar, lalu membersihkan dirinya. Ia segera mengerjakan shalat mahrib yang nyaris tertunda, sembari mendoakan semua yang ada dalam kekalutan.
***
Reza yang tak kenal lelah, memperjuangkan semua orang yang ada di dekatnya. Terutama, ketika melihat harapan Syifa yang begitu tinggi akan kembalinya Bagas.
__ADS_1
Ia berjalan, dan terus berjalan hingga sampai di tempat tujuan. Hingga Ia menemukan rumah itu, rumah tua milik neneknya, yang menyimpan banyak memori milik sang Papa.
"Ya, benar. Mobil mereka disini." ucap Reza.
Ia pun menghidupkan GPS yang ada di mobilnya, yang sempat Ia sambung kan ke Hp Bagas yang Syifa pegang. Sejak dulu memang begitu, berguna untuk Bagas yang mencari keberadaan Reza ketika pergi tanpa kabar.
Ia pun perlahan masuk, lalu mengintip dari jendela, agar tahu banyaknya orang yang ada di dalam.
"Hanya bertiga? Kata Olin, dia punya banyak orang?" fikirnya, hingga sebuah pukulan mendarat di tengkuk lehernya dan jatuh.
"Aaaarrrgggg!!" pekiknya, lemah.
Seseorang pun mengangkat tubuhnya, lalu membawanya masuk. Ke dalam ruangan untuk bertemu dengan yang lain.
"Reza?" lirih Bagas, yang melihat sepupunya pingsan.
"Kenapa dia?" tanya Om Edward.
"Dia, mengintip. Mungkin suruhan musuh, supaya membebaskan sandera kita."
"Biarkan dia, sebentar lagi Ia bangun. Dia, tak akan berani melawanku." titah Om Edward.
Reza duduk tepat di sebelah Bagas, dengan mata masih terpejam. Bagas pun beberapa kali membamgunkannya, tapi Reza tak merespon sama sekali.
"Bangunlah. Aku lemah, dan aku butuh bantuanmu." bisik Bagas.
__ADS_1