
"Bagas ada perlu apa, sayang? Bilang aja sama Mama." tanya Mama Ayu, yang menatap Bagas hanya diam di sofa bednya.
"Ngga ada, Ma. Nanti, Bagas akan bilang." jawab Bagas.
Benar-benar sepi tanpa Syifa disampingnya. Benar-benar hampa, tanpa tangan terampilnya yang selalu aktif di tubuhnya. Baru Satu jam, rasanya begitu kosong.
"Kalau kesepian, kenapa dibiarin pergi? Disuruh tinggal juga, dia bakal nurut. Dia ngga pernah bantah 'kan? Cuma kadang galak aja." ledek Reza, yang fokus dengan laptopnya.
"Kadang, gue ngerasa dia butuh waktu sendiri, Za. Hang out, dan temu kangen dengan semua sahabatnya. Sejak jadi istri gue, dia ngga pernah sekalipun keluar sendiri." jawab Bagas.
"It's okey... Bersabar aja kalau gitu. Dia rajin ngabarin 'kan?"
"Iya..." jawab Bagas, yang menilik pesan di hpnya.
Syifa mengirimkan foto kebersamaannya dengan para sahabat. Lelaki dan perempuan, tapi Bagas sama sekali tak cemburu atau apapun itu. Syifa tampak tersenyum begitu ceria dan lepas, bagai tak ada beban dalam pundaknya. Sesekali, mengirimkan fotonya sendiri dengan gaya tengilnya.
"Ish, sok imut." ucap Bagas, dengan senyum gemasnya.
Bagas menemani Reza dengan pekerjaannya. Ia ingin mengontrol perusahaan, sekaligus mengecek CCTV yang diberikan Ali padanya.
"Ada apa?" tanya Reza, menatap wajah Bagas yang tampak begitu serius.
"Tak apa." jawab Bagas.
Reza hanya mengangguk santai, lalu kembali fokus ke laptopnya. Ia menatap laptop, tapi fikirannya pada Olin. Entah, apakah pekerjaannya akan selesai tepat waktu dengan fokus yang seperti itu.
***
__ADS_1
"Guys, aku pulang dulu, ya?"
"Ifa, kok cepet banget?" tanya Ratna.
"Kasihan Paksu, dirumah." jawab Syifa, yang selalu teringat Bagas.
"Disana 'kan banyak pelayan, Mamanya ada juga. Kenapa harus sibuk banget sih? Kan loe butuh waktu juga." hardik Cindy.
"Guys, suamiku ngga seperti suami kalian. Aku rasa, ngga perlu banyak menjelaskan, karena kalian udah tahu kondisinya." ucap Syifa, dengan air muka yang mulai serius.
"Iya, kita faham. Anggap aja, mereka cuma bercanda." lerai Erwin, yang hanya pria seorang disana.
Syifa berusaha mengerti, dan berusaha tenang meski hatinya kesal. Ia pun berkemas, dan sebelum itu memberi kabar pada suaminya.
"Cincin loe, berlian asli?" tanya Cindy.
"Lah, gue nanya kali. Tinggal jawab apa susahnya?"
"Akankah, seorang Bagas Nata Nugraha, membelikan Istri tercintanya Berlian imitasi?" sergah Syifa, dengan menunjukkan cincin berlian yang tersemat di jari manisnya.
"Heleh, sombong!"
"Wajar sombong, karena punya. Setiap kelemahan, ada kelebihan yang tersimpan. Dan menurut loe, suami gue lumpuh, tapi gue bersyukur setidaknya dia kaya."
"Matre...."
"Biarin..." ucap Syifa, dengan menjulurkan lidahnya.
__ADS_1
"Udah ih, kayak bocah aja. Ifa, kalau mau pulang, cepetan. Kasihan Bagas." lerai Erwin.
Syifa pun beranjak, lalu berjalan meninggalkan mereka. Di sepanjang jalan menunggu taxi, Syifa menelpon Bagas untuk menanyakan keadaannya.
"Lagi apa, Mas?"
"Lagi duduk, kamu udah mau pulang?" tanya Bagas.
"Iya, lagi nunggu taxi."
"Kenapa ngga pesen online? Kan lebih aman."
"Lupa. Ini udah diluar, nanti malah kelamaan. Eh, itu ada yang lewat." ucap Syifa.
"Yasudah, hati-hati di jalan. Aku tunggu kepulanganmu."
"Iya, Mas.... Eh, ini apa-apaan? Siapa kalian?" pekik Syifa.
"Ha-Halo... Ifa? Kamu kenapa? Halo?"
Ada dua orang pria dan wanita, mendadak datang menghampiri dan membekap mulutnya. Syifa diajak masuk ke dalam mobil, dan matanya di tutup oleh selembar dasi.
"Hey, kalian siapa?" tanya Syifa, berusaha melawan.
"Diam, atau ku rusak wajahmu?" ancam seorang wanita.
"Seperti, pernah mendengar suaranya. Tapi siapa?" Syifa berusaha mengingat.
__ADS_1