
Bagas asyik dengan bolanya, sementara Syifa sedang berganti pakaian di belakangnya. Tersenyum, bahakan sesekali tertawa meladeni kegaduhan yang ada di dalam otaknya.
"Mas, ngapain ketawa sendiri begitu?" tanya Syifa.
"Ngebayangin ikan Fugu, Fa." jawabnya.
"Aneh sih? Yaudah, ayo keluar. Mama Papa udah nungguin soalnya."
Mereka pun keluar dari kamar, mengahmpiri yang sedang berkumpul di ruang keluarga. Mama Ayu menyambut, sembari merentangkan tangannya lagi untuk memeluk Bagas. Ia pun tak henti menciumi Bagas yang telah wangi dan fresh.
" Anak Mama, ganteng banget." dekapnya erat.
Papa Erland pen keluar. Ia juga mmeperlakukan Bagas dengan cara yang sama. Risih, geli, tapi seperti ucapan Syifa, ketika Ia harus bersyukur dengan apa yang ada.
Mereka duduk bersama, menonton Tv sembari menunggu waktu makan malam tiba. Reza pun masih di sana, tapi Ia sibuk dengan laptop Papa Erland dan mengerjakan semua tugas yang masih tertunda. Bagas terus menatapnya, memeprhatikan keseriusan Reza dengan segala pekerjaannya.
"Bisakah, aku mempercayaimu seutuhnya? Bedakah, kamu dengan Papamu, Za. Aku hanya takut, jika kamu hanya menjadi boneka untuknya saja." batin Bagas.
"Ma, Syifa mau bantu Bibik siapin makanan, ya?" pamit Syifa, dan Mama Ayu mengangguk padanya.
Syifa meninggalkan mereka disana, lalu menghampiri para Bibik di meja makan.
__ADS_1
Keakraban begitu kental, penuh canda dan tawa ceria. Meski Bagas hanya bisa tersenyum tipis diantara mereka. Berharap, tak ada yang merusak malam ini hingga semua istirahat di tempat masing-masing.
Makan malam siap. Semua menu istimewa telah tertata rapi di meja. Makan malam semakin terasa spesial, karena semua hadir dan lengkap dengan Reza. Mama Ayu mendorong kursi roda Bagas, dan membawanya duduk tepat di samping Syifa.
"Sebenarnya, Mama pengen suapin kamu juga. Tapi, Syifa lebih terampil." batin Mama Ayu.
Sang Mama pun melayani semua, untuk mengambilkan nasi di piring masing-masing. Lalu, santap malam di mulai. Keadaan berubah hening, hanya terdengar suara piring dan sendok yang saling beradu.
" Udah, selesai makannya. Mas disini dulu, Ifa mau makan sebentar aja." ucap syifa, yang telah selesai menyuapi suaminya.
Ia memang selalu tertinggal, tapi semua menunggunya hingga selesai. Setelah itu, baru beranjak dari meja makan.
"Fa...?" panggil Bagas..
"Iya, kenapa? Mau ke kamar mandi?"
"Belum.. Rasanya begah, apa kurang serat?" tanya Bagas, meraih perutnya.
"Wah... Bahaya itu. Wajar sih, soalnya Mas jarang gerak 'kan. Jadinya gitu." jawab Syifa.
Namun, Syifa menghindari untuk memberikan Bagas obat perangsang kali ini, karena terlalu banyak obat yang Ia konsumsi.
__ADS_1
"Mas, doyan pepaya?"
"Iya, doyan. Kenapa?"
"Boleh ngga, Syifa minta Gibran kesini? Di rumah Ayah ada buahnya, jadi biar dia anter."
"Sekalian aja, Ayah sama Ibu ajak ya, Fa. Mas mau kenal mereka. Sudah Tiga bulan lebih menikah, tapi Mas bahkan belum pernah bertemu. Cuma sekali, waktu akad."
Semburat wajah bahagia terpancar dari Syifa. Keinginan untuk bertemu Ayah dan Ibunya, akhirnya ter realisasikan. Ia tak sabar, ingin mengabari mereka agar datang kerumah besar itu.
" Ayah ngga jualan dong?" tanya Pak Abu.
" Yah, libur sehari nengokin anak kenapa? Ngga begitu rugi juga. Apa mau Syifa ganti kerugiannya?"
"Bu-bukan begitu, Fa. Tapi... Sebenarnya Ayah sungkan kesana. Masuk ke rumah besar, dengan kami yang seperti ini. Mertuamu gimana?"
"Mama Ayu? Ah, ngga papa. Mereka baik dan welcome kok. Lagian, mereka besok mau keluar kota." jawab Syifa.
"Bukan kenapa-kenapa, Fa. Tapi kejadian dulu belum terbuktikan hingga sekarang. Ayah takut, Mama mu itu, masih menganggap Ayah sebagai penyebab...."
"Sudah, ngga usah di ingat lagi. Toh, Syifa disini sekarang dan mereka semua baik, Yah. Syifa tunggu besok." ucap syifa, lalu mematikan teleponnya.
__ADS_1