Suamiku Pria Lumpuh

Suamiku Pria Lumpuh
Ingin pulang, dan segera memelukmu.


__ADS_3

Syifa menunggu, dan tetap menunggu di kamarnya. Berharap tak lama lagi kabar dari Bagas dan yang lainnya.


"Maaf, Mas, Syifa lalai. Syifa ngga tahu, kalau Hp Mas udah di setting ke mobil Reza. Akhirnya, Papa telat lapor polisi." sesal Syifa.


Hp Bagas stanby di ruang lain bersama polisi. Mereka menggunakan itu untuk keperluan penyelidikan. Apalagi, banyak data yang memang Bagas simpan disana. Termasuk, rekaman CCTV yang ada di mobilnya sebelum kecelakaan.


" Nona... Ada telepon." panggil Pak polisi pada Syifa.


Ia pun berlali kencang, dan menjawab telepon itu.


"Sayang... Kamu, dimana?" tanya Bagas, dengan nafas terengah-engah.


"Mas...? Ifa di rumah. Ifa ngga kemana-mana, karena Mas ngga izinin. Disini, juga banyak polisi dan pengawal."


"Bagus... Ifa tetap di sana, nanti Mas akan pulang. Sekarang, mau bawa Reza ke Rumah sakit."


"Mas Reza kenapa?" tanya Syifa.


"Hanya luka kecil, tak apa. Ifa tetap di rumah, dan jangan kemana-mana. Kata Reza, kamu ngga mau makan seharian?"


"Maaf... Ifa akan makan setelah ini."

__ADS_1


"Pintarnya Humairahku." puji Bagas, yang membuat Syifa tersenyum dalam tangisnya.


Bagas kemudian mematikan teleponnya. Melanjutkan urusannya dengan yang lain. Syifa lalu berlari, duduk di meja makan dengan penuh antusias menghabiskan santap malamnya.


"Ibu, semangat sekali?" tanya Olin.


"Dia, sebentar lagi pulang. Mas Bagas ngga mau, lihat saya dalam keadaan lemah. Yang Mas Bagas tahu adalah, Humairahnya wanita yang kuat." ucap Syifa, kembali menitikan air mata.


Olin menatapnya haru, sembari melayani Syifa dengan segala menu kesukaannya. Di tambah lagi, dengan Mama Ayu yang menghela nafas lega dengan kabar itu.


***


Om Edward, beserta anak buahnya yang lain. Sementara Tante Viona berhasil kabur, dan Om Aldo sampai di hadiahi timah panas karena mencoba melarikan diri.


Mereka pergi ke Rumah sakit terdekat, dengan Papa Erland yang menyetir di depan. Tak mampu menunggu lagi ambulance, karena melihat Reza sudah nyaris pendarahan.


Tiba di Rumah sakit, para perawat langsung menyambut dengan brankarnya. Bagas melepaskan genggaman tangannya dari Reza, lalu perlahan melangkah turun dari mobil sang Papa.


"Bismillahirrohmanirrohim..." ucapnya, dan langkah kaki pertamanya turun.


Bahagia tiada tara, membuatnya tersnyum lepas tak menyangka akan keajaiban yang telah Ia dapatkan saat ini. Bukan hanya karena Syifa, tapi juga karena Reza, sepupunya. Ia tak menyangka, jika semua itu akan terjadi padanya.

__ADS_1


"Masya allah... Bagas?" kaget Papa Erland, yang menatap dengan mata kepalanya sendiri, ketika Bagas berdiri sendiri dengan kedua kakinya.


"Bukankah, tadi Papa lihat ketika di sana?"


"Papa kira, itu hanya spontan dan kamu akan jatuh lagi." jawab Sang papa.


"Bagas kira juga begitu, Pa. Tapi, ternyata benar-benar terjadi."


Papa Erland lalu memapah tubuh Bagas untuk masuk ke dalam IGD. Ia meminta para dokter juga melihat kondisi yang di alami Bagas saat ini. Mereka masih tak percaya, akan keajaiban yang telah terjadi.


"Bagaimana, dok?" tanya Bagas.


Sang dokter hanya menatapnya heran, sembari melihat semua hasil terpampang nyata di tangannya.


"Bapak, kecelakaan kapan?"


"Sudah, satu tahun yang lalu. Saya lumpuh total." jawab Bagas.


"Kalau bicara ke ajaiban, itu pasti ada. Meski dalam dunia medis, itu kadang di ragukan. Tapi, Bapak adalah salah satu orang yang mendapatkan ke ajaiban itu sekarang."


Bagas hanya tersenyum renyah mendengar jawaban itu. Meski sebenarya masih sedikit nyeri.

__ADS_1


" Tapi tak apa. Hanya tinggal pemulihan. Aku akan pulang, dan memeluknya seperti biasa." batin Bagas, yang sudah membayangnya senyum istrinya yang menggemaskan.


__ADS_2