Suamiku Pria Lumpuh

Suamiku Pria Lumpuh
Gadis yang tak mudah di taklukan


__ADS_3

Semua orang berbondong-bondong menghampiri mereka berdua. Melihat apa yang terjadi, hingga harus tampak begitu mengkhawatirkan.


"Ada apa, kenapa?" tanya Syifa, yang datang dengan langkah anggunnya.


"Ini, Bu. Olin sama Pak Reza." jawab seorang pegawai.


"Mas, ada apa?" lirik Syifa.


"Aku... Hanya, mencoba merayunya. Tapi, sepertinya tak mempan. Malah huru hara begini." senyum Reza, tersipu malu.


Semua orang mulai tampak berbicara menurut penafsiran masing-masing. Ada yang mencemooh, ada yang menganggap Reza hanya bermain-main. Dan bahkan, ada yang menatap Olin dengan sinis. Olin pun diam bergeming, merasa terpojok dan malu akan semua keadaan.


"Untuk apa, Bapak ngeprank saya?" tanya Olin, yang tampak sedih.


Reza langsung bingung, ketika melihatnya seperti itu. Seketika rasa bersalah menghampiri, apalagi melihat Olin dengan mata berkaca-kaca karenanya.


"O-olin, saya ngga ngeprank kamu. Sa-saya serius, lagi ngerayu kamu." ucap Reza, tampan serba salah.


"Olin, kamu kenapa? Kok malah sedih?" tanya Syifa, yang menghampirnya.


"Bu... Saya hanya pegawai rendahan. Saya sadar itu. Saya, mempertahankan perkerjaan ini sekuat tenaga. Ini, pekerjaan terbaik yang saya temui, dengan gaji yang dapat saya andalkan. Untuk kost, untuk kuliah. Saya menahan perasaan, agar semakin kebal dengan kenyataan." jawab Olin, dengan air mata yang tampak tertahan.

__ADS_1


" Reza ngga ngeprank, Reza serius. Dia suka sama kamu, sejak saat itu, Olin." ucap Syifa lembut.


" Olin, Aku... Benar-benar suka sama kamu, Lin. Percayalah." ucap Reza.


Entah apa fikiran Olin kali ini. Bingung, galau, campur aduk menjadi satu. Bahkan, Ia takut. Takut cibiran, takut di permainkan, takut dengan semua sanksi sosial yang mungkin akan menghampirinya.


Seorang OB, berhubungan dengan seorang Genderal Manager. Rasanya begitu tak mungkin bagi Olin. Gadis itu lalu melangkahkan kakinya, pergi meninggalkan keramaian yang ada.


"Olin? Olin, tunggu. Dengarkan penjelasan saya. Olin....!" seru Syifa, berusaha mengejarnya. Tapi terhalang oleh cegatan Bagas, yang ternyata menyaksikan semua keributan itu.


"Ifa... Kembali ke ruangan." pinta Bagas pada sang istri.


"Hhh, ternyata dia adalah gadis, yang tak mudah di taklukan." gumam Reza.


Ia pun tak selera lagi melanjutkan makanan siangnya. Ia memilih kembali ke ruangan, sembari mencari tahu apa yang akan Olin lakukan setelah ini.


***


"Kenapa tadi?" tanya Bagas.


"Pasti Mas udah tahu. Ifa, ngga perlu jelasin 'kan?" jawab syifa, tertunduk lesu.

__ADS_1


Bagas menghampirinya yang duduk di sofa. Mengangkat dagunya, lalu menatap matanya tajam.


"Aku bukan tak ingin membantu. Tapi, akan banyak kejadian, jika kita terlalu ikut campur dalam urusan mereka."


"Kejadian apa?" tanya Syifa.


"Ingat aku dan Luna?"


"Kok bahas itu lagi?" kesal Syifa, dengan tatapan kesalnya.


"Belajar dari kisah itu, Fa. Dulu, Reza yang mencintainya. Tapi, karena aku terlalun ikut campur, akhirnya Luna justru yang mengejarku. Mau dibilang terpaksa, tapi hubungan berjalan Lima tahun. Hanya tak ingin, kesalahfahaman kembali terjadi. Kondisi baru mulai pulih, sayang." ucap Bagas dengan begitu lembut.


"Syifa, hanya ingin sedikit saja membantu."


"Ya, Aku mengerti. Kita lihat, kelanjutannya saja. Tapi, lihat dari kejauhan."


"Iya, Mas." balas Syifa.


Ya, setidaknya Syifa sudah berusaha. Dan kini, tinggal melihat hasilnya. Yang penting, Reza sudah menyatakan rasa suka nya pada Olin, meski Olin masih ragu dengan kesungguhan itu.


"Tapi, kenapa dia menangis? Seperti, Ia sedang menghindari perasaannya sendiri." tanya Syifa dalam hati

__ADS_1


__ADS_2