Suamiku Pria Lumpuh

Suamiku Pria Lumpuh
Reza juga ingin di peluk


__ADS_3

Tak terasa hari sudah petang. Syifa membangunkan Mama Ayu untuk makan malam bersama. Meski yang lain belum pulang, tapi setidaknya Mertuanya itu bisa membersihkan dirinya sebentar.


"Oh iya, Fa. Itu, oleh-oleh buat kamu." tunjuk Mama Ayu, pada beberapa Paper bag yang ada di sofanya.


"Apa ini?" Syifa mengambil satu.


"Bukan satu, semuanya."


"Hah, semua?" kaget Syifa.


"Ya, Mama dan Papa patungan buat beliin kamu semua itu. Manfaatin dengan baik." ucap Mama Ayu, lalu berjalan menuju kamar mandinya.


Syifa tampak begitu kaget, tapi Ia bahagia. Ternyata mertua yang tampak arogan dan pendiam itu selalu memperhatikan dia. Bahkan sampai sedetail itu.


" Malu kali ya, kalau keluar pakai pakaian jadul?" gumamnya dalam hati.


Ia pun keluar dengan begitu riang gembira. Berjingkrak-jingkrak sembari menari menyandang paper bag yang berisikan baju-baju itu. Tanpa sadar, Reza menatapnya dengan geli.


"Kenapa, Fa?"


Syifa terhenti dan bahkan nyaris jatuh karena kaget. Tapi tubuh nya masih bisa seimbang dan menahan semua beban itu.


"Eh, Mas Reza udah pulang." senyumnya malu.

__ADS_1


"Iya, sama Om juga dibelakang. Kamu kenapa? Seneng banget."


"Senenglah, dibawain oleh-oleh sama Mama dari luar kota. Dah dulu ya, mau siapin Mas Bagas buat makan malam." pamit Syifa, lalu berjalan cepat menghampiri Bagasnya.


"Masss... Makan malam yok." ajak Syifa.


"Aku udah nunggu daritadi, kenapa lama? Itu apa?" lirik Bagas pada bawaan Syifa.


"Oleh-oleh dari Mama dan Papa." balasnya. Lalu Syifa membuka isinya, yang ternyata berisi begitu banyak pakaian yang bagus, bahkan beberapa dress yang sering Ia lihat dalam situs online.


"Wuaaaahhhh... Ini Syifa dari dulu pengen banget, ternyata Mama beliin." kagumnya.


"Kalau kepengen, kenapa ngga beli? Emang ngga bisa belanja online?"


"Bisa, tapi..... Mahal. Sayang uangnya." ucap Syifa tertunduk.


"Ya, maaf... Jiwa-jiwa orang miskinnya masih belum nyadar, kalau udah nikah sama orang kaya." jawab syifa, dengan memainkan Kakinya di lantai.


Bagas hanya bisa menggelengkan kepalanya. Ia memang sudah tak takjub lagi dengan tingkah istrinya yang menggemaskan itu.


Syifa lalu membereskan pakaian barunya itu di lemari. Ia kemudian mendorong Bagas dan membawanya ke ruang makan. Masih berdua, karena yang lain belum keluar dari kamar masing-masing.


"Mana mereka?" tanya Bagas yang mulai gelisah..

__ADS_1


"Sabar, bentar lagi juga keluar. Mereka capek, abis ngurusin huru hara di kantor." jawab syifa.


"Apa mau makan duluan, Mas?"


"Engga, tunggu mereka aja." jawab Bagas, yang tampak menahan lapar kala itu.


Beberapa menit berselang, akhirnya Mama Ayu dan Papa Erland keluar. Mereka langsung menghampiri Bagas untuk memeluk dan menciumnya erat.


"Mamaaaa, aaaahhhh..." keluh Bagas yang berusaha menghindar.


"Kan, Ma. Udah mulai bisa menghindar dianya. Baru aja pasrah di apa-apain mau." ledek Sang Papa yang gemas.


"Iya, meski bahagia karena sembuh, tapi Mama masih pengen peluk cium kamu kayak kemarin." balas Sang mama.


Mereka pun terkekeh bersama, menikmati suasana ramah yang ada saat ini. Hingga satu lagi bujangan yang menghampiri mereka disana.


"Weh, apaan ini? Kenapa pada kegirangan begitu?" tanya Reza.


"Ngga papa, Za. Tante lagi menikmati moment memeluk Bagas aja, mimpung belum bisa lari." canda Mama Ayu.


"Reza, juga pengen di peluk. Reza ngga akan lari kalau di peluk, meski Reza bisa lari sejauh mungkin." ucap Reza, dengan mata nanarnya.


Seketika Mama Ayu memeluk keponakannya tercinta itu. Ia tahu betul, ketika itu Reza pasti rindu akan Mamanya. Apalagi, Ia sedang bermasalah dengan sang Papa hanya demi mempertahankan hak Bagas di perusahaan.

__ADS_1


"Jangan sedih, kan ada Tante. Tante sama dengan Mama kamu, begitu juga Om yang sama dengan Papamu." ucap Mama Ayu, mengusap wajah Reza.


"Begitu aja nangis, lemah." cibir Bagas pada sepupunya itu.


__ADS_2