Suamiku Pria Lumpuh

Suamiku Pria Lumpuh
Sambutan untuk Breyhan


__ADS_3

Hari yang ditunggu telah tiba. Pagi hari yang cerah, ditemani mata hari yang bersinar dengan indahnya. Baby Brey telah mandi dan di bawa berjemur di teras ruangan mereka. Dan Syifa tengah dibantu Mama Ayu untuk mandi sendiri.


"Yakin ngga pakai air anget?"


"Engga, Ma. Malah ngga enak. Air dingin malah seger." jawab Syifa, yang perlahan membuka pakaiannya. Ia duduk di kursi yang tersedia, lalu Mama Ayu mulai membantu nya menyiram tubuh dengan air. Keramas, dan begitu segar meski tampak bergidik kedinginan.


Mama Ayu menghanduki tubuhnya. Lalu membimbingnya masuk ke kembali keruangan. Membantunya memasangkan pembalut dan memakai bajunya dengan yang lebih rapi.


"Brey mana, Ma?"


"Lagi jemuran, sama Neneknya. Biarin, biar makin sehat. Kamu juga, cepetan nyusul." ucap Mama Ayu, yang memakaikan Syifa bedak.


"Nanti akan ada wawancara. Mereka mau tahu, kabar kamu dan Baby Brey. Mau ngga mau, kamu harus ikut. Inilah, resiko istri presdir besar."


"Iya, Ma." jawab Syifa. "Tapi, Brey belum boleh ikut, ya? Jangan di publish dulu. Nanti, kalau udah Empat puluh hari aja."

__ADS_1


"Iya," Mama Ayu membereskan alat make upnya. Dan tak lama kemudian, Baby Brey datang untuk sarapan paginya.


"Udah bisa. udah bisa kan? Ayo susuin anaknya," Bu Mariam membantu menaruh Brey ke posisi yang nyaman.


"Aaaaakh, sakit!" pekik Syifa dengan menggigit bibirnya, dan dengan spontan menghentakkan kakinya ke lantai ketika Brey mulai menghisapnya dengan kuat.


"Sabar, lama-lama terbiasa. Memang, kalau pertama kali itu sakit, perih, dan bahkan rasanya ingin putus." ucap sang Ibu. Syifa hanya mengangguk, dan melanjutkannya meski masih menahan sakit. Untungnya, Brey tak terlalu rewel dan tenang dengan hisapannya.


"Hey sayang, sudah siap?" panggil Bagas, yang telah rapi dengan jasnya. Ia telah mempersiapkan pertemuan, dan hanya tinggal menunggu sang Nyonya untuk keluar.


"Masa, cemburu sama anak sendiri?" ledek Syifa. "Ya, bagaimana pun, cinta pertama anak lelaki adalah untuk Ibunya."


"Besok, program bikin cewek, yuk."


"Astaga! Yang kemarin, sudah tak sakit kah?" kaget Bagas.

__ADS_1


"Besoknya, besok masih lama, Mas. Ish, fikirannya kemana?" tukas Syifa, menatap suaminya kesal.


"Oh, kirain." Bagas menjulurkan lidahnya.


"Puasa, sayang. Empat puluh hari," tatap Mama Ayu tajam pada sang putra. Semua hanya tertawa, melihat respon Bagas yang langsung lemah tak berdaya. "Lebay," ledek Syifa.


Brey telah selesai. Syifa merapikan diri dan menggandeng suami nya untuk keluar bersama. "Brey, tak diajak?" tanya Bagas.


"Ngga usah dulu. Nanti, kalau sudah sebulan lebih, baru perkenalkan. Yang kita alami sudah berat, Mas. Ifa hanya menghindari, kejadian yang tak pernah kita inginkan." jawab Syifa. "Karena, trauma itu masih membekas. Apalagi untuk Reza." fikirnya.


Mereka telah tiba di Aula. Semua dekorasi dibuat mewah, dengan tulisan Welcome Baby Breyhan di dinding khusus dengan balon-balon yang tersusun rapi. Syifa takjub, dan tak menyangka jika penyambutan akan begitu meriah untuknya dan Breyhan. Wajahnya penuh haru, dan bahkan nyaris menangis dengan semua yang Ia terima.


"Belum pulang, tapi kadonya banyak banget."


"Ya, karena dari beberapa yang benci, ada banyak yang begitu sayang. Hargai mereka, jangan terlalu mengingat sebuah kebencian." bisik Bagas ke telinga sang istri.

__ADS_1


__ADS_2