
Tok.. Tok... Tok...!
Pintu kamar Syifa dan Bagas di ketuk. Syifa pun menghentikan aktifitasnya memijat kaki Bagas, dan membuka pintu itu.
"Ada apa, Bu?" tanya Syifa.
"Fa, Ibu tadi bawain bakso. Makan bareng yuk. Ajak Bagas sekalian." ucap Bu Mariam.
"Iya bentar. Syifa siapin Mas Bagasnya dulu."
Bu Mariam pun pergi, menghampiri Pak Abu dan Gibran yang menunggu sembari duduk di depan Tv.
"Yah, kalau nonton Tv segede ini, puas ya?" ucap Gibran, menonton Anime kesukaannya.
"Puas, tapi kalau beli yang begini, rumahnya yang ngga muat." jawab pak Abu.
"Lagipula, daripada beli tv, kan enak beli Hp buat kamu. Belajar serba online, Hp udah begitu." imbuhnya.
"Iya, Gibran lagi nabung loh ini. Yang Gibran cari dan yang Ram nya gede kan lumayan mahal, Yah." balas Gibran.
__ADS_1
"Yah, sini makan dulu. Baksonya sudah siap. Syifa bentar lagi keluar." panggil Bu Mariam.
Pak Abu dan Gibran langsung menyusulnya di meja makan, dan duduk dengan rapi.
*
"Mas doyan bakso 'kan?" tanya Syifa.
"Doyan, tapi jangan pedes. Lambungnya rasa ngga enak, nanti malah ngerepotin kamu." jawab Bagas.
Syifa mengangguk, lalu membawa Bagas menuju meja makan. Semua hidangan nya sudah siap dan terjejer rapi disana.
Aroma semerbak kuah bakso yang begitu segar, mengisi hampir seluruh ruangan itu. Syifa telah begitu rindu dengan makanan yang menjadi sumber rezeki keluarganya selama puluhan tahun itu. Ia pun tak akan pernah bosan untuk memakannya, meski setiap hari membantu membuat dagangan.
"Enak kan, baksonya?" tanya Syifa, dan Bagas hanya mengangguk manis.
Tampak canda tawa di meja makan itu. Gibran yang makan dengan lahap nya, pak Abu yang semangkuk berdua dengan istrinya. Memang tampak gaduh, tapi menunjukkan sisi membahagiakan dari mereka semua. Gibran tampak begitu senang memperhatikan mereka.
Bagas menyukai menu itu, Ia bahkan menghabiskan banyak bakso kali ini. Semoga saja, perutnya tak sakit dan membuat Syifa benar-benar repot karenanya.
__ADS_1
"Udah ya, nanti lagi makannya. Kekenyangan ngga enak loh, begah." ucap Syifa.
"Eh iya, ngomongin begah. Tadi Ibu bawa kates di belakang, tinggal dikupas."
"Iya, Bu _bentar. Syifa laper juga ini, udah lama ngga makan bakso Ayah."
Syifa lalu meraih mangkok, mengambil bakso dengan porsi lumayan untuk ukuran wanita mungil sepertinya. Di tuangnya sambal dan saos dalam jumlah banyak, lalu menyantap nya dengan penuh kenikmatan. Bagas sampai melotot melihatnya.
" Astaga, ikan fugu ini. Kenapa makan begitu banyak? Padahal baru saja melarangku makan banyak. Dan itu... Dia makan sambal seperti itu? Aaah, aku tak bisa membayangkan lambungnya menangis di dalam sana." gerutu Bagas dalam hati.
Selesai makan siang dengan baksonya, Syifa mengajak semua kembali menonton tv. Bagas diletakkannya di atas sofa bed, agar dapat duduk dengan kaki yang lurus. Sementara Ia menyuapi kates untuknya.
Pleeekkk!! Pak Abu meraih kaki Bagas. Lalu, Ia mengangkat dan meletakkan diatas pangkuannya.
Bagas tercengang, Ia terkejut menatap sang mertua. Ia segan, ingin menolak namun tak bisa, hingga hanya bisa diam saat ini. Pak Abu pun perlahan memijat kaki Bagas dengan lembut, sembari matanya menonton tv.
"Udah, Mas_ nikmatin aja. Ayah ini ada keturunan tukang pijet. Jadi ngga akan ngasal mijetin kaki, Mas." ucap syifa.
"Bukan masalah nikmatnya. Tapi ini, mertuaku memijat kaki ku Fa. Serasa ngga sopan akunya." gumam Bagas dalam hati.
__ADS_1
Tapi lama kelamaan Bagas menikmati, dengan segala rasa haru atas keperdulian yang mereka berikan padanya. Padahal, Pak Abu sempat berat untuk menikahkan mereka berdua kala itu.
Bagas menikmati moment ini, moment penuh kebersamaan dan senda gurau. Apalagi melihat wajah Syifa begitu ceria ketika bercengkrama dengan Ibu dan Adiknya. Serasa lepas semua beban yang Ia pikul, serasa lega nafasnya berhembus.