
Di sela kesibukannya, Reza menyempatkan diri untuk keluar sejenak. Ia pergi dengan mobilnya, menelusuri jalanan Ibu kota yang lengang dan terik. Demi apa? Demi mencari si rambut Mie yang menganggu tidur malamnya.
"Mana sih? Kok ngga ketemu juga? Kemarin, tiba-tiba nongol. Nah ini, di cari malah menghilang." keluh Reza.
Hingga beberapa menit mencari, Ia tak kunjung menemukan bahkan jejak kecil apapun. Hingga Papa Edward mencarinya, dan menghubunginya via telepon untuk menanyakan keberadaannya.
"Hallo, Om?"
"Dimana kamu?"
"Cari Mie, Om."
"Hah, Mie? Kemana kok lama?"
"Hehe, ada deh. Bentar aja, nanti Reza pulang sendiri. Ngga usah khawatir, ngga usah cemas. Reza akan pulang dengan selamat."
"Ah, ya terserahlah. Yang penting, Satu jam lagi harus sudah di kantor. Kita ada meeting Satu jam lagi, dan jangan sampai kamu ngga hadir, Za."
"Oke, Om." balas Reza, lalu mematikan teleponnya.
"Eh, itu dia....!" pekik Reza.
Gadis itu tengah berseragam rapi, mengenakan tas ransel besar dan berjalan santai di trotoar jalan. Tentu membuat Reza kesulitan, apalagi mengejarnya menggunakan mobil.
__ADS_1
"Heyyyy.... Rambut Mie! Tunggu!" pekiknya, membuat orang lain menatap heran pada kegilaannya.
Gadis itu mungkin tak mendengar suara Reza yang menggelegar. Ia terus berjalan, hingga memasuki sebuah gang sempit.
"Hey, tunggu! Ah, masuk sana lagi." keluh Reza.
Ia berusaha menepikan mobilnya, namun tak bisa. Meski jalanan lengang, tapi itu merupakan jalur Dua arah dengan tanda larangan parkir meski hanya sebentar. Otomatis, semua kendaraan yang ada di belakang nya terus mengklakson tanpa henti dan memekakkan telinga.
"Woy! Dilarang parkir. Kagak lihat apa tulisan segede gaban begitu?" omel orang yang jauh dibelakang.
"Maaf, Bang." ucap Reza. Memberi isyarat dengan tangannya.
Reza pun kembali menjalankan mobilnya. Sembari terus menatap gang sempit tempat gadis tadi menghilang.
Reza fokus kembali melakukan aktifitasnya yang padat. Rapat, mengurus dokumen dan bahkan mewakili Bagas bicara dalam setiap pertemuan. Ia menjalani itu semua dengan rasa nyaman yang luar biasa, meski Ia tahu jika Ia selalu di awasi apapun yang Ia lakukan.
"Darimana?" tanya Seorang anggota dewan, yang bertemu dengannya di lift.
"Kenapa harus menjawab?"
"Karena itu pertanyaan Papamu." balasnya.
"Katakan padanya. Jika perduli, berubahlah, maka aku akan kembali."
__ADS_1
"Justru kau, yang harus menurutinya. Dia melakukan semua itu demi....."
"Demi kebaikan dirinya sendiri, dan semua ambisinya. Tak pernah ada aku, bahkan dalam mimpi nya." jawab Reza, lalu keluar setelah liftnya terbuka.
"Gila... Sudah mengirim pengawas dimana-mana. Harus bertindak lebih hati-hati rupanya." gumam Reza.
***
Hingga mereka tiba di rumah, Syifa masih saja diam. Meski masih berusaha ramah seperti biasanya, Bagas faham bagaimana wanita yang telah menjadi candu bagi hidupnya itu.
Syifa mengajaknya langsung ke kamar, lalu mengganti pakaian Bagas seperti biasanya. Bagas hanya menatap diam, tanpa mau bertanya apapun padanya.
"Orang ngambek di diemin. Ditanya kek, kenapa, ada apa? Dasar." gerutu Syifa yang kesal.
Bagas duduk di ranjangnya. Syifa duduk di ujung kaki Bagas, sembari memijat kaki, dan sesekali mengangkat turunkannya keatas.
Kreeeekkkk! Syifa menekuk jari-jari Bagas hingga berbunyi begitu kuat.
"Aaaaakkkkhhh! Sakit, sayang. Kamu kenapa sih?" pekik Bagas.
"Ngga papa." jawab Syifa, yang masih terus dengan aktifitasnya.
"Fa... Udah, Fa. Kalau begini, kamu nyakitin aku. Sakit banget tahu." pinta Bagas.
__ADS_1