
Kabar akan di serangnya rumah Bagas kemarin sore, sudah menyebar kemana-mana. Semua orang sudah membicarakannya di lingkungan kantor, bahkan merambah ke para rekan bisnisnya. Dan kini, keadaan menjadi tengang kembali.
"Gas, mereka nanyain Loe di kantor." ucap Reza, di tengah sarapan mereka.
"Lalu, apa kata mereka?"
"Baru nanya kabar, dan belum tanya yang lain."
"Bagus, kontrol terus." balas Bagas, dan Reza hanya mengangguk.
Syifa datang menghampiri mereka. Wajahnya masih tampak lesu dan pucat. Ia bahkan mandi dalam waktu yang lama seperti biasanya hari ini. Hingga membiarkna Bagas lebih dulu sarapan bersama Reza.
" Mas...." panggilnya pada sang suami.
Bagas pun menoleh, lalu menyambutnya untuk duduk di samping dan sarapan bersama.
"Mau disuapin?"
"Ngga usah, Mas abisin aja sarapan Mas dulu. Nanti minum obatnya ngga telat." jawab Syifa.
Mereka sarapan bertiga pagi ini. Ibu dan Ayah Syifa pamit ketika subuh, dengan alasan mengurus Gibran dan sayang ketika harus libur jualan. Ya, Syifa sangat mengerti kesibukan mereka. Apalagi, Syifa juga tak terlalu lemah hari ini.
Bagas menghabiskan sarapannya. Lalu Ia mengambil piring Syifa yang masih utuh dengan makanannya.
"Ifa bisa sendiri, Mas." tukas Syifa, berusaha merebut piringnya kembali.
__ADS_1
"Humairah...."
"Iya..." jawab syifa dengan pasrah. Akhirnya Ia makan dengan suapan dari suaminya.
Reza kemudian pamit. Begitu banyak panggilan untuknya hari ini. Ia tampak bingung, ketika semua jadwal bertabrakan dan tak ada yang bisa mewakilinya.
"Kalau ada apa-apa, panggil aja." ucap Bagas, yang fokus dengan Syifa.
Reza hanya mengangguk, mengenakan jasnya lalu pergi.
Bagas meneruskan untuk menyuapi Syifa, hingga makanannya tandas. Ia lalu meminta Syifa membawanya ke kamar, untuk meminum obat masing-masing.
" Ngomong apa sama Mas Reza? Kok serius bener nampaknya?" tanya Syifa.
"Mengenai kejadian kemarin. Kami akan usut tuntas, siapapun yang melakukannya. Meski, jika orang itu adalah Om Edward sendiri."
"Ada, kita lihat rekaman CCTV nanti." jawab Bagas.
Syifa membungkam mulutnya sendiri. Matanya membulat, dan menyisiri setiap sudut kamar yang Ia tempati.
"Ifa kenapa?" tanya Bagas.
"Di kamar ini, ada CCTV?" lirih Syifa.
"Kalau iya, kenapa?"
__ADS_1
"Masss, Ifa serius. Masa iya ada CCTV di kamar pribadi?"
"CCTV luar, sayang. Mulai aneh fikirannya. Malu lah, mana mungkin bisa bebas bergerak nantinya." goda Bagas, dengan mengedipkan mata genitnya.
"Ih, apaan? Masih pagi, Mas..."
"Pagi-pagi juga ngga papa, kan katanya harus sering-sering."
"Aaaa, ngga mau." Syifa lalu membaringkan tubuhnya, dan menutupi nya dengan selimut tebal.
Bagas hanya terbahak melihat tingkah kocak istrinya itu. Ia lah penghibur di hati Bagas, ketika Ia sudah mulai di pusingkan oleh masalah kantor..
***
Cliiiing..! Suara lift berbunyi. Reza keluar dan menuju ruangan kerjanya. Disana sudah menumpuk berbagai file yang harus Ia periksa. Dan beberapa lagi, harus Ia bawa pulang untuk di tanda tangani oleh Syifa.
"Bolak balik, bolak balik terus. Udah kayak setrikaan ini badan." keluhnya, dengan menghela nafas pasrah.
"Semua tak akan seperti ini, jika kamu yang jadi Direktur utamanya. Bukan kamu yang melayani, tapi kamu lah yang akan di layani."
"Kenapa kesini lagi? Mending Papa di rumah aja, duduk, diam, dan menerima jatah dari perusahaan. Apa itu belum cukup?" sergah Reza.
"Papa ngga akan puas, jika perusahaan belum di alihkan pada Papa, dan mendiang nenek kandungmu."
"Apa Papa, yang meminta orang menyerang rumah Bagas kemarin sore?" tanya Reza dengan lirih, dengan tatapan tajamnya yang penuh kebencian.
__ADS_1
"Jangan pernah kamu halangi Papa. Karena Papa, ngga akan pernah pandang siapa yang menghalangi usaha Papa. Termasuk kamu, Za."
Jawaban yang tak mengartikan pengakuan, tapi tak pula mengatakan tidak. Reza hanya diam, menatap sang Papa dengan mata berkaca-kaca. Dalam kondisi ini, Ia akan jadi serba salah. Menjadi durhaka, atau menjadi seorang pengkhianat.