Suamiku Pria Lumpuh

Suamiku Pria Lumpuh
Berkumpulnya Dua keluarga


__ADS_3

"Assalamualaikum..."


"Waalaikumsalam... Ibu, Ayah? Ih, kok dateng?" tanya Syifa, yang tampak bahagia menyambut kedua orang tuanya yang datang.


Syifa menggandeng Bu Mariam masuk ke rumah, mengajaknya bergabung untuk makan malam bersama semua orang.


"Udah di tungguin daritadi loh, Bu." sapa Mama ayu dengan ramah.


"Ah, iya. Alhamdulillah, kedai masih ramai tadi, jadi bantuin Gibran dulu." jawab Bu Mariam.


"Anaknya, ngga ikut, Bu?" sambung Reza, yang memang begitu akrab dengan Gibran.


"Katanya sayang tutup cepet. Jadi, dua nerusin jualan sambil belajar." jawab pak Abu.


Syifa melayani semua orang. Ia menyendokkan nasi ke piring masing-masing, dan memberikan lauk untuk mereka. Makan malam dimulai, begitu ramai dan dan penuh canda tawa.


"Ibu, biarin Bibik yang cuci piring. Ibu duduk aja sama Yang lain." tegur Mama Ayu. Ia mulai akrab dengan besannya itu, meski awalnya tampak canggung meski hanya sekedar bertegur sapa.


Mama Ayu pun menggandeng Bu Mariam, dan membawa nya duduk untuk berbincang bersama. Tampak Pak Abu, yang sedang memijat kaki menantunya dengan begitu terampii di setiap uratnya.


"Yah, sakit, Yah." keluh Bagas, meringis karenanya.


"Bagus kalau sakit. Itu, tandanya setiap ototmu berreaksi dengan setiap rangsangan yang diberikan. Apa, sudah belajar jalan?" tanya Pak Abu.


"Sudah, Yah. Terapi robotic, terapi buat jalan. Tapi, masih tahap awal."


"Baguslah. Memang sekarang serba canggih, dan banyak metode untuk penyembuhan. Bersyukur, karena dapat menjalaninya dengan maksimal." Pak Abu menyelesaikan pekerjaannya, lalu menyingkir dari tubuh Bagas.

__ADS_1


Bagas hanya mengangguk, tersenyum pada mertuanya. Pak Abu duduk di bawah, lalu Syifa menghampiri, duduk tepat di belakangnya dan memijat punggungnya yang tampak menonjol tulang-tulangnya itu.


"Ifa kenapa?" tanya Pak Abu.


"Pijetin Ayah. Udah lama, ngga begini." jawab Syifa.


Pak Abu hanya diam dan tersenyum. Kepalanya mengangguk-angguk, menikmati setiap pijatan yang diberikan oleh putri sulungnya itu. Sudah begitu lama, Pak Abu tak merasakan sentuhan tangan Syifa. Apalagi, setelah Ia menikah. Bertemu pun jarang.


"Pengeeeen." rengek Reza.


"Sini..." Bu Mariam meraih tubuh Reza. Ia pun memijat bahu pria yang sudah dianggapnya anak itu. Begitu nyaman, hingga Reza menguap karena ngantuk.


Hari semakin larut. Pak Abu meminta izin untuk pulang.


"Farhan aja yang anter, sekalian mobil dibawa dia aja ngga papa. Yang penting, pagi harus disini." pesan Syifa.


"Maaf, ngga bisa lama. Kamu jaga diri aja, ya?"


"Emang, Syifa mau di apain disini?" tanya Mama Ayu, pada besannya.


"Engga... Hanya saja, takut ada yang sedang agresif. Tapi ngga papa, itu tandanya, kita akan segera punya cucu." sorak Bu Mariam, di sambut Mama Ayu.


Mereka saling berpelukan, untuk berpisah. Berjanji, suatu hari nanti akan bertemu lagi.


Syifa mengajak Bagas masuk setelah yang lain pergi. Membawanya ke kamar, dan mengganti pakaian dengan baju tidur masing-masing.


"Minum obatnya dulu." ucap syifa.

__ADS_1


Bagas meraih obatnya, lalu meminumnya sendiri. Syifa pun duduk di sampingnya, sembari menatap layar Hp. Ia membuka pesan dari grup Wa para sahabatnya. Mereka mengajak berkumpul, untuk sekedar temu kangen.


"Boleh ngga?" tanya Syifa, menunjukkan pesan itu pada Bagas.


"Kapan?"


"Besok, katanya."


"Ya berangkat aja, udah lama ngga kumpul temen." ucap Bagas.


Syifa diam sejenak, tampak memikirkan sesuatu. Ia terus menscrol setiap pesan yang datang, tanpa dapat membalasnya.


"Kenapa ngga bales? Izin udah diberikan." tanya Bagas.


"Ah, ngga usah deh. Nanti ngga ada yang jagain Mas, dirumah. Suka lama kalau kumpul." ucap Syifa.


Bagas tersenyum, tangannya meraih lengan Syifa dan menariknya.


"Itu tandanya, kamu udah ngga bisa jauh dariku. Bukan aku, yang bergantung padamu."


"Hah? Kok gitu?"


Syifa menggelengkan kepala, lalu berusaha melepaskan diri dari Bagas. Tapi, Bagas terus menariknya beberapa kali pun Syifa melawan.


"Awaaas, mau taro Hp. Masa dibawa tidur?"


"Hpnya taro sini aja, kenapa jauh-jauh."ucap Bagas, mendekap tubuh hangat Syifa dengan erat.

__ADS_1


__ADS_2