
Syifa dan Bagas telah tiba di restauran yang mereka tuju. Keduanya masuk, kecuali Farhan yang hanya meminta izin untuk merokok di luar.
"Ngga makan?" tanya Syifa..
"Engga, makasih. Izin ngerokok aja di luar. Dan, kalau boleh bungkusin aja buat Fina. Ibu menyusui, harus banyak makan." pinta Farhan.
Syifa sangat mengerti, dan Ia menyanggupi permintaan supirnya itu.
"Eh, Tuan Bagas. Sudah sehat? Mari masuk, akan kami siapkan tempat yang istimewa buat Tuan." sambut sang pelayan yang keluar.
"Siang Bimo. Ruangan biasa saja, Istri saya lebih suka suasana merakyat, daripada VIP." ucap Bagas.
Bimo membawa Bagas dan Syifa ke sebuah meja. Memang bukan VIP, tapi memiliki pemandangan yang istimewa. Tempatnya tinggi, hingga dapat melihat hampir seluruh kota disana.
" Tuan, ini menunya." ucap Bimo.
"Bawakan saja yang spesial. Tapi, jangan yang mengandung Seafood. Nanti, ikan fugu saya mengembang lagi." ledek Bagas, mengedipkan mata pada Syifa.
"Ish, apaan lah?" lirik Syifa.
Menunggu sedikit lama untuk makanan mereka. Syifa menyempatkan waktu untuk mengajak Bagas berfoto. Berbagai macam gaya mereka lakukan, dari yang mesra, hingga yang tengil. Dan itu, benar-benar bukan gaya Bagas.
__ADS_1
"Mas, Ifa mau ke kamar mandi?"
"Owh, lurus saja, belok kiri." tunjuk Bagas.
Syifa pun berlari kecil. Rasanya sudah tak tertahan lagi dan nyaris saja jebol. Untung saja, lokasinya tak begitu sulit ditemukan. Dan Syifa, bisa bernafas lega setelahnya.
"Bagas?" sapa seorang wanita, yang seketika merubah raut wajah keduanya.
"Iya, Luna?" jawab Bagas, datar.
"Kamu, sudah bisa bicara?"
"Ya, bisa bicara, bisa menggenggam, hanya tinggal belajar untuk berjalan."
"Kau sudah cukup menyapaku. Pergilah, Istriku sebentar lagi tiba." pinta Bagas.
Luna memicingkan mata. Sebegitunya Bagas menolak, hanya demi istrinya. Padahal, dulu Bagas ramah meski dingin.
"Ba-baiklah. Aku, akan duduk di kursiku sendiri." ucap Luna. Ia pun pergi, mencari kursi yang kosong, tak jauh dari tempat Bagas duduk.
Luna duduk dengan tenang. Sembari menunggu seseorang, tampaknya. Dan ketika matanya terus memperhatikan Bagas yang diam, sekelebat wanita lewat di sampingnya.
__ADS_1
"Mas... Maaf, lama." ucap Syifa dengan manja.
"Ya, kenapa? Antri?"
"Iya..." jawab syifa.
Bagas kemudian merentangkan tangannya, meraih tubuh Syifa untuk duduk menyandar di tubuhnya seperti biasa. Sepertinya, itu memang posisis pavorit mereka berdua dimanapun berada.
"Tuan, ini makanannya." ucap Bimo, bersama pelayan yang membawa nampan makanan.
Bagas menerimanya dengan ramah, lalu mulai melanyani sang istri dengan baik. Bukan karena ada Luna, tapi Ia memang sudah begitu ingin memanjakan Syifa sejak lama. Dan baru kali ini terlaksana.
Bagas menyuapi Syifa dengan steaknya, dan Syifa begitu menikmatinya.
"Enak, Mas." ucap Syifa.
"Ya, ini restaurant langgananku sejak dulu. Sering kumpul bersama para sahabat disini. Tapi, mereka semua seakan hilang ditelan bumi." keluh Bagas.
"Uluuuuh kasihan. Ngga papa ngga punya temen, sekarang udah ada Ifa, yang siap menemani Pak Suami kemanapun pergi.".
Bagas hanya tersenyum renyah, mengusap rambut Syifa dan tak segan mengecupnya mesra.
__ADS_1
"Sebahagia itu kah dirimu? Terasa tak ada beban ketika bersama dia. Nyaman, tak seperti ketika bersamaku. Meski semua mau ku kau turuti, tapi rasanya hampa. Bahkan, jarang sekali kau mendekap dan mengecupku seperti itu." batin Luna, yang masih menjadi CCTV untuk mereka.