
"Olin, jam makan siang. Kamu ngga makan?" tanya Bu Rena.
"Sebentar, Bu. Selesai kan ini dulu." jawab Olin, yang masih mengepel bagian depan kantor.
Bu Rena lalu meninggalkannya. Ia menuju ke kantin menyusul yang lain untuk makan siang. Olin memang pekerja keras, karena Ia anak yatim piatu yang harus menghidupi dirinya sendiri.
"Hey, Olin..." panggil Reza dengan suara begitu pelan.
"Hm?" jawab Olin, tanpa menoleh..
"Hey, psssssst... Hussst.. Olin."
"Apa? Saya lagi kerja, Bapak." jawab olin.
Reza menggeleng-gelengkan kepalanya, memberi isyarat pada Olin agar ikut dengan nya.
"Tanggung, dikit lagi. Kenapa? Makan aja duluan." ucap olin.
"Ngga mau... Mau nya sama kamu." jawab Reza, dengan duduk santai menunggu sang kekasih hati dengan perkerjaannya.
"Yaudah, tungguin aja." jawab Olin, cuek. Ia pun tetap mengerjakan semua pekerjaannya hingga beres.
"Yuk, makan." ajak Olin.
"Udah?" tanya Reza dengan semangat, dan Olin pun hanya menganggukkan kepalanya.
Mereka berjalan berdua menuju kantin. Tampak kontras, jika hanya dilihat dengan seragam yang mereka pakai. Reza berusaha menggandeng Olin, tapi tangan Olin menepisnya sedikit kuat.
"Kenapa?" tanya Reza, memegang tangannya yang sakit.
__ADS_1
"Dikantor, nanti dilihat orang." jawab Olin.
"Iya, lupa." balas Reza. Sedikit menjauh, tapi tetap dekat apalagi di hatinya.
Duduk pun sedikit jauh, berjarak meski hanya setengah meter. Bukan karena PPKM, tapi karena menghindari yang lain.
"Hey, kok jauhan? Kan udah jadian." goda Ali, yang duduk tepat di hadapan mereka.
"Disana banyak tempat lain, kenapa kesini?" tanya Reza.
"Disini masih banyak bangku kosong. Untung saja tak duduk tepat diantara kalian." jawab Ali dengan santai.
Reza mencebik bibir. Ia kesal momentnya terganggu, apalagi Ia telah benar-benar mencuri waktu. Tak lama kemudian, datanglah Syifa dan Bagas, berdua dan bergandengan dengan mesra.
" Astaga... Apa lagi ini? Kenapa tak ada yang bisa mengerti!" pekik Reza.
"Aaaakkhh, sakit." keluhnya yang kedua kali. Sedangkan Olin hanya menatapnya dengan senyum sungkan.
Bagaimana tidak, Ia makan siang diapit oleh para Bos besar di sekitarnya.
"Mau bagaimanapun menghindar, tapi mereka sudah tahu." fikir Olin akan hubungan mereka.
"Makan, Bu?" tawarnya pada Syifa.
"Iya, silahkah. Saya udah tadi, habis fiting baju pengantin." jawab syifa dengan ramah.
Syifa lalu mengajak Olin berbicara, berdua mengenai rencananya menjelang pernikahan. Ia yang akan semakin repot membagi waktu, memerlukan seorang asisten karena Bagas tak dapat selalu siaga menemaninya. Dan Ia, menunjuk Olin senagai asistennya kelak.
"Hah, saya? Kenapa saya?" tanya Olin, yang langsung menghentikan makan siangnya.
__ADS_1
"Iya... Siapa lagi? Kamu pacar Reza, jadi lebih gampang jika ada sesuatu." jawab Syifa dengan mengedipkan matanya.
"Tapi, kerjaan saya?"
"Kalau Istri saya meminta kamu bersamanya, berarti kamu harus keluar dari kantor." sambung Bagas.
"Tenang, gaji kamu akan tetap ada. Bonus nya pun luar biasa." bisik syifa.
"Bonus, bisa ketemu aku setiap hari. Ahaaaaayyyy...!" sahut Reza dengan begitu bahagia.
"Langsung nyambung kalau masalah itu." lirik Syifa sinis.
Suasana berubah ramai. Mereka bercanda tawa tanpa jarak, meski Bagas tak terlalu larut di dalamnya.
"Fa... Jaga ketawanya." tegur Bagas.
"Iya, maaf. Kelepasan." jawab syifa dengan memajukan bibirnya.
Bagas mengajak Syifa segera pergi. Memberikan waktu untuk Olin berfikir sejenak. Pasti ada pertimbangan sendiri baginya, apalagi akan menjadi asisten calon kakak iparnya. Pasti akan semakin banyak yang membicarakan Ia nanti. Di dalam, ataupun di luar kantor..
"Aku lelaaaah..." keluh syifa, yang berjalan menelusuri kantor besar itu.
Tak banyak bicara, Bagas bersimpuh di depan sang istri, dan membelakanginya.
"Kok gendong belakang?"
"Mau, apa jalan?"
"Iya, mau..." jawab Syifa, lalu menaiki punggung suaminya yang nyaman.
__ADS_1