
Gelisah menghampiri Syifa. Malam ini Ia tak dapat memejamkan matanya sama sekali. Semakin berusaha, maka akan semakin terang benderang pengelihatannya. Akhirnya, Ia pun gelisah dan berpindah kesana kemari tak menentu.
"Faaa....."
"Apa, Mas?"
"Belum tidur?"
"Ngga bisa. Gara-gara tadi siang tidur nya lama."
"Terus, maunya gimana? Kan besok mau ke rumah Ayah."
"Terus gimana? Ngga bisa mejam, matanya."
"Sini...." ucap Bagas, dengan merentangkan tangannya diatas ranjang.
Syifa pun berguling menghampirinya, lalu tidur tepat dalam pelukan suaminya.
"Kenapa?" tanya Syifa, dengan mendongakkan kepala.
"Cium bau ketek, biar tidur."
"Pingsan lah?"
"Tadi udah dikasih deo 'kan? Harum dong."
Syifa tersenyum, lalu menenggelamkan kepalanya dalam pelukan Bagas. Tepatnya di bawah ketek yang wangi dan hangat itu. Mungkin terasa begitu nyaman, hingga Syifa begitu cepat terlelap.
__ADS_1
"Hhh, katanya ngga bisa tidur." ledek Bagas.
***
"Baru pulang, Za?" tanya Papa Erland.
"Eh, iya, Om. Maaf baru pulang jam segini. Tadi ada lemburan dikit soalnya. Om belum tidur?" balas Reza
"Sama, lemburan Om banyak. Mandilah, lalu makan. Tanya sama Bibik dibelakang kalau lapar."
"Iya, Om. Terimakasih."
Reza pun langsung berjalan naik ke kamarnya. Ia menuju kamar mandi dan menyegarkan dirinya setelah begitu lelah seharian bekerja. Bahkan matanya langsung terpejam, tanpa mengenakan pakaian lagi. Hanya dengan handuk kimono yang melilit di tubuhnya.
Reza langsung tidur dengan begitu nyenyak, hingga tak sama sekali mendengar beberapa panggilan di Hpnya.
***
"Reza mana?"
"Baru saja pulang. Mungkin mandi, atau justru sudah tidur." jawab Papa Erland dengan ramah.
"Tolong jangan pernah berikan doktrin apapun pada Reza. Dia itu anakku, harus nya menurut padaku, bukan padamu."
"Ward, dia itu sudah dewasa. Bahkan sangat dewasa dari apa yang kita lihat. Tak sepantasnya, kamu memperlakukan dia seperti itu."
"Sudah aku bilang, dia anakku. Terserah mau ku apakan dia. Bahkan, dia yang lebih berhak dari Bagas untuk perusahaan. Kami keluarga sah, kami keluarga dari istri pertama. Bukan anak selingkuhan seperti Ayu. Dia seharuanya tak dapat apapun. Camkan itu!"
__ADS_1
"Ward.... Tolong jangan bahas itu lagi. Ward... Edward.... Haish, dia telah mematikan teleponnya."
"Lagi dan lagi. Ketika emosi, kamu akan membahas luka lama dari keluarga kita, Ward. Sampai kapan terus begini? Kenapa tak faham juga dengan perjalanan keluarga ini?" gumam Papa Erland.
Ia kemudian menyandarkan pundak ke bahu kursi. Ia kemudian berputar-putar untuk menghilangkan sedikit kejenuhan dikepalanya, meski Ia tahu itu sulit.
Ucapan yang menjadi tradisi Om Edward itu, terasa begitu menusuk dan seolah membuka sejarah kelam keluarga besar itu. Untung saja, Papa Erland yang meladeninya, dan bukan Mama Ayu. Bisa-bisa, Mama Ayu langsung stresย nantinya.
"Aah, buat semakin pusing saja." keluhnya, lalu naik ke atas untuk menyusul sang istri yang tengah terlelap.
"Udah selesai, Pa?"
"Belum sih, tapi ngantuk banget. Lanjut besok pagi aja deh." balas Papa Erland, yang langsung nemeluk istrinya dari belakang.
๐๐๐
"Apa kabar, sayang?"
"Mama? Reza baik, Ma. Mama sendiri gimana?"
"Mama masih seperti ini, sudah tenang dan damai karena sudah tak merasakan beban lagi. Tapi maaf, jika harus menitipkan beban itu sama kamu."
"Ma, Reza capek. Reza udah ngga kuat sama Papa."
"Mama tahu, tapi kamu belum boleh menyerah. Tunjukkan sama Papa, apa yang menjadi kekuatan kamu sebenarnya."
"Tapi, Ma... Ma... Mamaa!!!" pekik Reza.
__ADS_1
"Astaga, cuma mimpi. Ya allah, Ma. Bikin sedih aja." gumam Reza, yang kembali teringat akan sang Mama yang telah di syurga.