
"Kau punya magh."
"Aku tahu, tapi aku tak selera dengan makanan lain. Berapa lama, waktu untuk ngidam?"
"Mana ku tahu, aku bahkan belum menikah." jawab Reza.
Para pria galau itu duduk berdua. Saling menyandarkan kepala dan merenung dengan kegalauannya masing-masing. Apalagi Reza, yang dirundung rasa cemburu yang mulai berlebihan.
"Pi?"
"Ya?" jawab Bagas, masih dengan cemilan asamya.
"Kau pernah cemburu?"
"Rasanya tidak. Syifa tak pernah membuat cemburu. Bahkan, aku tak pernah tahu berapa mantan kekasihnya. Yang aku tahu, dia milikku." jawabnya santai.
Reza menghenduskan nafas kasar. Memanyunkan bibirnya dan semaki merasa galau dengan jawaban sok mesra itu.
"Dia belum jadi milikku seutuhnya. Jadi, masih bisa dengan bebas dekat dengan siapapun."
"Apa yang kau cemburukan?"
"Dia punya banyak teman pria." jawab Reza.
"Gampang. Ikuti saja kemana dia pergi, dan bertemu dengan teman-temannya. Tapi, jangan lupakan tugasmu."
Bagas kemudian beranjak, meninggalkan Reza dan kembali keruangan nya. Ia terheran, karena hanya dengan mangga itu, dia dapat terhindar dari rasa mualnya.
" Tapi, apa kabar dengan lambungku?" fikirnya.
Ia pun duduk santai, mengambil Hp dan menelpon istri tercintanya di rumah.
"Iya, Mas?"
__ADS_1
"Hey, sayang. Sedang apa?"
"Lagi makan siang. Mas udah makan?"
"Hm, hanya napsu makan dengan mangga muda. Ali yang mencarinya tadi." jawabnya mesra.
"Banyak? Ifa mau dong. Pengen aja, yang seger-seger. Nanti Ifa rujakin."
"Baiklah, nanti Mas bilanh Ali agar mengantarnya. Baik-baik sayangku, jaga Baby 'B' ya?" kecupnya dengan mesra.
Ia meletakkan Hpnya, mulai ancang-ancang memanggil sang sekretaris, tapi keduluan.
"Ada apa, sebut-sebut nama saya?" tanya Ali, memasuki ruangan itu.
"Oh, Ali. Kamu memang dapat diandalkan."
"Ya?"
"Ku fikir, hanya satu. Kenapa keduanya yang ngidam? Apakah, kembar?"
"Apa? Anakku kembar? Wow...."
"Saya bertanya, Bapak."
"Oh, maaf, saya lupa." Bagas menutup mulutnya dengan telapak tangannya.
Ali pasrah. Bos nya semakin aneh belakangan ini. Andai saja tak sedang ngidam, Ia malas menuruti nya.
***
"Pak, saya pamit pulang karena jam kerja saya selesai."
"Mau kemana setelah ini?" tanya Reza pada Olin.
__ADS_1
"Kuliah, kenapa?"
"Hmm, pulanglah. Segera selesaikah kuliah, dan kita menikah."
Meski bukan yang pertama kali, tapi Olin masih saja tersipu malu mendengarnya. Ia pun berkemas, lalu pulang ke kostnya untuk membereskan diri.
"Don, jangan lupa absensi ku. Aku telat Lima belas menit siang ini."
"Baiklah, Olin. Untungnya, hari ini Pak Tompul pun telat. Jadi, kamu aman."
"Oke, terimakasih." Olin kemudian mematikan Hpnya.
Nyaris tak ada waktu istirahat. Hanya menyempatkan makan siang sebentar, dan itupun telat. Ia kini telah siap, dan keluar untuk menuju kampusnya.
"Bismillah." ucapnya, kemudian menbuka pintu.
Namun, Ia tersentak ketika ternyata Reza telah duduk dan menunggunya di depan.
"Loh, kok disini?" tanya Olin, dengan segala keheranan yang ada.
"Sudah siap? Ayo berangkat." ajak Reza dengan senyumnya yang mengembang.
"Ta-tapi, kenapa diantar? Bukankah, Mas sibuk banget di kantor?"
"Bukan hanya mengantar, aku bahkan akan menunggu kuliahmu hingga selesai. Untungnya, Papi sudah menemukan obat penangkal mabuknya."
Reza menggandeng Olin, membawa nya masuk ke dalam mobil.
Antara kesal, marah, namun Olin sedang tak ingin bertengkar saat ini.
" Tuhan, tugasku, pekerjaan ku sudah begitu banyak. Tapi, kenapa masih saja menambah daftar lelahku?" tangisnya dalam hati.
*1 Bab dulu ya gaes. Lagi sibuk persiapan puasa. Selamat menjalan kan puasa semua nya. 🙏🙏😍😍
__ADS_1