
Usai Adzan dzuhur, Syifa dan Bagas baru saja tiba di rumah. Ia langsung mendorong kursi roda Bagas untuk masuk, karena melihat sebuah mobil asing yang parkir di depan rumah.
"Mobil siapa, Mas?"
"Tante Viona. Tumben dateng, kenapa dia?"
"Kok kenapa, jenguk Mas lah." jawab syifa.
Bagas hanya tersenyum kecut, karena tak percaya jika kedatangan itu murni untuk menjenguknya. Meski mereka dekat, tapi Bagas merasa kedekatan itu karena ada sesuatu yang Ia inginkan saja.
"Bagassss.... Kamu darimana aja, sayang?" Tante Viona menghampiri, dengan merentangkan tangan dan memeluk Bagas.
"Kami abis kontrol, Tante. Insyaallah, kondisi semakin membaik."jawab syifa.
" Owh, begitu? Yasudah, kamu masuk. Saya ngobrol sama keponakan saya." jawab nya jutek pada Syifa.
Syifa mengangguk, dan akan melangkah pergi. Tapi, tangan Bagas menahan dengan menarik ujung baju Syifa. Gadis itu melirik, lalu Bagas menggelengkan kepalanya. Ia meminta agar Syifa tak pergi darinya.
" Maaf, Tante. Mas Bagas maunya saya disini, dan ngga mau ditinggal." ucap Syifa.
Tante Viona mencebik bibir karena kesal, tapi Ia kemudian mengulas senyumnya kembali pada Bagas.
"Sayang, Tante bawa seseorang buat kamu." ucap Tante Viona, lalu berseru memanggil seseorang.
__ADS_1
"Farah... Farah!!"
Lalu seorang gadis datang dan menghampiri Bagas dari ruang atas. Bagas pun memicingkan mata menatapnya.
"Kenapa dia dari atas?" fikir Bagas.
Gadis itu berlari dengan ceria, lalu ingin memeluk dan mencium Bagas dengan mesra. Ia sepupunya, dulu mereka akrab, tapi lama berpisah sejak Farah kuliah di luar negri.
"Kak Bagas!" serunya. Ia memeluk, dan bagas ingin menolak namun tak bisa.
Syifa mendelik, tapi berusaha sabar karena itu sepupunya. Ia bersikap tenang, meski nampaknya mereka tak memperdulikan kehadirannya disana.
"Kakak kok gini? Udah berbulan-bulan tapi ngga sembuh. Kenapa? Apa perawatnya kurang ilmu?" tanya Farah.
"Maklum, perawatnya cuma D3. Andai yang ngurusin itu dokter kayak kamu, pasti cepet sembuhnya." tukas Tante Viona, membanggakan anaknya yang lulus kedokteran di Universitas ternama.
"Dokter?" tunjuk Syifa pada Farah.
"Iyalah, Dokter. Biayanya mahal karena Universitas Internasional." balas Farah dengan bangganya.
Syifa tertawa terbahak-bahak. Perutnya pun sedikit sakit karenanya.
"Astaga... Kamu sepupunya, tapi ngga pernah nengokin dia sekalipun waktu di rawat. Kamu Dokter 'katanya' tapi kamu bahkan ngga ngerti, bagaimana kondisi sepupu kamu yang cidera tulang belakang? Nilai kamu berapa?" tanya Syifa.
__ADS_1
"A-aku lulus dengan nilai yang baik. Ujian aku selalu dapet A, apalagi teori?"
"Praktek?" tanya Syifa lagi.
Ketika ditanya itu, Farah mundur selangkah di belakang Mamanya.
"Kalau teori, hanya sekedar menghafal dari buku, dan itu mudah. Terkadang, yang kita baca di buku, belum tentu sama dengan yang ada di lapangan." ucap syifa.
"Sok tahu, bisamu apa? Kuliah beasiswa aja! Beraninya menghina anak saya." Sergah Tante Viona yang mulai emosi.
"Saya ngga pernah bilang jika saya itu baik. Tapi saya berusaha baik dnegan orang disekitar saya. Tante duluan yang menghina, saya hanya meneruskan." jawab syifa.
Ia pun melangkah mendekati Farah, yang semakin bersembunyi dibelakang Mamanya.
"Teori itu harus diimbangi dengan praktek. Lemah materi, kalau faham. Dipraktek, bisa menyusul untuk menghafal secara ortodidak. Tapi, ketika kamu terlalu banyak menelan teori tanpa memikirkan praktek, hasilnya kamu hanya akan bisa komentar, tanpa dapat membantu apapun."
Syifa melihat sebuah kertas di tangan Farah. Ia bawa ketika turun dari ruangan atas. Syifa mencoba mengambilnya, meski mereka selalu menghalangi. Tapi, akhirnya dapat Ia rebut meski kusut.
" Ini rumah mertua saya. Apapun yang kalian lakukan, harus izin dengan saya sebagai menantunya. Saya ngga perduli, siapapun kalian dalam keluarga ini." bisik Syifa, di telinga Tante Viona.
"Sok kuasa kamu! Kamu jadi menantu saja karena mereka butuh tenaga kamu. Setelah Bagas sembuh, kamu akan dibuang seperti sampah."
"Sampah berkelas, karena setidaknya saya pernah jadi menantu keluarga koglomerat." balas Syifa, dengan menjulurkan lidahnya.
__ADS_1
Mereka pun pergi, dalam keadaan yang begitu kesal. Bahkan, mereka menutup pintu dengan begitu kuat, untung saja pintu mahal, hingga tak rusak dalam sekali bantingan.