Suamiku Pria Lumpuh

Suamiku Pria Lumpuh
Fikiran yang semakin melayang terbang


__ADS_3

Hari semakin sore. Bagas membangunkan Syifa yang tertidur di pangkuannya. Syifa menggeliat, sembari menatap Bagas yang tepat ada diatas wajahanya. Bersinar, diterpa cahaya matahari yang masuk dari jendela kamar mereka. Syifa meraih dagu Bagas, dan mengusapnya dengan lembut.


"Hey, bangun." tegur Bagas, dengan menepis lembut tangan Syifa.


"Ish, mesra dikit kenapa sih? Baru aja mau diajak pacaran." keluh Syifa yang menatapnya kesal.


"Bangun, mandi. Ini udah jam berapa?"


"Iya, sayang. Ifa siapin airnya dulu." Kecup Syifa di bibir Bagas.


Syifa beralih, namun tangannya di tarik Bagas.


"Eh, apalagi? Katanya siapin air mandi."


"Lagi." pinta Bagas.


"Ih, keterusan."


"Ayolah..." rengek Bagas padanya.


Syifa menggelengkan kepala, akhirnya kembali pada Bagas. Ia duduk di pangkuan suaminya, lalu. Memulai kembali mengecupi bibir Bagas dengan gemas.


"Udah?"


Bagas menggeleng, menenggalamkan wajahnya di dada Syifa. Ia pun berusaha membangkitkan dirinya sendiri, meski kadang berhasil dan hanya sekejap rasa.


"Maaf, Fa. Gagal lagi." tatap Bagas padanya.

__ADS_1


"Muaach, Muachhh, muaaacchhh! Ngga papa, nanti kita coba lagi." ucap Syifa.


Ia kembali berdiri, dan masuk  ka kamar mandi untuk menyiapkan alat mandi untuk Bagas. Lalu, membawanya mandi bersama. Mereka kembali dalam suasana yang hangat, saling menggosok punggung dan bahkan Bagas sudah mampu menyikat giginya sendiri. Tak lupa Syifa memberikan pujian padanya.


"Mas pakai baju sendiri." ucap syifa, dengan memberikan sepaket baju pada suaminya.


Bagas mengangguk, kemudian mengelap lagi tubuhnya yang masih setengah basah dengan handuk yang terkalung di leher.


Syifa tak memakaikan alat fisioterapinya didalam, kali ini. Ia memakaikan di luar, setelah kaos oblong yang Bagas kenakan.


"Fa... Susah." panggil Bagas, ketika kaosnya tersangkut di pundak, dan Ia kesulitan menurunkannya.


Syifa menghampiri, lalu menurunksn dan memasukkan tangannya ke lubang yang tersedia.


"Terimakasih." ucap Bagas, dibalas senyuman manis Syifa untuknya.


Syifa yang sudah memakai pakaian lengkapnya, kemudian memasangkan celana  untuk Bagas. Lalu, Ia membawanya keluar untuk menikmati udara sore yang tampak begitu cerah di teras belakang.


"Bibik lagi belanja bulanan. Tadi pamit sama Ifa, sebelum ketiduran."


"Kok lama? Biasanya Dua jam selesai?"


"Ngga tahu, lagi banyak kali. Makanya lama, Ifa kan ngga pernah belanja bulanan. Apalagi, buat rumah ini." balas Syifa.


Mereka berdua pun berbincang untuk beberapa lama, dengan berbagai tema yang menarik untuk keduanya.


"Bagasssss, Ifa...! Aku pulang." panggil seseorang yang selalu mengacaukan hari mereka.

__ADS_1


"Bagas...." panggil Reza lagi, yang telah menghampiri hingga di teras depan.


"Hmm? Sudah dapat nomor hpnya?"


Reza menggeleng, "Ngga keburu. Dia jalannya cepet banget soalnya. Aku kan harus ke kantor."


"Ya...... Cepat mandi, aku akan bantu mencarinya. Tapi, kau harus tetap berusaha sendiri untuk selanjutnya."


Wajah semringah Reza terpancar, ketika mendengar ucapan itu. Serasa semakin tinggi antusiasnya untuk bekerja dan mendapatkan hati Salma. Hatinya serasa berbunga-bunga, dan melangkah ke kamarnya dengan senandung merdu yang memekakkan telinga.


" Kenapa, Mas?" tanya Syifa, dengan memakan pisang yang Ia kupaskan untuk Bagas.


"Udah ketemu ceweknya. Dia minta carikan nomor Hp gadis itu, serta data-datanya."


"Buat apa? Kalau begitu, seperti menguntit kehidupan pribadi orang ngga sih? Apalagi cewek, kan privasi."


"Biarlah, hanya nomor Hp. Yang lain, bisa dia cari sendiri." jawab Bagas.


"Fa, itu pisang ku, kenapa dimakan?"


"Hehe, abis bengong tadi. Jadi Ifa makan aja, Ifa kupasin lagi, ya? Mau?" tawarnya.


"Engga, lihat kamu aja udah kenyang. Apalagi...."


"Apa?" tanya Syifa.


"Ah, engga.... Ngga papa."

__ADS_1


Bagas menelan salivanya, menatap sang Istri dengan pisang di tangannya.


"Haish, kenapa fikiranku jadi sperti ini. Semakin menyakitkan rasanya."


__ADS_2