
Suasana ruang rapat sedikit tegang. Mereka masih menunggu keputusan, mengenai proyek baru yang akan mereka laksanakan.
"Mas, Mas Ali." panggil Lili, dengan nada berbisik.
"Ada apa? Lagi rapat ini," jawab Ali, yang meniliknya ke belakang.
"Ibu, Mas. Itu loh, Ibu kontraksi mendadak."
"Ah, ngga mungkin. Ibu itu lahiran masih bulan depan." tukas Ali.
"Masa iya saya bohong? Meski saya masih gadis, tapi saya tahu kalau itu tanda-tanda melahirkan." balas Lily. Ali menunjukkan wajahnya mulai cemas. Ia segera berdiri dari kursinya, dan menghampiri Bagas yang tengah fokus dengan rencana kerjanya. Belum lagi, Mr Smith yang masih berfikir untuk menjalin kerja sama dengan perusahaannya.
" Pak," panggil Ali pelan. "Hmmm, tunda hingga nanti, karena kita sedang rapat." jawab Bagas, yang masih mempertahankan fokusnya.
"Pi... Mami, Pi. Mami, katanya kontraksi mendadak." ucap Ali lagi, yang kali ini dengan seketika menghentikan kegiatan Bagas. Matanya langsung membulat, dan Ia segera pergi pamit pada Mr Smith.
__ADS_1
"Anda tak sopan, Tuan. Masih ada saya, dan semua kolega kita, disini. Tapi, diluar sana Istri anda bisa diurus yang lain." ujar Tuan Smith dengan begitu santai.
"Maaf, Tuan. Justru disini, saya bisa diwakilkan oleh yang lain. Sedangkan sesuatu yang menyangkut istri saya, tidak bisa." Bagas menundukkan tubuhnya, lalu melangkahkan kaki meninggalkan mereka disana. "Saya terima, keputusan apapun yang kalian kemukakan."
Bagas segera berlari, menghampiri ruangan Syifa. Sedangkan Ali, mengambil kursi roda dan menghampiri keduanya.
"Hey, sayang? Apa benar kamu mulai sakit?" tanya Bagas, yang meraih tubuh Syifa dalam pelukannya.
"Mules, Mas. Sempet ngga percaya kalau mau lahiran. Maaf, Ifa malah jadi ngerecokin kerjaannya."
"Anda, membicarakan saya di belakang, Tuan Bagas?" Tuan Smith mendadak menghampiri mereka berdua, hingga keduanya terbelalak kaget.
"Maaf, Tuan. Bukan maksud saya untuk seperti itu. Tapi, ini keadaan darurat." balas Bagas, tak enak hati.
"Mas, kalau mau lanjut kerja ngga papa. Ifa bisa sendiri, ditemenin Lily. Nanti, tinggal panggil Olin aja." bujuk nya, sembari menahan kontraksi yang mulai kuat skalanya.
__ADS_1
Tuan Smith hanya melirik pada Syifa. Melemparkan senyum ramahnya, sebagai tanda simpati pada istri koleganya itu.
Syifa menatapnya, lalu mencoba berdiri, "Maaf, saya merepotkan." sesalnya.
Tapi, sesuatu terasa tumpah di bawah sana. Syifa dan Bagas meliriknya bersamaan. Bukan hanya rembes, tapi air ketuban juga pecah seketika di hadapan mereka semua.
"Ifa, kamu ngga papa? Cepet duduk lagi." pinta Bagas, yang memajukan kursi roda nya.
Tuan Smith kembali tersenyum, sembari memberikan berkas pada Bagas. "Saya menyetujui kerjasamanya. Anggap saja, jumlah dana yang saya lebihkan, sebagai hadiah untuk kelahiran anak anda." ucapnya, dengan menggelengkan kepala. "Bisa-bisanya, dia menyapa saya dengan cara yang seperti ini." Pria paruh baya itu melenggang keluar, dengan beberapa bodyguard yang selalu ada di sampingnya.
"Anak kita, membawa banyak keberuntungan." ucap Bagas. Ia memberikan berkas itu pada Lily. Sedangkan Ia dan Ali, segera membawa Syifa menuju Rumah sakit, tempat mereka memesan tempat dari jauh-jauh hari.
"Bapak? Ini baru pembukaan Tiga, tapi air ketuban sudah pecah. Mau induxin, atau mau operasi? Karena keduanya memiliki resiko masing-masing." tanya Sang dokter.
Bagas melirik Syifa, yang mulai menenangkan diri dan terus mengatur nafasnya. Syifa selalu ingin melahirkan normal, sedangkan ini merupakan sesuatu yang sulit untuk dipilih.
__ADS_1
"Dirangsang, maka kesakitan yang kau rasakan bisa jadi berkali lipat nantinya." fikir Bagas, berusaha keras menentukan pilihan.