
"Papa bersiap, Reza antar pulang sekarang juga." ucap Reza.
"Hey, kenapa kamu begitu? Papa bahkan belum mendengar suara Bagas. Papa rindu dengan segala ketegasan yang Ia berikan. Yang bahkan, tak pernah bisa ditentang oleh siapapun."
"Pulang, Pa!" pekik Reza, kemudian beralih dan menggandeng tangan papanya keluar dari rumah itu.
"Om, Tante... Mungkin Reza ngga akan pulang malam ini." imbuh Reza.
"Mas Reza, mau kemana?" bisik Syifa.
"Biarkan mereka menyelesaikan masalah ini, Fa." jawab Bagas.
Syifa membawa Bagas ke kamar setelah itu. Ia mulai mempertanyakan kembali mengenai masalah keluarga mereka, dan Bagas pun menceritakan masa lalu yang rumit itu..
"Nenek menyetujui untuk Kakek menikah dengan Oma. Karena memang sebelumnya, mereka adalah sepasang kekasih. Tapi, berakhir ketika harus di jodohkan dengan Nenek. Tapi, bertahun-tahun menikah Nenek juga belum memiliki keturunan, dan Nenek meminta Kakek menikahi Oma." terang Bagas.
" Ribet, Ya? Lalu? "
" Pada saat Oma hamil, ternyata Nenek pun hamil Om Edward. Dan perusahaan Kakek sedang naik kala itu. Kehamilan Nenek lemah, beda dengan Oma yang masih kuat kemanapun menemani Kakek. Bahkan melahirkan di perantauan. Dan Nenek, melahirkan Om Edward tanpa di temani suaminya yang sedang jauh merantau."
"Jadi, karena itulah muncul ke salah fahaman? Dikira, Kakek pilih kasih, begitu?" Syifa berusaha memahami.
"Ternyata, jadi orang kaya itu susah. Ada aja masalahnya." ucap Syifa.
__ADS_1
"Kalau jadi orang sederhana?"
"Ya, paling masalahnya uang. Harus selalu menahan selera, karena keuangan tipis. Kayak Ifa dulu, pengen banget beli sesuatu, tapi cuma bisa lihat aja. Tapi itu jadi penyemangat, kalau Ifa harus kerja keras buat menggapai."
"Lalu, kamu dapat apa yang kamu inginkan sekarang?" tanya Bagas..
"Belum juga...." tawa Syifa, geli.
"Kenapa?"
"Ngga terjangkau. Ini aja, Mama yang beliin karena mau nikah kemarin." ucap Syifa, sembari memamerkan cincin berlian kecil yang tersemat di jari manisnya.
Syifa memang pernah memimpikan, untuk membeli sebuah cincin berlian dengan uangnya sendiri. Dan itu adalah cita-cita terbesarnya. Tapi, beberapa kenyataan menghalanginya mewujudkan impian. Di larang ke Luar Negri, sulit mendapat pekerjaan pantas karena kondisi.
"Apa?" tanya Syifa.
"Itu...." tunjuk Bagas dengan bibirnya. Ke arah jari Syifa.
"Itu apa?" goda Syifa.
"Fa.... Udah berani banget sekarang, ya?"
"Iya lah, kan sama suami sendiri." goda Syifa, menggeranyangi bagian pavoritnya dalam tubuh Bagas yang kekar berotot itu.
__ADS_1
"Aaah, kamu itu... Menggemaskan."
Bagas mendekap tubuh Syifa bagian belakang, menjatuhkan nya dan terus menggelitik dengan gemas. Syifa dibuat terpingkal-pingkal olehnya, hingga lemas.
***
"Pa, minum obat." pinta Reza.
"Kenapa harus minum obat? Papa ngga sakit. Itu pasti obat tidur 'kan? Kamu mau meracuni Papamu dengan itu?"
Reza bersujud di hadapan sang Papa, lalu menatapnya dengan penuh kelembutan. Ia menggenggam tangan Papanya, dan menciumnya beberapa kali.
"Kalau Papa minum obat ini, Reza akan tidur disini malam ini. Menemani Papa." ucapnya.
Om Edward lalu mengambil obatnya dengan kasar. Lalu Ia meminumnya satu persatu. Reza pun tersenyum melihatnya dan memberi beberapa pujian.
"Udah ngantuk? Tidurlah. Reza tidur di kamar." ucap Reza.
Om Edward kemudian terlelap, lalu Reza mulai melakukan tindakan di rumah itu.
Ia sempat memasang CCTV sebelum pergi, dan kini Ia mengambil hasilnya untuk melihat isi di dalamnya..
"Betul dugaan Bagas. Ada orang lain di belakang Papa." gumam Reza.
__ADS_1