
"Hay, Olin." sapa Reza, yang ikut makan siang di kantin.
"Bapak? Kenapa, Bapak kesini? Ini kan, tempatnya para OB?" tanya Olin, kikuk.
"Lah, sama aja lah. Emang, apa bedanya? Saya juga, kalau ngga karna perusahaan keluarga, belum tentu di posisi sekarang." ujar Bagas, yang mulai menyantap makan siangnya.
Olin tampak kurang nyaman. Duduk dengan seorang General Manager, tepat di sampingnya. Apalagi, semua mata tampak menatapnya dengan tajam. Tepat, kearahnya dan Reza.
" Kamu, tinggal dimana?" tanya Reza, berusaha akrab.
"Tinggal, di kampung. Ngga jauh dari tempat pecel lele waktu itu. Makanya, anak-anak pada kenal saya." jelas Olin, yang masih tertunduk malu.
Obrolan kembali berlanjut, hingga jam istirahat selesai. Reza dan Olin saling berpisah, dan berjanji untuk berjumpa nanti sore. Karena Olin, harus membersihkan ruangan Reza setiap hari sebagai hukuman kemarin.
Reza naik lagi menggunakan Lift, dan seorang pria masuk bersamanya di dalam.
"Wanita itu, rupanya pintar."
"Siapa?" tanya Reza.
"Istri Bagas. Bukan wanita lugu dan polos rupanya. Hhhhh..." senyumnya devil.
"Jangan pernah sentuh dia. Apapun yang kalian rencanakan."
"Kenapa? Dia adalah target terbesar saat ini. Apalagi, melihat tatapan Bagas dengannya. Sedikitpun, Ia tak akan pernah bisa melihat wanitanya terluka."
"Kau akan tahu, bagaimana cara Bagas menangani kalian. Kalian tahu dia bagaimana, jangan main-main." ancam Reza...
__ADS_1
"Dia cacat... Dia tak akan berani berbuat apapun." lirih Pak tua itu, dengan tatapan tajamnya pada Reza.
Reza menggenggam tangannya kuat. Amarah, takut, semuanya bercampur menjadi satu dalam dirinya.
***
"Jalan sore, yuk?" ajak Bagas.
"Ayok, tapi keliling sini aja, ya?"
"Iya." angguk Bagas.
Syifa segera bersiap. Ia segera mandi dan berdandan rapi untuk keluar rumah. Bagas menunggu, dan mengegrakkan kursi rodanya ke teras belakang.
"Mana Reza? Kenapa belum berkabar hingga sekarang? Amankah disana?" gumam Bagas.
Syifa keluar dari kamarnya. Ia datang dengan membawa pengikat kaki untuk Bagas, dan bersiap mengikatkannya. Tapi, Bagas menolak.
"Udah ngga kemana-mana, Fa. Udah bisa ngapit sendiri, nih." ucap Bagas, nenutup kakinya.
"Yaudah, ngga jadi pakai."
Syifa pun mulai membawa kursi roda Bagas, dan berjalan keluar untuk menikmati semua pemandangan. Anak-anak yang bermain, dan para orang tua yang mengawasi mereka sembari menyiram tanaman.
"Eh, ada yang baru punya baby." ucap Syifa. Ia pun menghampiri tetangga yang masih belum dikenalnya itu.
"Selamat sore, Ibu. Baru disini? Saya baru lihat." sapa Syifa, ramah.
__ADS_1
"Iya, Mba. Saya baru disini, baru Dua bulan." jawab Wanita bernama susi itu.
Mereka cepat akrab, bahkan Syifa di perbolehkan menggendong Bayinya sebentar. Tampak bahagia, dan tampak begitu ingin memilikinya.
"Mba nya, udah berapa lama nikah?" tanya Mba Susi.
"Oh, baru masuk setahun. Tapi, mau fokus sembuhin Paksu dulu. Nanti, malah repot kalau sambil ngasuh."
Susi hanya mengangguk, menatap kondisi Bagas dengan penuh rasa prihatin.
"Fa, udah gelap." tegur Bagas.
Syifa pun pamit, dan menyerahkan sang Bayi kepada Ibunya. Ia kembali pada bayi besarnya, dan membawanya pulang ke rumah.
"Pengen, Fa?"
"Apa?"
"Pengen punya bayi?"
"Hmmmm, sebenernya... Iya, Mas." jawabnya jujur.
"Aku hanya bisa bilang, kalau aku masih ingin berdua denganmu. Bukan ingin menghalangi kebahagiaan, tapi aku ingin fokus, memberi kebahagiaan untuk mu dulu, Fa." ucap Bagas.
"Iya, Ifa ngerti. Nanti, kalau udah waktunya, pasti akan punya sendiri." balas Syifa.
Mereka berjalan, sembari membicarakan masa depan. Merancang sebuah rencana, ketika Bagas bisa sembuh total nantinya. Begitu banyak, hingga Mereka tak dapat menghitung semuanya.
__ADS_1