
"Kok, bawa-bawa Syifa, Mas?"
"Kamu, Satu-satunya yang aku percaya."
"Tapi Syifa ngga ngerti masalah perusahaan. Jangan aneh-aneh lah, nanti malah menimbulkan pro dan kontra dimana-mana. Apalagi, kalau ada apa-apa, memang Syifa ngga negerti sama sekali."
"Gu-gue ngga bisa ngomong apa-apa. Di satu sisi, wajar kalau Bagas maunya Syifa karena istrinya. Tapi, disisi lain Syifa bener... Dia ngga tahu apa-apa mengenai perusahaan. Apalagi, ini proyek besar." ujar Reza.
"Syifa bertindak atas pengawasan kita. Hanya tanda tangannya saja, tapi kita yang bekerja." balas Bagas, dengan melirik kearah Reza.
"Mas, tapi...."
Bagas memotong ucapan Syifa dengan anggukan dan tatapanya. Dan saat itu Syifa akan patuh dan mengerti apa maunya sang suami.
"Apa yang kamu rencanakan, Mas? Kenapa tak mempercayai siapapun saat ini?" batin Syifa.
"Oke... Gue akan ketik surat kuasanya, dan setidaknya harus kasih tahu sedikit tentang perkembangan yang Loe alami. Karena, Loe juga harus membubuhkan tanda tangan asli di sana. Dan ketika udah beres, Gue akan jadi wakil kalian, terutama Syifa." ucap Reza.
"Ya... Laksanakan." jawab Bagas.
__ADS_1
Reza kemudian beranjak lagi dari kursinya, lalu pergi menuju mobilnya yang terparkir di garasi.
"Mas, sebegitu ragukah dengan orang lain? Mereka itu saudaramu."
"Bagaimana dengan Farah yang bahkan memalsukan tanda tangan? Mereka saudara yang selama ini dekat denganku. Hanya kamu, Mama dan Papa."
"Mas Reza?"
"Entah, masih begitu sulit meski sudah berusaha percaya bahwa... Ia berbeda dengan Papanya."
Syifa hanya mengehela nafas untuk kesekian kalianya. Hanya Bagas yang tahu akan apa yang harus Ia perbuat untuk keluarga dan perusahaannya. Syifa hanya perlu belajar sedikit, tanpa harus memperdalam. Karena begaimanapun nanti, tetap mereka berdua yang akan bekerja.
Maka dari itu, Syifa pun harus semakin bersemangat untuk merawatnya.
"Maaf, Fa. Lagi-lagi merepotkan kamu. Tapi aku janji, setelah aku sembuh, kita akan menjadi suami istri yang sesungguhnya."
"Memang, yang sekarang bagaimana?" tanya Syifa.
"Aku sadar diri, jika untuk saat ini aku belum dapat memenuhi kewajibanku. Kamu, pasti sebenarnya sedih."
__ADS_1
"Kenapa harus sedih? Aku ikhalas, menerima semuanya. Merawat kamu seperti ini, yang memang harus di lakukan seorang istri terhadap suaminya."
"Dengan ucapan itu, kenapa aku merasa kamu hanya melaksanakan tugas saja, Fa?"
"Jangan terlalu menerka-nerka perasaan. Masih ada Allah, yang maha membolak balikan hati manusia." ucap Syifa, dengan menyodorkan obat pada suami tampannya itu.
*
"Kenapa jadi seperti ini, Gas? Apa yang membuat hati kamu semakin tertutup? Apa yang kamu cari dari ini semua?" tanya Reza, yang sedang dalam perjalanan menuju kantor.
Meskipun Ia faham kenapa Bagas melakukan ini, tapi dalam hatinya masih saja terus bertanya-tanya.
Bagas memang orang yang selalu menjaga amanah, apalagi yang sebesar ini. Tapi bagi Reza, memang sedang ada yang disembunyikan oleh Bagas. Ia sedikit tahu, tapi tak ingin terlalu banyak menduga-duga. Apalagi, Ia merasa jika yang dilakukan Bagas itu berhubungan dengan Papanya.
Reza telah tiba di kantor. Ia disambut oleh semua karyawan disana dengan begitu ramah. Sebenarnya, kedudukan Reza sudah nyaris sepadan dengan Bagas. Tapi keserakahan sang Papa, membuatnya seidikit di ragukan oleh para dewan perusahaan.
Ia masuk ke dalam ruangannya, mulai membaca semua dokumen dna menandatangani yang diperlukan. Kemudian Ia kembali fokus pada yang di perintahkah Bagas padanya.
"Harus ketik, dan kerjakan sendiri. Karena tak boleh ada yang tahu masalah ini. Pasti akan muncul huru hara yang besar setelah ini." guman Reza, sembari menggaruk kepalanya yang mulai pusing.
__ADS_1