Suamiku Pria Lumpuh

Suamiku Pria Lumpuh
Kujungan Dady ganteng.


__ADS_3

"Breyhan, keponakan tersayang..." pekik Reza dari kejauhan, datang bersama Olin untuk menjenguk sang keponakan tersayang.


"Ha, Om...." sapa Syifa untuk anaknya pada Reza.


"Om? Oh, noo... No Om, call Me Dady. Dady Reza," jawabnya dengan begitu bangga. Membuat Olin dan Bagas seketika melotot dengan keanehan yang kembali Ia lakukan.


"Dady? Are You Crazy?" tatap Bagas dengan menelengkan sedikit kepalanya. "Saham apa yang kau tanam pada anakku?"


"Ketampanan, yang paripurna..." ucap Reza dengan bangganya, menyikukan kedua jari di dagunya.


"Ish, apaan sih?" tepuk Olin di pundak Reza, membuatnya nyaris tersungkur kedepan.


"Rasakan!" Bagas tersenyum begitu puas.


"Haish, sakit lah!" pekiknya pada Olin bertatap tajam. Namun, seketika menciut ketioa Olin membalasnya lebih tajam.


"Apa?" tanya Olin, dengan Brey dalam gendongannya.


"Ehm.... Engga," jawab Reza, menggaruk kepalanya yang tak gatal.


Seketika Bagas dan Syifa tertawa terbahak-bahak, menyaksikan tingkah konyol keduanya.

__ADS_1


"Hey, kalian! Kenapa begitu di depan Breyhan? Lihat, dia lagi tidur malah kalian gangguin. Masih aja kayak bocil, udah tua juga." omel Mama Ayu, dengan wajah kesalnya.


Kedua pria itu pun keluar, agar dapat berbincang dengan lebih leluasa. Meninggalkan ketiga wanita yang tengah gemas dengan bayi mereka.


" Udah pengen punya anak juga. Tapi, aku larang." curhat Reza tentang Olin.


" Kenapa?"


"Aku, masih memikirkan kesibukannya. Ia terlalu peduli dengan Papa. Aku takut, sibuknya akan memperngaruhi kehamilan nya nanti. Apalagi, Papa masih harus bolak balik kontrol. Dan obatnya yang nyaris seumur hidup harus Ia minum."


"Kenapa tak menerima tawaran Mama, agar Papamu mereka rawat nantinya? Setelah mereka kembali ke rumah nya sendiri." tanya Bagas.


"Sudah lah. Kita itu beruntung, memiliki wanita yang mampu menjaga kita dengan baik. Aku dengan sakitku, dan Olin dengan Papamu." elus Bagas di bahu sepupunya itu.


Obrolan berlangsung dengan begitu akrab. Apalagi setelah lama tak bertemu, pasca perusahaan mereka bagi Dua. Ya, itu keputusan keduanya, setelah memikirkan dan menimbang matang-matang semua resiko yang ada.


*


" Kak, gimana rasanya melahirkan?" tanya Olin, setelah menidurkan Brey di kamarnya.


"Rasanya luar biasa. Sakit, mules, pengen nangis, dan semua campur aduk. Tapi lega, ketika mendengar tangisan Breyhan yang sudah keluar." jawab syifa, tersenyum haru menceritakan semua moment nya.

__ADS_1


"Kenapa, Olin. Pengen?"


"Mas Reza, belum izinin. Katanya, takut kalah sama Papa. Aku, masih begitu sibuk dengan beliau. Apalagi, ngga mau dipegang suster lain." jawab Olin, dengan kepala tertunduk lesu.


"Reza hanya takut, terjadi apa-apa sama kamu dan calon anak kalian. Bersabarlah, sampai waktunya tiba. Kalian hanya menunda, bukan tak mau. Apalagi, mengurus orang tua dengan gangguan. Aku pun ingin membantu, andai bisa." Syifa mencoba menghibur adik iparnya itu.


Syifa kemudian mencairkan suasana. Apalagi, melihat Olin yang tampak murung. Ia kembali bercerita, mengenai pengalamannya dalam proses kelahiran Breyhan. Dari awal, hingga pembukaan lengkap. Ketika justru Bagas yang menangis melihatnya pucat dan begitu kesakitan dengan semua rasanya.


Namun, tangis itu berganti dengan senyum bahagia dengan tangisan dari Brey kala itu. Olin dengan begitu antusias mendengarnya, bahkan takjub dengan kisah perjuangan Ibu melahirkan anak-anaknya. Tinggal kini, Ia dengan segala harapannya menginginkan hal yang sama.


Mampir cerita baru otor. 😘😘


Menyaksikan yang terkasih menghela nafas terakhir di depan matanya sendiri, membuat Trauma besar dalam hidup Abi. Di malam yang indah itu, harusnya Ia melamar sang kekasih. Tapi, justru perpisahan yang Ia dapat.


Lima tahun, bahkan Ia belum dapat membuka hati. Berbagai cara telah sang Ibu lakukan, bahkan mengatur perjodohan untuknya. Abi pun menolaknya mentah-mentah. Hingga Ia bertemu Nisa, seorang karyawan biasa di kantornya.


Ia tak cinta. Ia hanya ingin membuat Ibunya berhenti mencarikan Ia jodoh. Hingga akhirnya memaksa nya menikah dengan segala cara.


Bagaimana dengan Nisa? Apakah Ia mampu, meraih hati Abi? Atau justru tak tahan dengan sikap dingin yang Ia berikan dan pergi?


__ADS_1


__ADS_2