Suamiku Pria Lumpuh

Suamiku Pria Lumpuh
Bukan Hanya Papa yang jahat, Reza.


__ADS_3

"Bagas, Ada apa? Kenapa panik?" tanya Reza, disusul Mama Ayu yang menghampirinya.


"Syi-Syifa... Syifa di culik." jawab Bagas, gamang.


"Hah! Bagaimana? Astaga....." Reza tak kalah cemas. Ia langsung bertindak, dan mencari tahu mengenai tempat yang baru saja di datangi Syifa dan para rekannya.


"Segera cek CCTV luar. Ini keadaan genting, dan harus segera di laporkan!" seru Reza.


"Siap, Pak." ucap Manager di sana.


Kebetulan, Cafe itu adalah milik salah satu teman Reza. Hingga Ia bisa meminta izin pengecekan, apalagi dengan alasan yang jelas.


Bagas hanya diam. Ia memikirkan sesuatu, mengenai Syifa, ketakutan Syifa, dan kemungkinan siapa yang membawanya pergi.


"Reza... Sebentar lagi, akan ada yang menelpon kita." ucap Bagas, datar.


"Bagas... Bagaimana kamu bisa setenang ini? Istri kamu di culik?" tanya Mama Ayu.


"Bagas ngga tenang, Ma. Bagas hanya berfikir, pasti ada kepentingan tertentu mereka mengambil Syifa. Lagi pula, Bagas tak dapat berlari seperti kalian." sesal Bagas, dengan mata terpejam, duduk diatas kursi roda, dan enggan beranjak kemanapun.


Mama Ayu hanya mendengkus kesal. Ia tahu watak Bagas, tapi tak menyangka akan begini. Apapun yang diperintahkan sang Mama, tak Ia lakukan. Ia hanya meminta semua orang tenang, karena Ia meyakini sesuatu.

__ADS_1


"Bagas, pindah ke kamar, yuk." ajak Reza.


Bagas mengangguk, tangannya menggenggam Hp dan menunggu seseorang menghubungi, sesuai dugaannya.


***


Bruuuughh! Seorang pria menurunkan tubuh Syifa dengan kasar, di sebuah kursi. Tak lupa, Ia mengikarnya dengan kuat, dan tetap menutup matanya.


"Hey! Siapa kalian? Beraninya main keroyokan." sergah Syifa.


"Diam, Cerewet! Ngga bisa diam apa kamu? Mau, muka yang sok cantik itu ku rusak? Isi kepala orang aja bisa ku rusak, apalagi cuma muka pas-pasan kayak kamu ini. Makin gampang." tukas penculik wanita itu.


" Tenang, Mas. Jangan gegabah." fikir Syifa.


Samar-samar terdengar. Mereka berdiskusi mengenai perusahaan itu lagi. Mereka memang ingin memanfaatkan jari Syifa, untuk menandatangani surat peralihan kuasa..


"Jangan harap, jari cantikku ini menari diatas kertas kalian." lirih Syifa.


Berjam-jam Syifa di sekap. Mereka membiarkan Syifa dalam keadaan haus dan lapar. Bahkan, tak menghubungi Bagas sama sekali melalui apapun. Mereka memanfaatkan kondisi, agar Bagas semakin cemas disana. Dan ketika itu terjadi, Bagas akan menyetujui semua persyaratan.


***

__ADS_1


"Bagas... Kenapa sama sekali tak bersuara, sayang?" tanya Mama Ayu, yang mulai sedih. Sedangkan Reza, sibuk mencari info tentang penculikan itu.


Bagas tak bergeming. Hanya diam, dan menggenggam Hpnya dengan kuat. Sesekali Reza menelpon, dan Mama Ayu yang mengangkatnya.


"Reza belum dapat info. Mobil tadi, mobil luar daerah, Tante. Sudah beberapa tangan yang memakainya."


"Baik, sayang. Sabar, semua butuh proses." Mama Ayu menenangkan.


Reza menutup teleponnya, lalu melanjutkan semua penyelidikan. Sepertinya, rencana mereka begitu baik, hingga benar-benar sulit dilacak dengan cara ini. Bahkan, Reza berfikir akan pergi ke rumah Papanya untuk bertanya.


"Kenapa tanya Papa? Apa urusannya?" tanya Om Edward, santai.


"Pa... Jangan mengelak. Hanya Papa, yang....."


"Bukan hanya Papa yang jahat disini. Tapi, kalian menganggap Papa yang terjahat. Hingga tak pernah menyadari, ada yang diam-diam mengawasi dari kejauhan."


"Papa, sudah minum obat?" tanya Reza.


"Obat itu? Hanya membuat Papa semakin sakit kepala." jawab Om Edward.


Reza pun terduduk lemah di lantai. Sang Papa bahkan tak mempersilahkannya masuk, atau pun duduk di kursi teras. Ia fokus dengan koran yang Ia baca, meski entah berisi tentang apa.

__ADS_1


__ADS_2