
Suasana berubah tegang. Terutama untuk Reza yang tahu harus berbuat apa. Posisinya serba salah, ketika harus ramah atau mendiamkan Ayahnya.
"Hey, Ward? Mari makan bersama?" ajak Mama Ayu, berusaha ramah.
"Wuaah, enak sekali kalian makan bersama seperti ini. Ramai dan penuh suka cita. Beda, dengan ku yang ditinggal sebatang kara." lirik Om Edward pada putranya.
"Percuma di rumah, kalau tak pernah di butuhkan. Hanya dianggap boneka pajangan, dan dipakai ketika diperlukan." jawab Reza, dengan nada datarnya.
Syifa tak menyukai moment ini. Ia mencoba mencairkan keadaan, seperti yang di lakukan Mama Ayu. Ia mengambilkan piring, dan menuangkan nasi ke dalam piring On Edward dengan senyum ramahnya.
" Syifa, sehat?" tanya Om Edward.
"Sehat, sangat sehat, Om. Om sendiri?" balas Syifa.
"Sangat sehat, meski sedikit kecewa. Luka mu, sudah sembuh?"
"Ya, luka ini memang akan gampang sembuh, karena obatnya banyak. Beda dengan luka di jiwa, yang mungkin tak akan pernah sembuh selamanya."
__ADS_1
Jawaban yang membuat Om Edward seketika terdiam. Ia menatap Syifa, dengan tatapan yang begitu datar, tapi menyimpan banyak tanya. Tapi, Ia tak terlalu memikirkannya, karena itu bukan rencana awalnya.
" Besok, hari kematian Ibu ku. Apa kalian ingat, Kak?" tanyanya pada Mama Ayu.
"Ya, ingat. Kami akan mendoakan seperti biasa. Kami tak pernah membedakan siapapun disini."
"Tapi kenapa aku merasa selalu berbeda?" tanya Om Edward lagi. Tapi Mama Ayu berusaha tak menghiraukannya.
Makan malam kembali lengang. Om Edward tampak makan dengan begitu lahapnya, bahkan meminta Syifa untuk menambah nasi di piringnya. Ia benar-benar sangat kenyang kali ini, karena Reza tak sama sekali menasehatinya.
"Syifa... Kamu harus hati-hati."
"Kamu harus hati-hati. Kadang, lelaki setia itu hanya ketika Ia lemah. Dan ketika hidupnya mulai menanjak tinggi, Ia akan lupa siapa yang menemaninya."
"Bukankah, Om laki-laki? Berarti, Om juga seperti itu?" Syifa membalik pertanyaan.
"Hhh, pandai juga kamu." batin Om Edward.
__ADS_1
Mama Ayu membereskan piringnya yang telah tandas. Ia meminum air putih yang di sediakan dengan cepat, tampak sekali Ia sedang menahan emosinya.
"Edward.... Masih belum bangkit dari masa lalu? Bahkan, mereka sudah ngga ada, tapi kenapa terus membahas itu. Bahkan, berkali-kali di jelaskan pun, kamu tetap berada di alasan yang sama."ucap Mama Ayu, yang akhirnya bicara.
"Kamu menempatkan diri kamu, seolah-olah kamu dan Ibu adalah korban dari Mama dan Ayah kita." imbuhnya.
"Ya, memang kami korban. Korban ke egoisan kalian. Apalagi Mamamu, yang menjadi istri simpanan Ayahku. Ibu ku yang menemaninya dari titik Nol, tapi kamu yang menikmati semuanya. Lucu sekali dunia ini." tawa Om Edward.
Bagas tampak kesal, Ia sudah akan membuka mulutnya. Tapi, Reza menahannya dengan tangan dan menggelengkan kepalanya.
Mama Ayu tampak begitu lelah. Bukan hanya sekali, bahkan puluhan kali menjelaskan pada adiknya itu mengenai masa lalu. Tapi, Ia tak pernah mau menerima kenyataan. Bahwa, Ibunya lah yang sebenarnya menjadi orang ketiga dalam hubungan itu. Masalah yang rumit, berbelit-belit karena memang tak pernah ingin sadar akan kenyataan.
"Kalau Ibu orang ketiganya, kenapa mereka yang lebih dulu menikah? Apa karena Ibu sulit memiliki anak? Dan setelah itu Ayah menikah lagi untuk memiliki keturunan? Tapi, setelah itu malah Ibu hamil aku, tapi posisinya sudah di ganti olehmu? Hah? Apakah begitu?" Om Edward mulai meracau.
" Iya... Sudah ku bilang, Iya! Apa kau tak faham juga? Bukan kah kau yang tak bersyukur, karena Mama ku telah merawatmu dengan begitu baik? Apalagi, ketika Ibu kritis saat itu. Mama lah yang merawatnya."
"Gara-gara kalian Ibu ku meninggal! Kau fikir, Ia tak sakit hati?" tukas Om Edward.
__ADS_1
Wajah Syifa mulai tampak takut melihat keduanya. Ia bersembunyi di belakang Bagas, sementara Reza terus menahan amarah Bagas agar tak lepas. Mereka saling melindungi saat ini, bergantung satu sama lain.