Suamiku Pria Lumpuh

Suamiku Pria Lumpuh
Makan gratis di kedai baru.


__ADS_3

Bagas mengecup rambut Syifa. Tak ada sepatah katapun keluar dari bibirinya saat ini. Ingin menenangkan, tapi Ia tahu jika tangis Syifa kali ini adalah tangis bahagia yang tiada tara.


"Terimakasih, telah mencintaiku. Terimakasih, telah mencintai segala kekurangannku. Bukan hanya aku, tapi juga keluargaku. Tak ada apapun yang dapat Ifa berikan, selain pebgabdian sebagai seorang istri yang juga masih memiliki banyak kelemahan." imbuh Syifa, tanpa melepaskan pelukannya.


" Harusnya... Aku yang bilang begitu padamu, Fa. Aku hanya membalas jasamu padaku, karena telah memberikan sebagian hidupmu untukku yang seperti ini." bisik Bagas.


Dunia bagaikan hanya milik mereka berdua. Yang lain hanya bisa menatap dengan rasa harunya masing-masing. Bahkan, yang tak tahu menahu pun ikut menangis dengan apa yang mereka lihat.


" Hey, sudahlah. Ini acara bahagia untuk kita semua." lerai Reza pada keduanya.


"Yaudah, ayo makan, Mas. Udah waktunya makan siang." ajak syifa.


"Ayo makan...! Yang hadir disini, semuanya makan gratis! Ditraktir sama Papi Bagas. Makan lah sepuasnya." seru Reza.


Semua pelanggan bersorak sorai. Tepuk tangan dan ucapan selamat untuk Bagas dan Syifa yang tengah berbahagia saat ini. Kedai pun semakin ramai.


" Fa, jaga makan. Kamu lagi Haid." tegur Bagas, ketika Syifa makan bakso ekstra pedasnya itu.

__ADS_1


"Ifa udah kebal, Mas. Mas mau?" tawarnya. Bagas hanya menggeleng, dan menghela nafas panjang dengan kelakuan Humairahnya itu


Tak lama kemudian Reza pamit ke kantor. Ia banyak pekerjaan di sana, dan harus segera di selesaikan.


Ketika sore tiba, Bagas mengajak Syifa pulang karena tubuhnya mulai lelah dan tampak pucat.


"Maaf, Bu. Ngga bisa main lama-lama." ucap Bagas.


"Ya, kami tahu. Segeralah pulang, dan istirahat. Syifa juga, ya, sayang." ucap Bu Mariam.


Mereka pulang setelah bersalaman. Sepanjang jalan Syifa menggelendot manja, tak ingin sejenak pun berpisah dari suaminya tercinta.


"Sesekali, Mas. Rasanya ingin seperti ini terus. Tapi ingat, ketika suatu hari Mas sembuh, dan harus bekerja sesibuk Mas Reza."


"Mungkin, akan lebih sibuk dari itu. Maaf." ucap Bagas.


"Iya, makanya Ifa sedang memanfaatkan kesempatan ini. Bukan berarti tak ingin Mas lekas sembuh. Tapi semakin hari semakin nyaman."

__ADS_1


Tiba di rumah, Syifa membawa Bagas langsung masuk ke kamar. Ia menggantikan pakaian Bagas, dan menidurkannya di ranjang. Tak lupa, memberinya obat seperti biasa.


Bagas berusaha memejamkan matanya. Syifa pun kembali pada aktifitas biasanya, yaitu memijat kaki Bagas. Sangking senang hatinya, Ia bahkan tak dapat memejamkan mata kali ini. Hingga mencari berbagai aktifitas, untuk menghibur hatinya.


Sembari memijat, Syifa sesekali menggelitik telapak kaki Bagas. Ada respon positif, yaitu ketika kakinya bergerak secara spontan. Syifa mengembangkan senyum lebar ketika melihatnya.


"Kenapa senyum-senyum?" tanya Bagas, dengan mata terpejam.


"Hah, engga... Ini, dapet mainan baru, lucu." ucap Syifa..


"Itu kaki suamimu, Fa."


"Iya tau, Mas. Tapi gemesin." ucap Syifa, yang terus memainkan jarinya di kaki Bagas.


Bagas menatap Syifa yang sedang bermain. Hasrat nya kembali timbul, tapi terhalang oleh keadaan. Ia tak mungkin memaksa, karena ketika Ia sulit, Syifa pun tak pernah memaksanya. Ia mengangkat tangan, tangannya menggenggam, seolah tengah mendekap Syifa di sana.


Ia begitu gemas, membayangkan Ia menggenggam tubuh Syifa di telapak tangannya, dan memainkan nya bagai bola kenyal yang selama ini Ia mainkan..

__ADS_1


"Ish, gadis ini. Kenapa semakin begitu menggemaskan. Matanya, hidungnya, senyumnya, dan semua yang ada pada dirinya. Aaaah, rasanya.... Eeeerrrrgggghhh!!" batin Bagas geregetan.


__ADS_2