Suamiku Pria Lumpuh

Suamiku Pria Lumpuh
Akan terjadi huru hara lagi


__ADS_3

Syifa dan yang lain telah tiba di rumah. Mereka menggunakan mobil Reza, sedangkan Farhan diminta Bagas menjemput Ayah dan Ibu Syifa.


"Kenapa dijemput? Masssss...."


"Udah terlanjur, Fa. Mereka bentar lagi datang." jawab Bagas.


"Dah lah, Ifa mandi dulu."


"Tadi udah mandi, kenapa mandi lagi?"


"Mandi lah, biar harum. Biar... Semakin menggairahkan." goda Syifa, dengan mengedipkan matanya.


"Syifaaaaaaaaa....."


"Iya sayang..." jawabnya, sembari berlari kecil menuju kamar mandi.


Ada Satu perubahan lagi dalam diri Bagas, yaitu ketika Ia tak lagi menunggu syifa untuk sekedar berpindah tempat. Ia berusaha bergerak sendiri, menggeliat dan naik ke tempat tidur.


"Dia sakit, dia juga perlu istirahat dari dirimu. Kau harus mencoba lebih mandiri dari ini." lirihnya, yang berusaha keras agar mendapat posisi nyaman seperti biasa.


"Aaah, akhirnya." Bagas menghela nafas lega.


Syifa keluar dari kamar mandi. Kali ini, Ia tampak begitu menggairahkan dimata Bagas. Syifa yang hanya mengenakan handuk sebatas dada, dan pendek diatas paha. Apalagi, tubuhnhya yang masih setengah basah dengan rambut yang digulung, memperlihatkan lehernya yang jenjang. Bagas meneguk salivanya kasar, dan menatap istrinya itu tanpa berkedip sama sekali.


"F-Fa.... Kamu?"


"Hmmm, kenapa? Bukannya sering, lihat Ifa begini?" tanyanya, yang justru menghampiri Bagas.


"Ta-Tapi... Kenapa hari ini rasanya berbeda? Tampak... Begitu menggairahkan." ucap Bagas yang gagap.


Syifa hanya tersenyum. Ia semakin dekat dan justru membuka ikatan rambutnya. Ia pun duduk dipangkuan Bagas, dan membelai bahunya beberapa kali dengan mesra.


" Fa, kali ini rasanya beda."


"Ya, itu yang kita cari."


Handuk yang melilit tubuh Syifa telah tergeletak di lantai, begitu juga yang di kenakan Bagas. Mereka berserakan, tak tentu kemana arahnya, dan mereka tak perduli. Mereka terlalu menikmati permainan yang mereka ciptakan sendiri itu.


******* demi ******* terdengar liar, di sela nafas yang tersengal. Syifa memimpin permainan, meski Bagas pun tak mau kalah dengan wanitanya itu. Dan akhirnya, benteng pertahanan Syifa pun dapat ditembus oleh Bagas.


"Sakit?" tanya Bagas, pada Syifa.


Syifa hanya menggeleng, lalu mendongakkan kepalanya keatas menatap langit-langit sembari menyibakkan rambutnya keatas.


"Teruskan..." jawab Syifa lirih.

__ADS_1


Permainan dipercepat. Bagas tak tega melihat Syifa yang tampak menahan sakit, meski di barengi dengan kenikmatan yang luar biasa darinya. Ia membantu Syifa mempercepat gerakan.


Dan akhirnya, mereka sampai di titik yang sama. Dahaga itu lepas dan mereka terkulai berdua dengan peluh yang membanjiri tubuh masing-masing. Syifa menjatuhkan dirinya di sebelah Bagas, dan Bagas langsung turun mendekapnya erat.


"Terimakasih." ucap Bagas, mengecup kening istrinya dengan mesra.


"Hari ini, aku menjadi istrimu seutuhnya, Mas." ucap Syifa dengan penuh haru.


Mereka membersihkan diri, dan beberapa waktu mengistirahatkan tubuh mereka. Memejamkan mata dan melepas rasa lelah mereka. Hingga seseorang mengetuk pintu, dan itu suara Bu Mariam, yang baru datang untuk menjenguknya.


" Fa, kamu tidur? Ini udah mau isya, bangun dulu makan malam." panggil Bu Mariam


Syifa dan Bagas segera memakau pakaian masing-masing. Lalu berdiri untuk menghampiri mereka diluar. Tapi, Syifa hanya duduk diam setelah memindah Bagas ke kursi roda dan merapikan dirinya.


" Kenapa? Masih sakit?" tanya Bagas.


Syifa mengangguk, wajahnya pun tampak sedikit pucat.


"Yasudah, istirahat saja dan tidur. Untung ada. Alasan, kepalamu sakit." ucap Bagas.


Syifa pun menurutinya, lalu tidur dan menutupi tubuhnya dengan selimut tebal yang ada. Sementara Bagas keluar menemui mertuanya.


"Syifa mana, Bagas?" tanya Bu Mariam.


"Ehm, istirahat, Bu. Pusing katanya, kepalanya luka benturan tadi." jawab Bagas.


Bu Mariam langsung berinisiatif untuk mengambilkan makan malam. Dan Bagas memintanya, agar Ia saja yang menyuapi Syifa di kamar.


"Bisa? Sini, Ibu bawakan ke kamar." tawarnya pada sang menantu.


"Iya, Bu, terimakasih." ucap Bagas.


Mereka pun masuk kamar bersama, dan menghampiri Syifa yang tengah terbaring lemah di kamarnya.


"Masih pusing, Nak?" tanya Bu Mariam, dengan memegang dahi Syifa yang hangat.


"Iya, pusing dikit. Mungkin karena lukanya." jawab Syifa. Padahal, sakit karena hal yang lain.


"Makan dulu yuk, aku suapin." Bagas menghampirinya.


Syifa pun terbangun dari tidur, dan duduk untuk menyantap makan malamnya.


Ibu Mariam, yang tak sengaja menemukan berbagai tanda di tubuh Syifa, hanya bisa tersenyum gemas. Ia tampak bahagia, ketika kedua anaknya telah menjadi suami istri seutuhnya.


"Hihi, tinggal berharap punya cucu lagi." fikirnya dalam hati.

__ADS_1


Bu Mariam pun keluar dari kamar itu. Ia tak mau menganggu moment indah mereka.


"Ya ampun, Fa. Banyak banget tandanya. Maaf, ya?" ucap Bagas.


"Iya, kalau lagi kelepasan ngga kira-kira. Lama lagi ilangnya." balas Syifa, dengan wajah kesalnya..


"Iya, maaf." bujuk Bagas dengan wajah manisnya.


Senyumnya, matanya, dan semua tatapannya yang menyejukkan hati. Membuat jantung Syifa semakin bergetar hebat. Tak mungkin, tak luluh akan bujuk dan rayuan sang suami berwajah malaikat itu.


"Kenapalah, Ifa ngga pernah bisa marah? Ngeselin." omel nya, sembari menikmati makanan yang Bagas suapkan untuknya.


"Tadi, yang datang siapa? Mas tahu?"


"Orang kaya, apakah hidupnya ngga tenang? Kenapa samakin kaya, semakin banyak musuhnya?" tanya Syifa.


"Seperti itulah hidup. Semakin kita diatas, semakin kencang pula terjangan anginnya."


"Kalau pribahasa itu, Ifa tahu, Mas."


"Sudah, selesai makan, kamu langsung tidur. Ngga udah banyak bergerak, atau pergi kemana-mana. Aku, mau bicara sama Reza dulu." ucap Bagas.


Syifa hanya mengangguk, lalu kembali merebahkan diri setelah meminum obatnya. Bagas keluar, dan menemui Reza di meja laptopnya. Sementara Ibu Mariam dan Pak Abu, tengah beristirahat di kamar mereka.


Mereka berdua membicarakan kembali masalah tadi siang. Ketika Salah satu dari mereka bebas, dan mendengar ketika Bagas berteriak memanggil nama Syifa.


"Dia, pasti akan melapor pada atasannya. Dan akan bahaya, jika tahu gue udah bisa ngomong." ucap Bagas.


"Kalau pun iya, pasti akan ada kejadian aneh di kantor, besok. Loe, harus bersiap dengan apapun yang terjadi." jawab Reza santai, dengan sebuah apel di tangannya.


Bagas hanya mengangguk. Ia tahu benar, akan ada huru hara lagi di kantor ketika tahu Ia dalat berbicara. Bisa jadi juga, kuasa yang di berikan Syifa akan dicabut oleh para anggota dewan. Lalu, mereka akan memaksa Bagas untuk kembali bekerja dalam keadaan apapun.


"Ya, gue siap. Meski lagi-lagi harus merepotkan banyak orang nantinya." fikir Bagas.


Namun, di sela semua antusiasnya. Ia merasa sakit di bagian pinggang hingga pinggulnya. Itu membuatnya begitu gelisah, hingga Reza pun cemas melihatnya.


"Loe kenpa? Mana yang sakit?" tanya Reza.


"Engga.... Tadi mereka sempet pukulin gue sama tongkat yang ada di kamar. Tadi ngga papa, tapi baru kerasa sakitnya." ucap Bagas, memegangi bagian belakangnya itu.


Reza beringsut. Ia membuka pakaian Bagas, lalu melihat memar yang ada disana.


"Kenapa baru ngomong? Kalau daritadi, kita langsung periksa. Ini, bisa bahaya, Bagas."


"Ngga papa. Udah, jangan bilang syifa. Olesin aja creamnya disini. Besok juga hilang." pinta Bagas.

__ADS_1


Reza hanya meng'iyakan. Ia tahu bagaimana watak sepupunya itu. Dan karena, Ia hanya bisa menuruti Syifa di saat sekarang ini.


__ADS_2