Suamiku Pria Lumpuh

Suamiku Pria Lumpuh
Terpisah oleh adat dan keluarga.


__ADS_3

"Ifa, Bagas. Beberapa hari sebelum pernikahan, kalian harus di pingit." ujar Mama Ayu, yang datang ke rumah mereka.


"Kenapa harus di pingit? Kami kan udah menikah lama, tinggal pestanya aja, Ma." keluh Bagas, yang tampak begitu cemas.


"Ini untuk kebaikan. Mama dan Papa juga dulu begitu. Udah nikah beberapa bulan, terus pesta. Masih harus pisah selama seminggu."


"Jangan sampai seminggu juga." gerutu Bagas.


Syifa hanya tertawa renyah, melihat wajah cemas sang suami. Apalagi Reza, yang tampak bahagia dengan penderitaan yang akan dihadapi Kakaknya itu.


"Ketawa kau?" lirik Bagas penuh kebencian padanya.


Reza hanya menjulurkan lidah, meluapkan rasa bahagia yang tiada tara.


"Terus, pisahnya gimana, Ma?" tanya Syifa, dengan menyodorkan teh hangat pada mertuanya itu.


"Syifa Ifa tidur di atas, dikamar pengantin. Bagas tidur sama Reza, di bawah."


"APA?" kaget Reza dan Bagas bersamaan.


"Hhh, Lagi dan lagi. Aku yang menjadi korban mereka." kesal Reza, seolah kehilangan aura bahagianya yang baru saja keluar.


"Mulai kapan, Ma?" tanya Bagas.

__ADS_1


"Mulai malam ini. Tidak ada kata penundaan. Toh, semakin lama berpisah, besok akan semakin mesra." ledek Papa Erland dengan teh hangatnya.


Bagas tampak begitu lesu. Andai bisa, Ia akan memohon sembari bersimpuh agar di beri kesempatan semalam saja bersama. Tapi, keputusan sudah bulat dan tak dapat di ganggu gugat. Karena itu, adalah adat istiadat keluarga mereka.


"Sayang, kamu siapa yang nemenin malam ini?" tanya Bagas, pada sang istri.


"Olin..." jawabnya singkat.


"Hah, Olin?" kaget Reza lagi.


Dan benar, beberapa lama kemudian Olin datang dengan koper nya. Syifa pun menyambut dengan penuh keramahan, memperkenalkan Olin pada calon mertuanya.


"Ifa tahu, Mama bakal pingit kita?" bisik Bagas.


Tangan Bagas mulai bergerak, mencari lengan Syifa dan mencubitnya sedikit keras.


"Aaaakkhh... Sakit, Mas. Masih inget aja nyubitin gini."


"Nakal..." lirik Bagas begitu kesal.


Syifa pun mengajak Olin untuk naik ke kamarnya. Membereskan beberapa pakaian Bagas untuk di bawa ke kamar Reza.


"Ini, Mas. Jaga diri baik-baik disana." ucap Syifa.

__ADS_1


"Sayang, jangan begitu. Kenapa harus berpisah." rengek Bagas, membawa kopernya.


"Bentar aja, cuma beberapa hari 'kan? Nanti, setelah itu kita semakin erat." goda Syifa, dengan tangan bergerilya di dada bidang Bagas.


Olin melihatnya, matanya membulat tapi Reza menutupnya.


"Huuust, jangan lihat itu." bisik Reza pada sang kekasih.


Bagas menyentuh Bibir Syifa, ingin meraih dengan bibirnya. Tapi, Syifa menahannya dengan telapak tangannya.


"Astaga... Beberapa hari, serasa beberapa tahun." keluh Bagas, begitu tertekan.


"Lebay! Ayo pergi. Semakin disini, semakin banyak penampakan kami yang belum halal." rangkul Reza pada Bagas.


Mereka turun berdua. Reza menepuk-nepuk bahu Bagas dengan lembut, menenangkannya yang tengah gundah gulana. Pasalnya, Satu tahun lebih menikah, mereka belum pernah terpisah. Kecuali kejadian penculikan beberapa bulan yang lalu.


"Sudah, tidurlah. Ini sudah malam. Tak mungkin kau tak dapat tidur, hanya karena berpisah kamar dengan Istrimu."


Bagas hanya diam, cemberut memeluk bantal.


Tersiksa rasa dan batinnya. Karena ketika tidur, Syifa akan selalau dalam pelukannya. Membelai dadanya, dan tak pernah lepas hingga pagi hari.


"Hembusan nafasnya saja candu, pelukan dan semua tentangnya. Tapi kini... Aku harus bersama pria dengan dengkuran yang begitu keras. Dan tidur dengan segala arah. Oh, sayang... Untung saja ini hanya sebentar."

__ADS_1


__ADS_2