
"Mas Reza, makasih ya udah anterin kita pulang."
"No problemo, Fa. Aku mau balik lagi ke kantor." pamit Reza, setelah menurun kan Bagas dari mobilnya..
Syifa hanya mengangguk, lalu membalik badan membawa Bagas ke dalam rumah. Ia pun tak lupa membuka hellsnya, dan masuk bertelanjang kaki.
"Aaaahhhh, lega..." ucapnya.
"Kenapa dilepas?"
"Lecet, Mas. Perih banget rasanya, nih." jawab Syifa dengan menunjukkan ujung kelingking kakinya.
"Kenapa ngga bilang? Bisa minta Ali belikan sendal tadi."
"Ngga enak sama Mama, yang udah pinjemin sepatunya." bisik Syifa.
Bagas hanya menggelengkan kepalanya, lagi dan lagi istrinya itu bertindak mengherankan.
Mereka masuk ke kamar, lalu Syifa merebahkan tubuh Bagas di ranjangnya.
"Bentar, aku ganti baju dulu. Udah gerah banget rasanya." ucap Syifa.
__ADS_1
Syifa melepas satu persatu pakaian mewahnya. Tak perduli, Bagas menatapnya tanpa berkedip. Syifa pun mengganti pakaiannya dengan kaos oblong milik Bagas, nampak kebesaran tapi cocok untuk tubuhnya yang mungil. Apalagi, Ia hanya memakai hotpants yang tertutup oleh kaos itu.
"Tumben, seksi?" tanya Bagas yang masih saja melirik.
"Seksi kah? Asal ambil aja tadi. Ngga papa lah, Mama sama Papa lagi ngga ada." jawab Syifa.
Ia pun langsung melucuti pakaian Bagas satu persatu, dan menggantinya dengan kaos yang lain.
"Fa, boleh jujur?"
"Apa? Ngomong aja."
"Aku... Menginginkan kamu." jawab Bagas meski ragu.
"Menginginkan yang bagaimana?" tanya Syifa.
"Jangan ditanya lagi, Fa. Kamu tahu maksudnya."
"Aku tahu, hanya saja... Aku juga sedang menyabarkan diriku sendiri, Mas." lirih Syifa, dengan tangan yang merayap di bahu Bagas.
Ada rasa yang mengalir, begitu kuat. Berdesir serasa tak tertahan dalam tubuh Bagas. Tangannya lalu meraih tengkuk leher Syifa, dan mendaratkan bibirnya disana. Syifa refleks mendongakkan kepalanya keatas, menggigit bibir, dan sesekali menghela nafas panjang. Tapi, Bagas segera melepasnya agar tak lebih jauh bertindak.
__ADS_1
"Maaf, Fa... Aku, hanya tak ingin kamu kecewa." sesalnya, meski semburat wajah Bagas memperlihatkan jika Ia ingin memberikan sesuatu yang lebih untuk sang istri.
Syifa menundukkan wajah sejenak, mungkin mengusap air mata kekecewaan yang sedikit jatuh. Dan setelah itu, Ia kembali menatap Bagas memeluknya dengan begitu erat.
"Aku tahu, Mas. Aku tahu kamu tak ingin mengecewakan aku. Aku tahu, kamu masih ragu dengan kakuatanmu sendiri. Aku akan menunggu, dan kamu harus tetap sabar untuk memperoleh jati dirimu lagi. Aku siap, kapanpun kamu memintanya." ucap Syifa.
Mungkin jika di paksa, Bagas mampu. Tapi Ia belum berani karena takut jika tak sama-sama merasa kan kepuasan diantara mereka. Karena dalam kondisi ini, memaksa pun hanya Syifa yang akan aktif kala itu.
Syifa beralih merebahkan diri di sebelah Bagas, lalu miring memeluk tubuh suaminya. Berbantal lengan Bagas, dan kaki Syifa naik diatas perut Bagas. Ujian kesabaran mereka adalah, ketika hasrat ingin, namun tubuh belum mampu. Dan hanya dapat menahan lebih lama lagi
***
Di butik Mama Ayu, rombongan sedang mengadakan arisan disana. Mereka berbincang dengan santai dan ramah seperti biasa. Hingga seseorang mulai mempertanyakan Bagas padanya.
"Jeng Ayu, gimana anaknya?"
"Bagas? Baik, alhamduliah. Tapi, belum bisa jalan." jawabnya
"Loh, kok ngga sembuh-sembuh? Apa yang kurang? Padahal istrinya perawat."
"Iya, istrinya perawat. Begitu terampil, dan telaten merawat Bagas. Saya sampai terharu, dan ngga menyangka jika dia bahkan bisa sebaik itu." puji Mama Ayu.
__ADS_1
"Iya, baik. Tapi kasihan, tak dapat merasakan indahnya pernikahan. Malam pertama aja belum kayaknya. Udah nikah berbulan-bulan, jangan-jangan masih perawan?"
Ucapan dan pertanyaan biasa sebenarnya, tapi terasa begitu menusuk dalam kondisi saat ini. Mama Ayu yang sudah berusaha tak ambil pusing dengan itu, kini harus diingatkan kembali oleh mereka yang begitu dekat dengannya.