Suamiku Pria Lumpuh

Suamiku Pria Lumpuh
Tujuan yang tak jelas lagi.


__ADS_3

Farhan membawakan tas Bagas, dan Syifa membawa suaminya masuk ke dalam mobil. Mereka berangkat kembali untuk terapi yang kesekian kalinya.


Bagas belum mengatakan pada Syifa, jika Ia sudah dapat sesekali menjentikkan jari-jari kakinya. Ia ingin memberi surprize, yang pasti akan begitu membahagiakan sang istri.


"Hanya tinggal menunggu waktunya, pasti itu akan terjadi." batin Bagas, dengan menggenggam jari jemari Syifa yang mungil.


Mereka tiba di klinik. Karena jalanan tak terlalu ramai, mereka dengan begitu cepat sampai ke tempat tujuan. Syifa lalu mendorong Bagas masuk, dan tanpa konsul ke Dokter Taufik, karena Beliau sedang ada urusan lain di luar. Dan tanpa banyak kegiatan lagi, Bagas langsung di arahkan naik ke alat terapinya.


Alat mulai di gerakkan, perlahan tapi pasti sembari di dorong maju agar tampak seperti Bagas tengah berjalan dengan kakinya. Tampak masih sulit, tapi tak sesakit kala itu. Ia pun sesekali berusaha menggerakkan kakinya sendiri, ketika perhatian Syifa teralih ke yang lain.


"Sudah lumayan." ucap sang terapis.


"Ya, asal kita mau berusaha, bukan?" jawab Bagas, di balas anggukan terapisnya..


Tak hanya kaki, alat terapi pun di pasangkan di lengan. Sesekali ketika duduk, tangan Bagas di latih kekuatan dan keseimbangannya. Bergerak ke kanan dan kekiri, sembari menyeimbangkan bahunya yang lebar itu.


" Anda suka nge Gym?"

__ADS_1


"Ya, dulu hampir setiap sore. Tapi kini, mengangkat benda kecil pun begitu sulit."


"Sabar saja. Perkembangan Anda begitu baik. Saya rasa, sudah bisa diajak berdiri jika di rumah."


"Ya, Istriku sudah pernah melakukannya." jawab bagas dengan ramah.


Syifa menghampiri untuk memberikan minum. Setelah itu, kembali menunggu dengan tenang di samping Farhan.


"Dia... Tampak begitu mencintaimu." ucap Farhan.


"Bahkan, Aku tak pernah menyangka akan seperti ini. Merasa takjub, ketika Ia bahkan mau mengorbankan segalanya untukku." jawab Syifa.


Hampir setengah hari melakukan segala terapi. Bagas sudah tampak kelelahan, terlihat dari wajahnya yang pucat, dan peluhnya yang bercururan. Syifa menyambutnya, setelah semua alat terlepas dari tubuh suaminya itu.


"Ganti baju dulu, abis itu kita pulang." ucap Syifa, bak seorang Ibu yang merayu balitanya.


Tak lupa Syifa membersihkan wajah Bagas dengan tisu basah yang Ia bawa. Hingga Bagas tampak kembali segar, dan kembali tampan seperti sedia kala. Semua mata pun tertuju padanya. Apalagi, para perawat wanita yang bekerja di sana.

__ADS_1


"Langsung pulang 'kan?" tanya Syifa.


"Ya... Pekerjaan kantor di handle Reza." angguk Bagas.


"Kita, mampir makan di luar, ya? Ke resrtaurant langganan Aku, dulu. Udah lama ngga kesana." ajak Bagas.


"Oke... Ifa udah laper." jawab Syifa ceria.


***


"Mana, Dia?" tanya Om Edward pada Reza.


"Sedang terapi. Mungkin tak datang hari ini."


"Kapan dia sembuh? Kenapa lama sekali sembuhnya? Atau, memang tak akan pernah bisa sembuh?" racau Om Edward lagi.


"Buka Artikel tentang yang di derita Bagas, Pa. Reza tak dapat menjelaskan dengan rinci."

__ADS_1


Om Edward mencebik kesal. Tatapannya begitu malas menatap Reza yang fokus dengan laptopnya, bahkan tak mau meliriknya sama sekali.


Om Edward kembali keluar, tapi tujuannya tak jelas. Setelah kejadian kemarin, Ia di non aktifkan seperti yang lain. Hanya saja, karena Ia salah satu pemilik saham terbesar, Ia masih bebas di perusahaan.


__ADS_2