Suamiku Pria Lumpuh

Suamiku Pria Lumpuh
Kejutan dari Mami untuk Papi.


__ADS_3

Viona langsung terduduk lemas dan tak berdaya. Tatapannya kosong, dan bibirnya terkunci. Ia syok, karena rencana yang telah begitu matang, dapat dengan mudah di hancurkan.


"Ma.... Mama kenapa diem, Ma? Ayo kita lari. Masih bisa lari kok." teriak Farah yang juga telah di borgol tangannya.


"Ku fikir, asal kalian semua hancur, aku bisa tenang dalam penjara meski seumur hidup. Tapi, kenapa begini? Aku yang kembali harus kehilangan semuanya." lirih Viona, dengan tatapan datarnya.


"Kau, terlalu terobsesi. Selamat menikmati semua hari-harimu, Tante." ucap Bagas.


Viona hanya diam. Seidikit celah pun tak Ia dapat saat ini, hanya untuk berfikir pergi. Dipenjara bersama anak dan suaminya, benar-benar akhir riwayat yang pedih, yang tak pernah Ia bayangkan  sebelumnya.


Bagas kembali berdiri dengan tegap. Ia mengucapkan terimakasih kepada semua anggota kepolisian yang telah membantunya. Ia kemudian merapikan diri, dan menghampiri ang istri yang masih ada dalam pelukan Reza dan Olin.


"Sayang..." panggil nya, dengan merentangkan kedua tangan.


Seketika, Syifa berlari menghampiri dan memeluknya dengan begitu erat, bersamaan air mata yang mengalir deras di pipinya.


"Sudah lah, semua aman. Mereka ngga akan pernah kebali lagi mengusik kita." kecup dan belai Bagas di rambutnya.


"Ifa takut, bahkan kaki Ifa gemetaran sampai sekarang. Apalagi, ketika semua orang jatuh pingsan. Tapi, kenapa mereka bangun lagi?" tanya Syifa.


"Mereka bukan tamu kita." ucap Reza yang menghampirinya.


"Hah?" Syifa memicingkan mata.


"Mereka anggota dari kepolisian, yang diminta menyamar disini."


"Semua?" tanya Syifa lagi.


"Iya, kami bekerja sama menyergapnya. Besuaha agar tak ada pertumpahan darah lagi. Apalagi, hari ini hari bahagia kita." ucap Bagas, dengan senyum manis yang menawan.


"Huaaa... Hahaha!" tangis Syifa menggelegar, semakin membuat bungung suaminya.


"Ifa kenapa lagi?" tanya Bagas.


"pesta nya ngga jadi? Padahal, bayangan Ifa udah begitu indah. Tapi ngga jadi."


"Bukan ngga jadi, hanya pindah tempat." ucap Bagas, dengan mengusap air mata sang istri.


Belum sempat Syifa bertanya. Bagas menggandeng tangan dan mengajaknya pergi. Mereka menaiki mobil, dengan Farhan yang ternyata sudah menunggu didalam sana.


"Mau kemana?"


"Ikut aja." ucap Bagas, dengan menutup mata sang istri.


Sedangkan Reza, mengikuti dengan motornya, bersama Olin yang memeluknya dengan begitu erat.


"Mas?" panggil Olin.


"Ya, sayang?"


"Musuhnya udah abis?"


"Udah dong. Kenapa?"


"Ngga papa. Takut aja, pas kita nikah, akan ada kejadian seperti ini." ucap Olin.


"Olin... Sudah siap menikah?" tanya Reza, dengan perasaan yang begitu berdebar.


"Ya, siap." ucap Olin, yang memeluk Reza semakin  erat.


Perasaan begitu bahagia, terpancar dari raut wajah Reza.

__ADS_1


"AAaaaaaarrrrghhhh!!! Reza Edward, mau Nikah woooy!!" pekiknya, di sepanjang jalanan.


Olin hanya tersenyum, dengan tingkah laku kekasihnya itu.


***


Di sebuah hotel yang mewah, Mobil berhenti. Bagas menggenggam tangan Syifa dan membantunya turun perlahan.


" Ini dimana?" tanya Syifa kebingungan.


Bagas tak menjawab, tapi langsung memgngkat dan menggendong Syifa ke tempat yang seharusnya. Reza dan Olin, mengikutinya dari belakang.


"Mas, kok lama?" tanya Syifa.


Tak lama kemudian, Bagas menurunkan Syifa, dan Olin membuka penutup matanya.


"Surprizeee!!!" ucap semua orang yang ada disana.


Syifa terperangah, menutup mulutnya dan nyaris menangis karena semua yang Ia lihat saat ini.


"Semua, kenapa disini?"


"Aku sengaja, merubah semua persiapan. Undangan kembali ku sebar, dengan pemberitahuan berpindah tempat.. Dan dirumah, tetap ku laksanakan untuk memancing mereka keluar." terang Bagas.


"Fa, semua bagas lakukan demi kamu. Demi pesta yang telah kamu impikan. Meski akhirnya, Ia Dua kali lipat lebih sibuk dari seharusnya." ucap Bu Mariam.


Syifa kembali memeluk Bagas dengan begitu erat. Semakin cinta, dan semakin sayang kepada sang suami yang mengirbankan apapun demi dia.


" Aku belajar sabar darimu. Memikirkan semua dengan cermat dan matang. Hingga, tak ada lagi korban diantara kita." ucap Bagas.


Ia melepas pelukan Syifa, lalu menggandeng tangan nya menuju pelaminan mewah yang ada di seberang lautan manusia, yang menjadi undangan pada pestanya.


" Mas, capek." rengek Syifa.


" Nanti kalau kecapean, kasihan Junior." ucap Syifa, dengan mengusap  perutnya yang masih rata.


Semburat bahagia kian terpancar. Senyum Bagas begitu lepas. Ia bahkan bersimpuh, dan menyapa Bagas Junior yang telah hadir di dalam rahim sang istri. Ia bahkan menangis dengan begitu bahagia. Bahkan, semua yang menatapnya ikut terharu sampai menangis.


"Peramata hatiku, buah dari segala rasa cintaku. Tumbuhlah, dengan baik hingga kita dapat bertemu dan bermain bersama nanti." bisik Bagas.


"Yaaaah... Punya saingan." keluh Reza, yang bingung akan punya adik, atau keponakan.


...Hay Gaesku, Readers setiaku yang baik hati dan ramah selalu....


...Pemberitahuan, kalau Mami Papi tamat ya. Maaf, karena kalau kepanjangan, malah meleber kemana-mana ceritanya....


...Tetep stay, jangan langsung unpav karena akan banyak ekstra part. Apalagi, Mami hamil. Pasti lucu, ketika Papi ngurusin Mami yang gantian manja.. Wkwkkww... Apalagi, Reza yang akan mulai repot cari perhatian calon binik....


Jangan lupa baca cerita baru ku, ya... GADIS KECIL SANG TUAN MUDA.😘😘😘



Bab 1.


Mendadak di lamar.


Seorang gadis, dengan riang gembira berjalan sembari berloncatan di jalan. Dengan seragam tercintanya, sembari menyanyikan lagu lucu milik gadis kecil bernama Inu No Omawari San.


"Maigo no maigo no koneko-chan


Anata no ouchi wa dokodesu ka

__ADS_1


Ouchi o kiite mo wakaranai


Namae o kiite mo wakaranai."


Begitu ceria, hingga terhenti karena melihat barisan mobil terparkir di depan rumahnya.


"Waduh, siapa itu? Kok, ada mobil sama Bapak-bapak pake jas item?" tanya Ais, yang berhenti diujung jalan.


"Apa, Mama mau di lamar Bosnya? Atau, itu orang-orang yang nagih utang? Terus, Aku mau di jadiin sebagai tebusan, begitu?" gerutunya.


Ia pun berbelok arah, menyusuri jalanan sempit yang tembus ke daerah belakang rumahnya. Mengendap-endap, lalu duduk di pojokan dapur mendengar percakapan mereka.


"Kalian, utusan Tama?" tanya Mama Linda.


"Ya... Saya rasa, Nyonya sudah tahu apa tujuan kami. Tuan Tama, hanya mau memenuhi janjinya pada kelurga kalian." jawab Pak Wil.


"Anak saya masih sekolah. Masih SMA."


"Kami tahu, bahkan dia nyaris di skors gara-gara kenakalannya. Seupuluh kali keluar masuk sekolah, dan suka berkelahi dengan teman-temannya."


"Sedetail itu, kalian mencari berita? Apalagi?" tanya Bu Linda, menantang info dari mereka.


"Tuan tama sakit. Dalam fikirannya saat ini adalah, memenuhi janjinya pada sang sahabat." jelas Pak Wil.


Dua puluh tujuh tahun yang lalu, Tuan Tama dan sahabatnya pernah berjanji. Mereka akan menikahkan anak-anak mereka jika telah tiba waktunya. Dan kini, Tuan Tama yang takut jika dapat memenuhi janjinya tepat waktu.


Pyarrrrr! Sebuah benda kaca jatuh dan pecah. Terdengar jelas, meski bunyinya dari dapur.


"Ais dibelakang?" panggil Mama Linda.


"Iya, Ma. Maaf, Ais lewat belakang." ucapnya.


Ia pun keluar dengan perlahan, menemui sang Mama yang tengah bersama rombongan berjas hitam.


"Ini Aishwa?" tanya Pak Wil dengan ramah.


"Iya, saya Ais." jawab gadis itu dengan sopan.


Pak Wil tersenyum, gadis kecil itu telah mencuri hatinya. Tapi, membuat Ais takut dan berburuk sangka.


"Apa, Bapak yang mau lamar Ais?" tanya nya.


"Ya, saya datang untuk lamar kamu."


"Mama punya hutang? Kenapa Ais yang harus menikahi Bapak tua ini?" tanya Ais pada sang Mama.


Semua lantas tertawa terbahak-bahak, mendengar celoteh gadis manis yang telah salah faham itu.


"Ais, saya melamar kamu, untuk Tuan saya. Dia, yang nanti akan menikahi kamu."


"Tuan, masih muda? Tapi, Ais masih remaja."


"Semua bisa di atur, asalkan kamu bersedia. Itu, adalah perjanjian Papa mu dan Tuan Tama. Beliau kini sedang terbaring di Rumah Sakit karena serangan jantung." jawab Pak Wil.


Ais hanya bisa menatap Mamanya, tatapan mata itu penuh tanya. Sang Mama hanya bisa diam, entah apa yang ada dalam fikirannya saat ini. Ia ingin memenuhi permintaan sang suami, karena Ia tahu perihal janji tersebut. Di satu sisi, Ia tak tega melihat anaknya menikah di usia belia. Bahkan, belum lulus dari sekolahnya.


"Ais ganti baju dulu, yang rapi. Kita akan jenguk Om Tama. Calon mertuamu." jawab Mama Linda.


Dengan ucapan itu, Ais langsung faham. Jika, Mama nya akan memberikan Ais pada keluarga itu untuk di nikahkan dengan sang Tuan muda.


"Ais tahu, Ais nakal. Ais berandal, Ais merepotkan Mama. Tapi, jangan dengan menikah, Ma. Ais belum siap." rengeknya.

__ADS_1


"Ikuti kata Mama, Ais. Gantilah pakaianmu." pinta sang mama, lagi.


__ADS_2