Suamiku Pria Lumpuh

Suamiku Pria Lumpuh
Rendang jengkol kesukaan


__ADS_3

"Bu, apaan sih? Daritadi kok begitu terus ngomongnya. Ngga ada yang bener deh." tegur Fina.


"Ya emang. Satu dapet suami cacat, ngga bisa apa-apa. Satu lagi, normal tapi juga ngga bisa apa-apa. Ngerepotin orang tua aja bisanya." gerutu Bu Yana, lalu masuk kedalam dengan perasaan kesal.


Fina dan Farhan menundukkan kepala. Mereka tampak saling menguatkan satu sama lain. Malu, lelah, namun mereka tak dapat berbuat apa-apa saat ini.


"Ibu, kenapa belum berubah juga, Fin?" tanya Syifa.


"Ibu hanya bisa berubah, jika aku dan mas Farhan jadi PNS, Menuruti apa maunya. Memakai seragam rapi, dan hidup dengan bergelimang harta. Tapu tahu sendiri, untuk mencapai itu, ngga semudah yang dikira."


"Awalnya mau jual tanah, buat itu... Tapi, aku nolak, Fa. Mending tanahnya aku olah sendiri, eh malah makin jadi, Ibu mertuaku." sambung farhan.


Bagas dan Syifa hanya saling lirik. Bagas mengisyaratkan sesuatu pada istrinya, dan Syifa pun langsung faham.


"Farhan, bisa nyetir 'kan?" tanya Syifa.


"Bisa, Fa. Kenapa?" balas Fina.


Syifa pun mengutarakan maksudnya, dan semua keperluannya. Bahwa, Ia membuatuh kan seorang supir pribadi untuk mengantarnya dan Bagas kemanapun mereka pergi.


"Apalagi, Mas Bagas bakalan terapi. Jadi, makin padat jadwal kami nanti."

__ADS_1


"Tapi, Fa. Ibu?"


"Ya, rundingin aja dulu, Fin. Ini rumah tangga kalian, jadi kalian yang harus mengaturnya. Ibu, dan yang lain hanya harus mendukung. Dan ini, buat dedek." ucap Syifa, dengan memberikan amplop berisi uang yang cukup banyak.


"Fa, banyak banget." tatap Fina dengan penuh haru.


"Ngga papa, buat beli pampers, susu dan yang lain. Aku pamit pulang, takut Mas Bagas kelelahan." balas Syifa.


Mereka pun saling berpelukan, dan Syifa mengajak Bagas kembali pulang kerumah, tanpa pamit lagi dengan By Yana.


"Temenmu, hampir sama kayak aku, Fa. Selalu dipaksa, melakukan apa yang tidak diinginkan." ujar Bagas.


Bagas kembali meraga lengan Syifa, ingin mencubitnya, tapi Syifa berhasil menghindar untuk kali ini.


" Yeeey, ngga kena.... "ucapnya girang.


Bagas hanya bisa memonyongkan bibir, dan menatap kesal kedepan.


" Awas kamu." batinnya.


Sampai di rumah, motor butut Pak Abu pun telah bertengger di teras. Pertanda beliau sudah pulang. Aroma rebusan bakso pun sudah tercium begitu sedap hingga keluar rumah. Hingga memancing rasa lapar Bagas seketika.

__ADS_1


"Fa...." panggilnya.


"Iya, Ifa tahu. Waktunya makan juga. Kita lihat dulu, Ibu masak apa." ucap Syifa.


Mereka pun masuk, dan langsung menuju dapur menemui Pak Abu.


"Eh, kalian udah pulang. Sana makan dulu, Ibu udah masak. Ayah mau mentolin ini dulu." ucapnya.


"Sini, Bagas. Udah Ibu masakin. Tapi ngga tahu, kamu doyan apa engga. Ibu banyak kok, masaknya. Ada sop juga." sambung Bu Mariam, yang sedang mengupas telur rebus.


"Wuiiiih, rendeng jengkol. Ifa jadi laper. Tapi, suapin Mas dulu deh."


Syifa lalu mengambil piring, mendinginkan nasi dan mengambil beberapa lauk untuk Bagas. Tiba pada rendang jengkol, Bagas menggelengka kepalanya.


"Ngga doyan?" tanya Syifa. Dan Bagas kembali menggelengkan kepala.


Syifa mulai menyuapi Bagas dengan sop dan sedikit sambal buatan Ibunya. Terasa begitu nikmat, dan Bagas begitu lahap memakannya.


"Kenapa ngga suka jengkol? Padahal, rendang jengkol buatan Ibu itu nikmat? Ah, menurut Ifa, lelaki yang tak suka jengkol itu, lemah." cibir Syifa pada suaminya.


"Lemah kau bilang? Hey, aku hanya memikirkan mu yang harus mengantarku bolak balik ke kamar mandi. Apalagi aromanya nanti. Jika tidak, aku akan lebih lahap memakannya dari pada kamu, Fa." batin Bagas, dengan melirik kesal istrinya itu.

__ADS_1


__ADS_2