
"Non...?"
"Iya, Minah_kenapa?"
"Maaf, mau nanya. Non ngga risih gitu, harus ngurus Tuan Dua puluh empat jam, dari bangun sampai tidur lagi? Maksudnya, Non kan orang asing meski sekarang istri Tuan." ucap Minah panjang lebar.
"Saya udah biasa, karena basic saya perawat. Status pernikahan, memang di buat agar saya merawat tanpa adanya batasan. Sehingga, semua dapat saya lakukan dengan bebas. Bersentuhan, memandikan, dan semuanya." jawab Syifa.
Minah hanya mengangguk, dan Ia mulai faham semuanya. Tapi, seperti yang dikatakan Bik Darmi, jika harus mendoakan mereka yang terbaik.
Syifa diperlakukan sebagai Nyonya di rumah itu. Semua tunduk dan melayani nya dengan baik. Mama Ayu pun meminta agar tak membedakan Syifa dengannya. Meski statusnya hanya istri kontrak.
Syifa harus terus fokus pada Bagas, tak boleh meninggalkan, atau mengabaikan terlalu lama. Apalagi, organ dalam pencernaan Bagas belum berfungsi dengan baik. Tahu 'kan, maksudnya?.
Syifa yang lelah tidur dan duduk, lalu membanti Minah untuk mencuci piring. Sementara, Bagas kembali tidur setelah minum obat.
"Biar saya aja, Nona' kan jagain Tuan muda."
"Ngga papa, saya pegel duduk terus. Mau pijitin, nanti malah bangun." ucap Syifa, dengan menatap Bagas yang pulas.
__ADS_1
"Biarin lah, nanti sore mau ajak jalan keliling kompleks. Kasihan, di rumah terus." imbuhnya.
Syifa lalu beralih untuk menyapu dan mengepel lantai rumah besar itu. Terasa lelah, tapi Ia suka karena berkeringat. Namun, Mama Ayu pulang dan tampak tak suka ketika Syifa melakukan hal itu.
" Siapa nyuruh kamu nyapu sama ngepel?" tanya Mama Ayu dengan nada tinggi.
"Ng-ngga ada, Ma. Ifa cuma pengen gerak, aja. Capek duduk sama tidur, kan Mas Bagas lagi nyenyak." ucap Syifa, menundukkan kepalanya.
"Kamu menantu saya, saya suruh kamu buat Bagas. Bukan buat jadi Babu. Kalau Bagas tidur, ya kamu istirahat, jangan kerjain yang lain. Saya ngga mau, ketika tengah malam Bagas butuh kamu, tapi kamu kecapean." omel Mama Ayu panjang lebar.
"Ma-maaf, Ma." ucapnya lirih.
Mama Ayu pun langsung menghampiri Bagas, yang rupanya terbangun oleh siara huru-hara yang barusan lewat.
"Bagas bangun, sayang? Maafin Mama, ya? Mama omelin Syifa tadi. Mama ngga mau, kalau Syifa kelelahan. Takut ngga fokus ke kamu nanti." ucap Mama Ayu, dengan mengecup kening Bagas.
"Ma-Ma...." panggil Bagas, dengan begitu lirih tapi jelas.
"Iya sayang, ini Mama. Panggil lagi, Nak... Mama begitu bahagia mendengarnya." peluk Mama Ayu dengan erat.
__ADS_1
Ia serasa de javu, pada saat Bagas mengucapkan kata pertamanya ketika Bayi dulu. Pada saat itu, Mama Ayu hanya dapat mendengarnya melalui telepon. Karena Ia sedang ada di luar kota dengan bisnisnya, dan Bagas bersama sang nenek.
"Mama, dulu telah melewatkan moment seperti ini ketika kamu balita, Nak. Maafkan Mama, karena menangis haru ketika moment ini terulang dalam keadaan seperti ini." ujarnya.
Ia berharap, ucapan itu sebagai salah satu pertanda Bagas mengalami kemajuan dan akan segera sembuh.
" Tapi, baru kata itu aja. Kita ngga bisa memaksa untuk berucap lagi, karena akan menimbulkan tekansn pskikis nantinya." ucap Syifa.
" Ya... Seperti ini pun sudah bahagia. Ikuti saja alurnya, biarkan sebagaimana mestinya. Mama, akan sabar menunggu kamu sembuh, meski diri kami sendiri tertatih untuk itu semua."
Mama Ayu kembali menyerahkan Bagas pada Syifa. Ia hanya pulang sebentar untuk membersihkan diri dan menengok sang putra, lalu Ia pergi lagi demi semua pekerjaannya.
" Mas, mandi? Sudah sore, sekalian kita buka urine bagnya."
Mata Bagas berkedip, lalu dari bibirnya terucap kata "Ya..."
Syifa kembali memindahkan Bagas ke kursi rodanya, lalu membawanya ke kamar.
"Lihat, Mas... Bentar lagi aku punya otot kayak Mas. Saingan kita." ucap Syifa, dengan memamerkan lengannya.
__ADS_1