Suamiku Pria Lumpuh

Suamiku Pria Lumpuh
Dia, Ayahku.....!


__ADS_3

Reza membawanya mundur dari Bagas, hingga mereka terjatuh bersama kebelakang dan Om Edward menimpa putranya.


"Aaakkkkhh!" lirih Reza, yang tubuhnya dipenuhi memar.


Om Edward tampak masih begitu kuat. Ia berdiri lagi dan menatap Reza dengan tatapan yang lebih tajam dari biasanya.


"Apa, mereka memberi Papa obat lagi?" tanya Reza.


"Ya... Yang mereka beri, adalah yang terbaik. Bukan dengan obat pemberianmu, yang membuatku selalu tidur. Kau lah, yang ingin meracuniku!" sergah Om Edward.


"Jangan, Pa.... Itu merusak Papa.".


"Bohong! Kenyataannya, aku sehat. Berhenti memfitnah orang yang memihakku!"


Om Edward kembali memukuli Reza bertubi-tubi. Begitu perih, ketika Bagas melihatnya tanpa dapat melakukan apapun.


Kali ini Ia menangis, memukuli kakinya sendiri yang hingga sekarang tak kunjung dapat bergerak.


" Ayolah... Aku mohon, kali ini saja..." ucap Bagas dalam tangisnya.


Ia pun turun dari kursi, mencoba meraih Reza untuk sekedar melepaasnya dari sang Papa. Tapi, geraknya terlalu lama.


"Zaaaa!!" panggilnya, dengan mengulurkan tangan.


Reza hanya tersenyum terkapar, membalas lambaian Bagas. Tanpa Ia sadari, sang Papa mengambil pisaunya kembali yang jatuh dari lantai.

__ADS_1


"Bagas! Enyah kau!" ucap Om Edward, berusaha berdiri menghampiri Bagas di hadapannya.


"Papaaaaa... Jangan!" Reza menarik tangan Papanya, lalu memeluk. Tanpa Ia perhitungkan, pisau itu justru menusuk dirinya sendiri.


"Aaaaakkkh! Pa-Pa...." tatap Reza pada Om Edward yang hanya bisa diam tak percaya.


"Reza! Kau, nekat." lirihnya.


"Rezaaaa!!! Pekik Bagas, dengan air mata yang menganak sungai.


" Aaaaaaaaaaarrrrrrggghhhh!! Berengsek!" Bagas memekik dengan begitu kuat.


Ia menghampiri Om Edward, mendorongnya kuat dari sisi Reza yang mulai pucat. Hingga Omnya itu terbentur di dinding papan rumah itu.


"Bagas... Loe, barusan lari?" tanya Reza, yang tatapannya meremang.


"U-udah, jangan fikirin itu. Secepatnya, gue bawa Loe ke Rumah sakit." ucap Bagas.


Bagas berusaha menggendong Reza, meski sebenarnya masih terasa nyeri di bagian pinggang dan kaki yang masih tremor. Tapi, Om Edward menarik tubuhnya hingga terpental kebelakang..


" Bagasss... Dia, dalam pengaruh obat." lirih Reza, menahan rasa sakitnya.


"Bajingan! Kenapa kau lari? Kenapa? Kau ingin sembuh? Tak akan ku biarkan!"


Om Edward kembali berusaha menyerang Bagas. Memukul, dan menyerang bagian intinya yang Ia ketahui masih merasa sakit. Tapi, Bagas melawan.

__ADS_1


Bagas begitu emosi saat itu. Ia pun menyerang tubuh Om Edward bertubi-tubi dengan bogemnya.


" Ini, untuk Kakek. Ini, untuk Syifa. Dan ini, untuk Reza!" ucap Bagas.


Om Edward tampak lemah, tapi tangannya masih belum bisa berhenti. Hingga Reza, akhirnya melerai.


"Bagaaaaas! Jangan, Gas. Itu... Itu Ayahku, Gas. Jangan." ucapnya lemah.


Bagas berhenti, setelah memberikan pukulan terakhirnya. Ia kembali menghampiri Reza, berjalan tertatih, berlutut Memeluknya erat, berusaha lagi untuk mengangkat tubuhnya yang telah basah dengan cairan merahnya.


"Emangnya, Loe kuat?" tanya Reza, yang masih saja bisa meledek.


"Berhenti bicara, Loe akan banyak kehabisan darah." sergah Bagas, disisa tenaga.


Dua orang itu pulang, dan begitu terkejut dengan keadaan.


"Apa-apaan ini? Edward, bangun!" pinta Tante Viona yang menghampiri adik sepupunya itu.


Om Aldo mengambil sebuah kayu. Ia menatap Reza, dan Bagas yang tampak setengah berdiri.


"Kau! Tak akan aku biarkan kau sembuh!" lantangnya. Tapi, Papa Erland menghampiri dan menarik tangannya hingga kayu itu terjatuh.


"Bagas, maaf kan Papa yang sangat telat ini." sesal Papa Erland.


Nb: Jadi, setelah Reza pergi itu, Syifa langsung bersisihin diri. Dia langsung shalat, dzikir mendoakan mereka semua. Dia lupa, kalau di Hp Bagas ada pelacak yang terhubung ke Mobil Reza. Gunanya, buat nyari Reza dulu, waktu masih suka berkeliaran kemana-mana. ✌️✌️

__ADS_1


__ADS_2