
Di perusahaan, mereka telah kembali pada aktifitasnya masing-masing. Reza tengah mewakili Bagas yang rapat di dalam kantor, sedangkan Bagas mengajak Syifa rapat di luar kantor seperti biasa. Hari senin, adalah hari yang begitu sibuk bagi semuanya. Bukan hanya Atasan, tapi juga bagi bawahan.
Bagas turun dari mobil, baru saja pulang dari sebuah restauran mewah tempat pertemuannya. Seorang satpam membukakan pintu untuk Syifa, dan Bagas langsung menghampirinya untuk berjalan bersama. Genggaman tangan itu, tak pernah lepas meski hanya sejenak.
"Rapatnya di restaurant terus? Ngga ada tempat lain?" keluh Syifa.
"Kenapa, sayang? Ngga suka?"
"Suka banget, tapi masalahnya pola makan jadi ngga terkontrol. Lihat nih." tunjuk Syifa pada lipatan dilengannya.
Bagas hanya tersenyum, lalu mengusap lengan itu dengan lembut.
"Nanti, kalau ditinggal di rumah makin kurus." bisiknya pada sang istri.
"Iya, kurus. Kepikiran, Mas rapat sama siapa? Sama laki-laki, atau sama perempuan. Apalagi, kalau keluar kota, ketemu banyak client cewek yang cantik-cantik. Bikin kurus."
"Jadi, mendingan mana?" goda Bagas, yang melingkarkan lengan ke pinggang sang istri. Ia pun sesekali iseng, mencubit perutnya yang mulai kenyal.
"Ish, nakal." sergah Syifa, menyingkirkan lengan itu darinya.
Bagas hanya tersenyum gemas, menatap wajah sang istri yang tampak kesal padanya. Tangannya pun tak diam, mencubiti pipi Syifa agar kembali tersenyum dengan manisnya.
***
__ADS_1
"Permisi, Pak. Saya mau membersihkan ruang rapat." pamit Olin, pada Reza yang ada di dalam ruangan itu.
"Baik, silahkan." ucap Reza, yang fokus dengan laptopnya.
Mereka berusaha prosfesional di ruangan itu, meski hati Reza seakan tak dapat terjaga lagi. Apalagi, Olin selalu ada di hadapannya dan mengganggu fokus dirinya.
"Olin?" panggil Reza.
"Ya, Pak? Ada apa?"
"Bolehkah, saya bertemu orang tua kamu?"
Olin mendelik, Ia begitu tercengang dengan ucapan yang Reza berikan.
"Jika tak ingin menjadi pacar, bolehkah saya menikahi kamu?"
"Pak, jangan bercanda. Ini di kantor, dan saya sedang dalam pengawasan." tegur Olin padanya.
"Saya tahu, tapi saya juga serius, Olin. Saya ngga main-main dengan ucapan saya. Mungkin, kalau pacaran, kamu fikir saya hanya mempermainkan atau memanfaatkan kamu, benarkah?"
"Bukan Bapak yang memanfaatkan, tapi saya yang akan di cap tak tahu diri. Pak, saya hanya pegawai rendahan, kita ngga pantas."
Olin kemudian membereskan semua perlengkapannya. Ia lalu pergi, dan berlari untuk kembali ke ruangannya.
__ADS_1
"Lin, Olin... Tunggu!" teriak Reza padanya.
Tapi Olin tak menggubrisnya, dan terus berlari tanpa pernah menoleh ke belakang lagi.
"Za! Kenapa?" panggil Bagas, yang tepat berselisih jalan dengannya.
"Ehm, anu... Ngejar Olin." jawab Reza, tampak canggung.
"Kenapa di kejar-kejar? Makin takut lah, kalau di gituin." tanya Syifa.
"Ya, gimana? Serba salah karena dia selalu lari, Fa. Bingung aku nya."
"Udah, diemin dulu. Nanti Ifa bantu ngomong ke dia, supaya ngga ada salah faham. Ifa mau tahu, apa yang barusan terjadi sama kalian."
Syifa pun menggandeng tangan Reza, lalu membawanya ke ruangan Bagas. Ia mulai mempertanyakan apa yang terjadi, hingga Olin tampak begitu tergesa-gesa untuk kabur darinya.
" Aku ngga ngapa-ngapain, aku cuma bilang kalau... Aku mau lamar dia." jawab Reza.
"Bisa kah sabar? Aku yang akan membawamu padanya. Tunggu, sampai kita punya waktu dan mengajak nya bicara, Za."
"Maaf, Aku hanya memanfaatkan moment tadi. Ketika aku dan dia berada dalam satu ruangan yang sama." jawab Reza, dengan segala penyesalan yang ada.
Mampir kekarya sahabatku Gaes. 😘😘
__ADS_1