
Di kehamilan yang semakin besar, Syifa tak diizinkan kemana-mana. Ia dituntut selalu istirahat dirumah dan menunggu kelahiran bayinya. "Tapi bosen," keluhnya pada Bagas.
Bagas hanya tersenyum, menaikkan sedikit celananya dan berjongkok di hadapan Syifa. Tangannya mengelus perut, dan beberapa kali mendaratkan kecupan pada nya. "Hey, tak usah bosan. Daripada nanti, kalau ikut pergi malah ada apa-apa, bagaimana?"
"Ngga papa, Ifa sehat kok. Kan, pakai kursi roda." bujuknya.
Bagas hanya menggeleng dan kembali berdiri. Ia meraih ponsel dan menghubungi Ali untuk menanyakan jadwalnya hari ini. "Tak terlalu sibuk. Hanya beberapa rapat, itu pun di kantor. Tak ada jadwal keluar hari ini." jelas Ali.
"Tuh, katanya ngga sibuk." balas Syida. Bagas hanya memijat pelipis, dan mengangguk menuruti semua ingin istrinya. Syifa bersorak, lalu berdiri dengan semangat untuk mengganti pakaiannya dengan rapi.
"Aku mohon, agar tak ada drama tak punya baju, pagi ini. Ingat, bajumu sudah Tiga lemari besar, bahkan lebih." pinta Bagas padanya.
"Iya, udah dapet. Tapi bantuin pakai," rengek Syifa. Bagas kembali mendengkus nafas kesal, dan menghampiri sang istri dengan pakaiannya. Sebuah dres pink, dengan blezer kotak-kotak berwarna abu-abu. Rambutnya pun di ikat dengan rapi, semakin memperlihatkan wajahnya yang mulai cubby.
"Udah? Ayo berangkat. Sudah banyak yang menungguku disana." gandeng Bagas pada istrinya. Mereka berjalan keluar, menuju mobil yang terparkir rapi di garasi. Hanya tinggal memilih, mana yang mereka suka dan inginkan.
__ADS_1
Mereka tiba tepat waktu. Disana, Ali bahkan menyambut mereka dengan kursi roda yang memang di sediakan Bagas untuk istrinya. "Mari, Bu." Ali mempersilahkan Syifa untuk duduk disana dan akan mendorongnya hingga ketempat tujuan.
"Jalan aja, biar makin sehat." Syifa menolak kursi roda itu, dan terus berjalan meninggalkan mereka semua. "Sayang! Hey, ngga boleh begitu. Nanti kamu kecapean." tegur dan panggil Bagas padanya.
"Engga, Mas. Ayo, katanya sibuk hari ini?" Syifa yang aneh, justru memilih menaiki tangga yang banyak daripada menaiki lift.
"Mami, makin aktif ya, Pi?" bisik Ali pada bosnya.
"Ya, seperti itulah istriku. Ayo, segera bekerja. Cepat selesai, cepat pula aku bisa mengawasinya." tarik Papi pada sekretarisnya.. Mereka menyusul dengan cepat, menghampiri Syifa yang telah tiba di ruangan Bagas. Ia duduk, dan meluruskan kaki. Tak lupa memijatnya sedikit karena pegal. Bagas menghampiri dan meraihnya, tapi ditolak. "Udah sana, rapatnya dikerjain."
"Iya," Syifa mengusap pipi Bagas, meraih tangan dan mencium telapak tangannya dengan hangat. Bagas pun pergi, bersama Ali untuk melakukan rutinitas mereka seperti biasa.
*
Hampir Dua jam, Bagas keluar. Syifa masih duduk dengan membaca bukunya. Tapi, tak lama kemudian Ia merasakan sesuatu di perutnya. "Astaghfirullah, kok sakit? Apa mau ke kamar mandi, ya?" Syifa segera berdiri, masuk ke kamar mandi karena mengira ingin buang air besar.
__ADS_1
"Aah, tapi makin mules. Aduh, gimana?" keluhnya. Ia telah keluar, dengan mengelus perutnya yang makin sakit. Memanggil seseorang untuk memanggilkan Bagas untuknya.
"Ibu, kenapa?" tanya Lili, salah seorang staf disana.
"Li, cariin obat dong. Saya mules, perutnya ngga enak." pinta Syifa padanya.
"Lah, Ibu? Jangan-jangan mau lahiran?"
"Ngga mungkin, perkiraan masih bulan depan."
"Ya ampun, Ibu... Namanya perkiraan, bisa maju bisa mundur." ucap Lili padanya.
"Iya? Nanti ah, tunggu Bapak aja. Tolong panggilin deh."
Lili memepah Syifa masuk ke ruangan lagi. Tampak mulai pucat, dan mulai berkeringat.
__ADS_1
"Ibu tunggu disini, saya panggilin Bapak." Lili meninggalkannya, dan Syifa kembali merebahkan diri disofa yang tersedia disana.