
"Udah, lepasin dulu itu orang. Ifa laper." tukas Syifa.
Bagas lalu melepas cengkramannya. Lalu, beberapa Bodyguardnya mengambil alih tugas menahan pria itu.
"Bawa keluar. Nanti kita urus dia lagi." titah Bagas.
Semua menurut. Mereka meninggalkan keduanya untuk makan siang.
"Ifa ketiduran, abis beberes. Maaf, ya?" sesal Syifa.
"Ngga papa. Masih bisa tahan laper. Asal, jangan di tahan ngga ketemu setahun aja."
"Emang, setahun mau kemana?"
"Perumpamaan, sayang." ucap Bagas, dengan mencubit pipi istrinya.
Makan siang di mulai. Bagas begitu mesra menyuapi istrinya yang sudah tampak kelaparan. Meski Ia sendiri juga begitu lapar sebenarnya.
"Udah, Mas lanjut aja."
"Ini masih banyak. Nanti laper lagi?"
"Kalau laper, minta beliin Olin. Eh, dia mana?" tanya Syifa.
"Sebentar lagi datang. Dia bertugas membersihkan ruangan ini tiap sore."
__ADS_1
Syifa lalu meraih pena dari saku Bagas. Ia kemudian menuliskan alamat rumahnya, dan meletakkan kertas itu di atas meja. Dan menulis tanda Untuk Olin di sana.
"Buat apa?"
"Buat Olin lah. Siapa tahu, dia mau jenguk tapi ngga tahu rumahnya. Makanya Ifa kasih tahu."
"Masa cewek, suruh nyamperin cowok? Mana mau dia."
"Nyatanya, waktu itu Ifa yang mau nikah sama Mas Bagas. Bukan Mas Bagas yang lamar Ifa, buat jadiin istri." tukasnya.
Bagas hanya diam seribu bahasa. Lagi-lagi Humairahnya menang, dan Bagas tak. Mampu menjawab lagi. Meski sebenarnya, jawaban ada di dalam kepala.
"Iya, Ifa menang." lirik Bagas dengan tajam.
Mereka berdua keluar dari ruangan. Bagas menggandeng tangan Syifa dengan erat, tanpa pernah lepas sedikitpun. Semua orang menatapnya kagum, seolah menatap gunungan batu es yang mencair oleh kehangatan mentarinya.
Ya, semua orang di kantor tahu bagaimana Bos nya itu.
"Bahagianya, melihat senyuman damai itu." ucap salah seorang karyawan.
"Percayakah, semanis itu hanya dengan Nyonya tercinta? Kenyataannya, baru saja Ia nyaris membunuh orang barusan."
"Ya, untung saja istrinya datang. Amarahpun, berganti senyum yang begitu manis." sambung yang lain.
Bagas dan Syifa telah ada di mobil. Mereka pun pulang dan siap memperhatikan sang adik kecil di rumah. Syifa menceritakan pasal keinginan Reza, dan berat bagi Bagas untuk membiarkannya pergi.
__ADS_1
***
Dua keluarga besar berkumpul. Mereka makan malam bersama dengan canda tawa yang lepas. Menu semakin nikmat, ketika Gibran membawakan bakso untuk mereka semua.
"Kenapa ngga makan?" tanya Bagas pada Reza
"Aku, merasa sepi dalam semua keramaian. Terasa kosong, meski banyak yang mengisi. Hari-hari ku, semakin gelap tanpa cahaya." Kumatnya Reza, dengan memainkan makanannya di piring.
"Assalamualaikum..." ucap seorang wanita di depan pintu.
Reza menoleh, karena merasa mengenal suara itu.
"Olin?" tatapnya takjub.
"Eh, Olin? Masuk sini, kita udah nunggu daritadi." ajak Syifa, menghampirinya dengan ramah.
Olin perlahan masuk meski malu-malu. Ia ikut bergabung bersama yang lain di meja makan. Tak lupa menyapa Reza, yang mengembangkan senyum seluas samudera untuknya.
"Pak Reza, apa kabar?" tanya Olin.
"B-baik, Olin. makasih, udah datang kemari untuk jenguk saya." jawab Reza.
"Iya, Ibu yang undang tadi sore. Katanya, suruh kesini."jawab Olin, dengan jujur.
Reza menunduk, rupanya Olin datang bukan karena dirinya melainkan undangan. Seketika, semangatnya memudar. Ia pun memajukan bibir, dan kembali memainkan makanannya.
__ADS_1