
Syifa pun tersenyum, meraih tangan suaminya lalu berdiri. Merek menuju tempat dansa. Syifa merangkul leher Bagas, dan Bagas merangkul pinggang Syifa dengan senyum mereka di bibir masing-masing.
Gerakan sederhana, dari dua insan yang tak bisa berdansa. Tapi, aura mereka cukup menjadi pusat perhatian semua orang. Mengalahkan sang pemilik pesta.
"Semua menatapmu." bisik Bagas.
"Menatap kita. Bukan hanya aku."
"Jelas kau, karena yang menatap semua pria. Menatap kecantikan istriku yang tiada duanya."
"Jangan gombal, nanti ikan fugunya ngembang."
Mereka begitu menikmati alunan musiknya. Begitu merdu dan mendayu-dayu. Begitu nyaman, hingga Syifa dengan tenang menyandarkan kepalanya di pundak Bagas.
"Nanti di pesta kita, buat begini juga ya?" pinta Syifa.
"Apa yang tidak untukmu. Hanya saja...."
"Apa?" tanya Syifa.
"Kasihan adik kecil kita." ledek Bagas dengan tawa renyahnya.
"Jahat, malah ngeledek adeknya." cubit Syifa di dada sang suami.
__ADS_1
Senyum Syifa, tawa Syifa, bahkan kedipan matanya. Begitu menggemaskan. Apalagi, ketika berdandan seperti ini. Meski sudah dilapisi oleh Bagas dengan jasnya, tapi kecantikkan nya masih terlihat dengan begitu jelas. Bagas hanya menatapnya dengan rasa kekaguman yang begitu besar.
" Tuan Bagas... Boleh saya bicara?" sapa seorang teman.
"Bagaimana?" lirik Bagas pada Syifa.
"pergilah, Ifa disini. Ngga akan kemana-mana."jawabnya.
Bagas pun pergi, karena memang mereka ada keperluan bisnis. Syifa pun dengan santai berdiri, menikmati suasana dengan segelas minuman yang diberikan pelayan padanya.
"Terimaksih." ucap Syifa padanya dengan ramah.
Pelayan itu pun pergi, meninggalkan Syifa yang beranjak naik ke sisi kolam renang di tengah ruangan pesta.
"Hay, suka dengan suasana pesta?" tanya seorang pria pada Syifa.
"Begitu juga denganmu, begitu memanjakan mataku."
"Maksudnya?" tanya Syifa, memicingkan matanya.
"Ya, saya daritadi melihat kamu, dan begitu terpsesona dengan kecantikan kamu. Meski sederhana, tapi benar-benar alami. Aku suka." puji Pria itu, dengan tatapan penuh ingin padanya.
"Maaf, saya sudah menikah. Dan yang berdansa dengan saya tadi, adalah suami saya." jawab Syifa, beranjak pergi dari pria.
"Hey, tunggu. Aku bahkan belum mengenal namamu." pegangnya di lengan Syifa.
"Tak perlu, maaf." Syifa berusaha pergi.
__ADS_1
"Kau terlalu sombong, Nona. Hanya dengan sedikit pujian saja, sesombong ini. Masih banyak yang lebih darimu."
"Maka dari itu, cari lah yang lain." jawab syifa, berusaha melepaskan genggaman tangan itu.
Pria itu tampak mabuk. Memang sedari tadi terus menatap Syifa meski sedang bersama Bagas. Tapi, Syifa tak pernah meladeninya.
Genggaman tangan itu makin erat, ketika Syifa semakin berusaha melepaskan. Semua orang melihatnya, namun tak ada yang berani melerai. Pria itu hampir sejajarĀ dengan Bagas, seorang Ceo muda di perusahaan ternama. Salah tindakan, bisa jadi menghancurkan orang yang menentangnya.
"Lepas, atau saya teriak!" ancam Syifa.
"Bahkan yang melihat kita, tak berani melerai. Siapa yang kau harapkan? Suamimu?" godanya.
Syifa terus berusaha melepaskan tangannya. Terasa sakit, bahkan air matanya keluar. Begitu keras Ia berusaha..
"Mas, tolong...." pekiknya lirih, menahan perih.
Pertahanan pria itu benar-benar kuat, bukannya goyah, justru Syifa yang kehilangan keseimbangan. Ia pun terpeleset, lalu tercebur di kolam renang yang tepat ada di sampingnya.
Byuuuurrr!! Semua menatap kaget. Hanya pria itu, tetap diam tanpa menolong sama sekali.
"Bukan aku yang menjatuhkanmu." ucapnya.
Seorang wanita turun, menceburkan dirinya ke kolam renang. Ia segera meraih Syifa, dan membawanya ke pinggir untuk di naikkan.
"Ifa, kamu ngga papa?"
"Ngga papa, Mba. Makasih." jawabnya, pada Luna yang basah kuyup.
__ADS_1